Mahasiswa
3 tahun lalu · 1136 view · 2 menit baca · Politik 2016-05-07-01-01-36-1105703859.jpeg
foto: google.com

Sesat Pikir Saut Situmorang

Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersinggung dan marah atas pernyataan yang dilontarkan oleh salah satu pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saut Situmorang. Kurang lebih, pernyataannya itu sebagai berikut:

"Orang baik di negara ini menjadi jahat ketika menjabat. Saya selalu bilang, kalau di HMI ini minimal LK-1, lulus, mereka pintar. Tetapi ketika mereka sudah menjabat, dia menjadi jahat, curang."

Pernyataan tersebut dinilai telah menuduh, menyudutkan, dan menghina nama baik himpunan. Maka wajar saja, berbagai elemen di dalam keluarga besar himpunan beramai-ramai mengecam keras atas pernyataan Saut Situmorang tersebut.

Tak sebatas itu, ketidakterimaan yang hadir diwujudkan dalam aksi demonstrasi kader HMI di berbagai wilayah, serta rencana PB HMI dan Kahmi Nasional yang akan memidanakan Saut ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik, penghinaan, dan perbuatan tidak menyenangkan.

Lantas kemudian, marilah kita berpikir secara jernih dan objektif perihal permasalahan yang ada. Dan supaya tidak melebar ke mana-mana, maka kita batasi saja analisis permasalahannya hanya pada statemen kalimat yang 'terlanjur' terujar dari mulut Saut Situmorang itu. Mari kita urai satu persatu.

Apakah benar bahwa "orang baik di negeri ini menjadi jahat saat menjabat?" Dalam logika berpikir, jelas bahwa pernyataan tersebut bernilai keliru atau salah. Term 'orang baik di negeri ini' tentu mencakup keseluruhan tanpa terkecuali. Baik secara konsep maupun faktual, pernyataan Saut itu tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Kita tentu masih menjumpai banyak orang baik di negeri ini yang ketika ia menjabat ia amanah, jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas. Dan kita juga tidak bisa memungkiri, ada juga orang yang awalnya baik, kemudian ia bertindak kejahatan di saat ia menjabat.

Artinya, kesimpulan proposisi kalimat yang benar adalah bahwa: "tidak semua orang baik menjadi jahat saat ia menjabat," dan/atau "tidak semua pejabat yang jahat itu pada awalnya orang baik." Jika yang terhormat Bapak Saut 'keukeuh' bahwa pernyataannya itu benar, jangan-jangan Pak Saut adalah termasuk bagian dari orang baik yang akan menjadi jahat saat menjabat? Ingat pak, bapak itu pimpinan KPK, pejabat juga loh.

Kemudian, terkait tuduhannya kepada kader HMI, saya berbaik sangka bahwa Pak Saut menemukan beberapa contoh kasus pidana korupsi yang menyeret beberapa nama tokoh --tanpa harus menyebut nama-- yang berlatar belakang sebagai anggota HMI.

Namun, lagi-lagi Pak Saut keliru dan salah jika harus mengeneralisir bahwa semua lulusan LK-1 itu akan menjadi jahat saat ia nanti menjabat. Terlalu picik pikiran manusia yang memiliki pikiran dan penilaian seperti itu. Sungguh Pak Saut berada dalam kekeliruan yang nyata.

Terlalu banyak kebaikan HMI yang diberikan secara ikhlas kepada bangsa ini, sehingga jika dituliskan satu persatu kontribusi dan kebaikan itu, tentu artikel sederhana ini akan segera berubah menjadi skripsi, tesis, dan/atau disertasi. Jika belum tahu, silakan Pak Saut baca tulisan sederhana nan berbobot dari Kakanda Saidiman Ahmad, "Bayangkan Wajah Politik Kita Tanpa HMI".

Dari hasil analisis sederhana di atas, saya berkesimpulan bahwa terdapat kekeliruan dan kedangkalan berpikir yang telah dilakukan oleh Saut Situmorang. Terlebih, sebagai representasi pejabat negara, tentu tidaklah etis pernyataan itu di lontarkan di hadapan publik, apalagi terindikasi menyudutkan kelompok tertentu.

Alhasil, saran saya kepada Pak Saut, jika tidak ingin berujung di meja hijau, segeralah minta maaf dengan penuh pengakuan dan kesadaran, lalu bertobatlah. Setelah itu, mulailah kembali membaca dan belajar "Dasar-Dasar Logika" di al-Najah Ibn Sina.

Artikel Terkait