Saya membayangkan hubungan pascapengkhianatan seperti rumah yang baru saja diterjang badai. Kita sering mengatakan badai pasti berlalu. Langit akan cerah setelah badai usai. Ya benar, tetapi setelah badai berlalu, kita tidak dapat hanya berdiam diri menyaksikan rumah yang hancur. 

Untuk beberapa waktu lamanya, kita mungkin hanya dapat termangu dan terisak. Tetapi selanjutnya, kita akan tersadarkan bahwa rumah yang rusak atau bahkan luluh lantak ini tidak akan tegak kembali kecuali kita memperbaikinya. 

Kita harus mulai melakukan sesuatu dengan menyingkirkan puing-puing bangunan yang runtuh, memungut pecahan barang-barang, membebaskan jalan dari pohon yang tumbang, dan lain sebagainya. Kita harus melakukan kegiatan “beres-beres” ini untuk dapat membangun kembali tempat tinggal kita. 

Seperti rumah yang habis diterjang badai, untuk dapat menjalani hubungan pascapengkhianatan, perlu adanya upaya pembenahan, upaya pemulihan. Pemulihan tidak dapat terjadi hanya dengan berlalunya waktu. Pemulihan perlu tindakan nyata, langkah-langkah konkret dari kedua belah pihak. 

Ya, kedua belah pihak, bukan hanya pihak yang tidak setia, tetapi juga pihak yang terluka akibat ketidaksetiaan pasangan. 

Bagi pihak yang dikhianati, hal ini terdengar tidak adil. Saya yang dikhianati, mengapa saya pula yang harus berusaha memperbaiki? Tetapi merawat dan memulihkan hubungan membutuhkan upaya kedua belah pihak. 

Dampak pengkhianatan pada pasangan yang dikhianati

Jika Anda pihak yang berkhianat, sebaiknya Anda memahami bahwa ketidaksetiaan Anda, apa pun faktor yang melandasinya, membawa dampak sebagai berikut pada pasangan Anda: 

Pertama, pengkhianatan merusak rasa percaya sehingga membangkitkan kecurigaan terus-menerus pada pihak yang dikhianati. Pihak yang dikhianati menjadi sensitif dengan sinyal-sinyal tertentu. 

Contohnya, jika sebelum pengkhianatan, pasangan pulang larut malam karena lembur tidak menjadi persoalan, maka pascapengkhianatan, hal ini dapat mengacaukan radar kepercayaannya.

Kedua, pengkhianatan merusak harga diri karena pihak yang dikhianati cenderung membandingkan diri dengan pihak ketiga. Akibatnya, ia akan meragukan cinta pasangan. Pertanyaan "Apakah kamu mencintaiku?" akan makin sering diajukan. 

Ketiga, pengkhianatan meningkatkan kepekaan memori. Hal-hal tertentu dapat membangkitkan ingatan mengenai peristiwa pengkhianatan. 

Misalnya, ketika pergi ke tempat-tempat yang kita tahu pasangan pernah berkunjung pula ke sana bersama pihak ketiga. Atau ketika melihat lawan jenis yang menyerupai pihak ketiga, rekaman pengkhianatan pasangan berputar kembali dalam ingatan. 

Keempat, pengkhianatan mengacaukan persepsi. Perbuatan positif yang dilakukan pasangan pun dapat membangkitkan kekecewaan pada pihak yang dikhianati. “Mengapa baru sekarang, mengapa setelah saya terluka baru ia bersikap sebaik ini kepada saya?” 

Selain itu, dalam hal perseptual, pengkhianatan memiliki daya microscopic. Kesalahan kecil akan tampak menjadi besar di mata pihak yang dikhianati.

Dampak pertama sampai keempat ini memunculkan dampak kelima: pihak yang dikhianati cenderung mengungkit kesalahan yang telah dilakukan pasangan. “Ya saya memaafkannya, tapi tidak dapat melupakannya.” 

Dalam pengungkitan ini, pertanyaan yang sama akan kembali diajukan, ”Mengapa kamu melakukan itu kepadaku? Apa salahku sampai kamu mengkhianatiku?” Apakah kamu mencintaiku? Jika ya, mengapa kau lakukan itu kepadaku?

Keenam, pengkhianatan membangkitkan keinginan untuk membalas. Pihak yang dikhianati dapat menjadi pihak yang berkhianat dengan tujuan membuat pasangan terluka agar merasakan hal yang sama seperti dirinya.

Apa yang harus dilakukan oleh pasangan yang berkhianat?

Hal pertama yang perlu dilakukan jika Anda berkhianat adalah mengambil tanggung jawab sepenuhnya atas pengkhianatan yang telah terjadi. Jangan mengaitkannya dengan kekurangan pasangan atau menyalahkan pihak ketiga sebagai penggoda. 

