Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membongkok dan minder harus dididik dahulu menjadi berkepribadian. Barulah kemerdekaan datang seperti buah durian yang jatuh karena sudah matang. - Y.B. Mangunwijaya dalam Burung-Burung Manyar (2014).

Secara sekilas melihat judulnya dikira Y.B. Mangunwijaya akan membawa pembaca pada petualangan seperti pada novel karya Mochtar Loebis, Harimau! Harimau!. Tapi, setelah membaca dan menikmati dari lembar ke lembarnya, ternyata buku yang berjudul Burung-Burung Manyar ini menceritakan pergulatan seorang manusia yang sarat dengan nilai-nilai kebijaksanaan, terutama pada tokoh utama, Setadewa.

Cerita ini dibagi menjadi tiga segmen: 1934-1949: Dari segmen cerita pertama, tokoh pertama: Setadewa (yang dipanggil Teto) dan tokoh kedua: Larasati (dipanggil Atik), diceritakan akan kedua keluarga yang harmonis. 

Walaupun pergaulan Setadewa (anak tunggal dari Letnan Brajabasuki dan Marice) dan Larasati (anak dari Hendraningrat dan Antana) sangat jauh berbeda. Setadewa selalu bermain dengan anak-anak lain kaum biasa, dengan berenang di lumpur tanpa mengenakan pakaian, sedangkan Larasati lebih menjaga jarak dengan kaum biasa, pergaulannya dibarengi ayahnya yang suka ke hutan, dan Larasati suka melihat dan mengenal flora-fauna dengan ayahnya itu.

1945-1950: Dari segmen cerita kedua, adalah segmen cerita Setadewa yang penuh dengan kegelisahan batinnya. Sebab, dia lebih memilih menjadi KNIL dikarenakan ingin balas dendam Setadewa kepada Jepang, yang sudah melenyapkan kedua orang tuanya, dan belum tentu informasi selanjutnya mengenai orang tua Setadewa tersebut. 

Di lain hal, pergolakan Setadewa memilih KNIL (Konin Klijk Nederlands Indisch Leger/Tentara Kerajaan Hindia Belanda) adalah karena melihat situasi materi Indonesia yang belum (memungkinkan) siap untuk merdeka menggunakan bambu runcing. Sedangkan saat itu Setadewa lebih rasional, bahwa ikut KNIL lebih menjanjikan karena mempunyai senjata modern untuk alat perang. Walaupun Setadewa merasa telah berkhianat atas tanah airnya sendiri.

Pergolakan lainnya mengenai asmaranya dengan Larasati, Setadewa merasa kecewa dengan keberpihakkan Larasati kepada Indonesia dengan menjadi sebagai sekertaris Perdana Menteri, Sutan Syahrir.

1968-1978: Dari segmen cerita ketiga, adalah di mana Setadewa bukan lagi seorang Letnan bintang 2 KNIL, melainkan seorang pakar komputer dari Harvard University dan bekerja di perusahaan Pacific Oil Wells Company. 

Dari segmen cerita ketiga ini, Setadewa bertemu Larasati dan pulang kembali ke Indonesia untuk semacam menembus dosa. Karena (Burung-Burung Manyar) sebuah roman, maka percintaan Setadewa kandas atas Larasati, Larasati sudah menikah dengan seorang pria baik hati, Janakatamsi.

Dan sebagai menembus dosanya, Setadewa secara kebetulan menguak kecurangan yang dilakukan oleh perusaan Pacific Oil Wells Company terhadap pemerintah Indonesia, yang merugikan Indonesia dalam perhitungan komputer yang dilakukan perusahaan tersebut.

Pesan-Pesan dalam Burung-Burung Manyar

Dalam roman Burung-Burung Manyar, secara tersirat memberikan semacam amanat ataupun sebuah satire untuk kehidupan manusia Indonesia. 

Pertama, Burung-Burung Manyar, makna ataupun metafor ini mengajarkan manusia untuk tidak berputus asa dalam menjalani kehidupan. Ketika ekspektasi manusia tidak sesuai, maka manusia harus bisa mengumpulkan kembali atom-atom ide untuk merangkai perjalanan hidup yang lebih baik lagi sesuai ekspektasinya. Seperti dalam narasi berikut:

Benar-benar ahli dan bersenilah mereka membangun sarang yang rapi serta bercitra perlindungan yang meyakinkan, itu (burung Manyar) jantan. Yang putri-putri hanya melihat saja dengan enak-enak santai, tetapi penuh penuh perhatian kepada kesibukkan insinyur-insinyur muda itu.

..... Manyar-manyar betina itu menaksir hasil pembangunan para jantan itu, .... Alangkah bahagialah yang dipilih itu. Tetapi alangkah sedihnya bagi yang tidak dipilih. ...... Sarang yang sudah selesai itu dilolosi dan dibongkar sehingga semua rusak, lalu segala jerih payah yang itu dibuang ke tanah.

Tetapi bersyukurlah, mereka tidak putus asa. Manyar-manyar jantan yang frustrasi tadi mulai mencari alang-alang dan daun-daun tebu lagi dan sekali lagi dari awal mulai membangun sarang baru, penuh harapan, semoga kali ini berhasil dianugerahi hati berkenan dari seorang putri keraton (Manyar betina) [Hal. 313] 

Kedua, tokoh Setadewa, bagaimana pun juga sikapnya dulu yang dianggap pengkhianat oleh pribumi, dia tetap kembali mencintai Indonesia; kampung halamannya sendiri. 

Dalam kehidupan nyata di Indonesia, contoh hal seperti ini ada, seperti (alm) B.J. Habibie yang walaupun diberi pilihan kewarganegaraan antara Indonesia dan Jerman, dia tetap memilih Indonesia, yang walaupun Indonesia tidak memberi semacam beasiswa kepada B.J. Habibie untuk kuliah di Jerman, beliau tetap mencinta Indonesia dan menghadiahkan masterpiece-nya untuk membanggakan Indonesia. 

Ataupun contoh lainnya, Sobron Aidit dan kawan-kawannya di Prancis, mereka secara tidak hormat dicabut kewarganegaraannya oleh pemerintah Orde Baru, karena Sobron Aidit dan kawan-kawanya dituduh berhaluan komunis. Akan tetapi, kecintaannya pada Indonesia tidak hilang, Sobron Aidit dan kawan-kawannya membuka restoran makanan khas Indonesia dan segala pernak-perniknya berbau Indonesia.

Ketiga, dalam segmen cerita ketiga, bagaimana terdapat narasi-narasi yang mengkritik kehidupan ilmu pengetahuan di Indonesia yang tidak menghargai pakar keilmuan dan Indonesia sendir tidak mempunyai pakar keilmuan yang pasti, sebagai tonggak eksistensi ilmu pengetahuan di Indonesia. Sebagaimana satire berikut tertulis dalam sebuah percakapan:

"Ya, inilah susahnya. Negeri ini tidak punya ahli matematika. Dan kalau punya, mereka toh tidak laku dalam dunia korup di negeri ini. Dan penyelidikkan anda, apakah tampak ada kesengajaan didalam kebodohan ini?"

"Saya tidak berani mengatakan, Mr. Brindley. Sulit untuk dibuktikan." [Hal. 265]

Dan banyak hal lain lagi dalam roman Burung-Burung Manyar tersebut, yang memberikan sari kehidupan yang segar kepada pembaca yang budiman. Tabik.