Tanggal 19 Desember 2019, short course Sekolah Kebudayaan dan Kemanusiaan Buya Ahmad Syafii Maarif (SKK-ASM) periode 3, berakhir. Aku sebagai salah satu peserta SKK-ASM 3 ini merasa tidak "merasakan" apa-apa.

Maksudku, aku belum mendapat apa-apa, karena aku merasa masih sangat bodoh. Aku masih ingin mendapatkan tambahan Ilmu dan pengetahuan dari pemateri-pemateri yang sangat keren dan kekinian itu, baik materi tentang Indonesia hari ini dan materi tentang pemikiran Buya itu sendiri.

Lagi pula, pemikiran Buya itu sangat kompleks dalam berbagai bidang, yaitu kebudayaan, kemanusiaan, keislaman, dan keindonesiaan. Aku harus mengerti satu per satu. Untungnya, beberapa pemateri memang disiapkan untuk memberitakan pada kami tentang pemikiran-pemikiran Buya. Dan bagaimana kedekatannya dengan Buya sehingga menjadi bagian dari kegiatan ini.

Di sekolah Maarif ini, pemateri-pemateri yang mengisi berasal dari para cendekiawan dan intelektual Indonesia, sebut saja seperti Prof. Musdah Mulia, Prof. Ruhaini Dzuhayatin, Prof. Amin Abdullah, Prof. Azyumardi Azra, Prof. Sumanto Al Qurtubi, Romo Dr. Haryatmoko, dan lain sebagainya.

Kegiatan ini terlalu cepat berlalu atau waktu yang terlalu cepat pergi meninggalkan. Rasanya, baru kemarin kami mengikuti seleksi wawancara dan presentasi kemudian dinyatakan lulus. Sehingga, kami masih ingin belajar dan masih ingin bersama dengan teman-teman yang merupakan bagian dari aset "kekayaan" sumber daya manusia dari seluruh Indonesia.

Di hari terakhir ini, ketika "Kepala sekolah" kami, Pak Shofan, Koordinator SKK, bertanya pada kami tentang kegiatan ini, aku sangat setuju pendapat dari Ais, seorang gadis manis yang cerdas dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Intinya, ia mengatakan bahwa apa yang telah kami peroleh, atau dapatkan, dan apa yang nanti kami bisa berikan pada "Maarif"?

Dari, Untuk, Oleh Maarif

Apa yang telah kami peroleh dari Maarif? Dan apa yang kami bisa berikan bagi Maarif?

Awalnya, ketika kami masuk seleksi yang diterima tes wawancara dan prensentasi, kami diberikan semangat dari Maarif Institute. Mereka mengatakan bahwa kami merupakan "Manusia-manusia pilihan Maarif". Kami merupakan tamu-tamu Maarif yang akan belajar tentang pemikiran Buya seperti tema SKK-ASM 3 kali ini: "Membumikan Pesan-Pesan Keislaman, Kemanusiaan, dan Kebangsaan (Buya) Ahmad Syafii Maarif dalam Konteks Pemikiran Islam dan Keindonesiaan Kontemporer".

Mungkin, dengan harapan, program ini akan membuat kami sebagai generasi muda Indonesia memiliki perspektif, sikap, dan pendirian yang relatif sama dalam memotret dinamika perubahan, dan perkembangan kehidupan keberagaman di Indonesia. Kegiatan ini juga merupakan momentum bagi generasi muda Indonesia untuk menjadi bagian dari pemecah masalah, problem solver, berbangsa dan bernegara. 

Apalagi, sejak dulu, Maarif Institute telah berkomitmen menjadi lembaga penggerak pembaruan pemikiran dan advokasi berbasis praksisme Islam untuk Indonesia dan kemanusiaan. Nah, setelah terpilih, kami (akan) berusaha semaksimal mungkin mengerti dan menuliskan, (apalagi) mengaplikasikan pemikiran Buya Ahmaf Syafii Maarif dalam bingkai Indonesia hari ini. 

Seperti falfasah Maarif Institute; egaliter, non-diskriminasi, toleran, dan inklusif dengan menuliskannya dalam makalah. Baik dalam makalah wajib, yaitu menulis tentang pemikiran Buya itu sendiri, maupun dalam makalah pilihan sesuai tema yang telah kami pilih.

Sehingga, apa yang kami peroleh yaitu ilmu-ilmu "kemaarifan" akan kami tuliskan sebagai kontribusi yang akan kami berikan bagi Maarif, sekaligus menjadi agent of change yang akan menyebarkan pesan kebudayaan, kemanusiaan, keindonesian, dan keislaman "kemaarifan" di mana-mana. Apalagi, kami merupakan anak-anak ideologis Maarif.

Apalah Arti Pertemuan tanpa Perjumpaan?

Namun, ketika Abd. Rohim Gozali, Ketua Maarif Institute, mengatakan, "ada yang menyesal tidak ikut sekolah Maarif?" Tiba-tiba seorang teman, Mas Mus, yang nyeletuk bahwa dia menyesal. Dia menyesal karena tidak bertemu langsung dengan Buya.

Aku juga sependapat dengan teman tadi, karena alasan pertamaku mengikuti SKK-ASM adalah ingin bertemu, melihat Buya secara langsung. Namun, karena satu dan lain hal, Buya tidak bisa hadir di tengah-tengah kami.

Apalah arti "pertemuan" tanpa "perjumpaan"? Seperti halnya orang yang bertamu ke rumah seseorang yang tidak bertemu dengan orang yang ingin dijumpainya. Seperti halnya orang yang saling merindukan, namun hanya dapat bertemu di media sosial, misal via video call. Yah, tidak "puas".

Atau seseorang yang telah masuk dalam surga-Nya, namun tidak berjumpa, melihat "wajah Tuhannya". Padahal, melihat wajah Tuhan merupakan anugerah yang tak terhingga, sesuatu yang paling tinggi di antara lainnya.

Tapi, aku tetap optimis, besok-besok akan bertemu dengan beliau. Mungkin ketika aku ke Jogja, atau dan di tempat lain dengan belajar langsung ide-ide dan gagasan-gagasan dari beliau, amin. 

Dan aku berharap, ke depan, sekolah Maarif tetap bisa menjadi jembatan pertemuan sekaligus perjumpaan Buya Ahmad Syafii Maarif dengan anak-anaknya yang mencintai pemikirannya dan dirinya. 

Akhirnya

Akhirnya, kami semua "diwisuda" dan dinyatakan sebagai alumni. Ada sedikit "beban" yang terasa di pundak, karena aku yang telah tahu "kemaarifan" akan membumikan pesan-pesan Buya Maarif. Namun, di sisi lain, aku menjadi sangat bangga dan berbahagia menjadi orang yang "bermaarif".

Terima kasih, Maarif. Terima kasih, Buya Ahmad Syafii Maarif atas pemikiranmu. Aku akan sangat merindukan sekolah ini; bukan hanya merindukan teman-temanku, namun juga pemikiran-pemikiran Maarif yang telah disharing di kelas dan dengan segera menuliskan apalagi merefleksikannya demi Indonesia.