Kedua, memahami dampak pengkhianatan Anda terhadap kondisi emosi pasangan. Respons-respons di atas adalah wajar. Kerusakan sistem emosi pada pasangan Anda adalah di luar kendalinya. Ia pun tidak nyaman dengan kondisinya yang menjadi kacau seperti itu. Justru tugas Anda untuk membantu pasangan mengatasi dampak negatif itu.

Untuk itu, pandai-pandailah menangkap kebutuhan pasangan saat menampilkan respons-respons yang tidak menyenangkan. Ketika pasangan mengungkit, jangan melabel diri Anda negatif seperti, “Ya memang aku pengkhianat, aku tidak akan bisa baik lagi.” Bukan sikap seperti ini yang diharapkan pasangan. Jawaban seperti ini hanya membuatnya makin terluka. 

Saat mengungkit, pasangan hanya ingin diyakinkan bahwa Anda tidak akan melakukan perbuatan serupa.

Ketiga, Anda harus berjiwa besar dan bersikap ekstra sabar. Bukan tidak mungkin pasangan masih akan sesekali menampilkan respons-respons di atas meski peristiwanya telah lama berlalu. 

Keempat, rajin-rajinlah meminta maaf dengan tulus. Dalam hubungan pascapengkhianatan, permintaan maaf tidak cukup hanya sekali, melainkan harus setiap kali pasangan terluka ketika mengingat kembali peristiwa itu. Ia membutuhkan waktu untuk menyembuhkan luka hati. 

Kelima, menerima dan memahami bukan berarti pasrah terhadap semua kemarahan pasangan. Ada saatnya Anda perlu menyadarkan pasangan jika respons negatifnya sudah keterlaluan. Mintalah ia untuk menghargai usaha yang telah Anda lakukan dan ingatkanlah akan tujuan bersama untuk memperbaiki hubungan.

Apa yang sebaiknya dilakukan pihak yang dikhianati?

Dikhianati, bukan berarti Anda leluasa menampilkan respons-respons negatif kepada pasangan. Benar bahwa pasangan Anda telah melakukan kesalahan. Namun bukan berarti Anda pantas menghukumnya sepanjang sisa hidupnya bersama Anda. 

Berikut ini beberapa upaya yang dapat Anda lakukan: 

Pertama, bukan hanya pasangan Anda yang perlu memahami dampak pengkhianatannya terhadap Anda. Anda juga harus memahami dampak respons Anda terhadapnya. 

Jika memang pasangan sungguh merasa bersalah dan ingin memperbaiki hubungan, sikap mengungkit kembali malah akan membuat dirinya terus terpapar pada kesalahan yang ia lakukan. 

Hal ini dapat membuatnya merasa malu bahkan jijik pada diri sendiri dan seolah tidak dapat memperbaiki lagi. Sedapat mungkin, ia justru menghindari untuk mengingat kesalahannya, yang juga menjadi simbol kegagalan buatnya.

Kedua, berpikir positif dan hargai semua upaya yang telah dilakukan pasangan. Tinggalkan masa lalu, dan berfokuslah pada masa kini dan yang akan datang. Jangan berpikir dulu tidak bisa dan sekarang bisa. Justru lihatlah itu sebagai upaya yang dilakukan pasangan. Tidak mudah tentunya berubah menjadi lebih baik. Ketimbang menyesali, bersyukurlah ketika pengkhianatan membawa kebaikan.

Ketiga, buatlah kesepakatan dengan pasangan. Mintalah pasangan melakukan sesuatu saat Anda teringat kembali akan ketidaksetiaannya. Misalnya ia harus menggenggam tangan Anda atau memeluk Anda. Kesepakatan ini harus dijalankan. Jangan sampai meski pasangan melakukan sesuai kesepakatan, Anda tidak menghentikan sikap negatif.

Keempat, ingatlah kembali tujuan Anda semula saat memutuskan untuk melanjutkan hubungan. Rasa ingin membalas, mengungkit kesalahan pasangan, dan respons negatif lainnya malah akan membuat situasi memburuk. Tidak ada celah bagi pasangan untuk memperbaiki diri jika Anda hanya memancing pertengkaran demi pertengkaran. 

Tindakan-tindakan nyata ini memang tidak mudah, tetapi harus dilakukan jika memang kedua belah pihak mengambil keputusan untuk memperbaiki hubungan. Karena setelah badai berlalu, langit memang cerah, tetapi tidak serta membuat rumah yang hancur kembali berdiri tegak. Bersama, bangunlah kembali rumah Anda bahkan jadikan lebih indah.