2 tahun lalu · 448 view · 5 menit baca · Politik reklamasi-teluk-jakarta-681x420-1-681x420.jpg
sumber photo dari www.google.com

Sesat Pikir dan Hilangnya Rasionalitas

Dialog yang dilakukan oleh kawan-kawan Mahasiswa asal Maluku Utara dalam memperingati Hari Bumi yang tepat jatuh pada tanggal 23 April 2016 dengan tema Selamatkan bumi denga tanganmu lewat peran jurnalisme. Dialog juga dirangkaikan dengan launching buletin Mingguan sebagai pusat informasi sesama Mahasiswa asal Maluku Utara.

Dalam dialog tersebut, di hadiriselain saya ada kawan sekaligus senior saya waktu masih aktif di Walhi Sulawesi Utara, dan beliau di undang sebagai pembicara dalam dialog tersebut, dan sering saya memangilnya dengan pangilan tante Yul, beliau sampai hari ini masih tetap konsisten mengorganisir dan pendampingan masyarakat agar tetap menolak reklamsi pantai di teluk Manado yang merugikan tanpa perlu mengunakan teori macam-mcam, apalagi harus menggunakan dasar atau berangkat dari ilmiah tidak ilmiah ini pandangan yang terlalu positifstik menurutnya.

Di selah dialog itu berlangsung hampir kurang lebih 1 jam, ada pesan masuk dari FB saya dan saya kemudian membukanya, ternyata saya di tandai sebuah kiriman oleh kawan Anton terkait tulisannya di Qureta.com dengan judul  Andai Karl Max bangkit dari kuburnya” saya terus membuka dan membaca tulisannya dan intinya masih tetap sama soal pembelaan dan pembenaran atas reklamasi.

Dalam tulisan yang di sajikan kawan Anton, Awalnya menjelaskan Das Kapital karangan monumental mbah Komunis dunia Karl Heinrich Marx karya yang tidak asing lagi di kalangan para aktivis Kiri yang di gunakan sebagai dasar menganalisis struktur ketimpangan dan kepentingan Ekonomi-Politik, pinindasan kelas Modal atau borjuis terhadap kelas pekerja atau buruh dalam ralasi produksi.

Benar saja pendekantan inipun ramai di gunakan di lakangan aktivis dan NGO dalam melihat struktur dan relasi kepentingan Ekopol, termasuk di gunakan sebagai kacamata analisis dalam konteks reklamasi pantai, nah yang di lupakan kawan Anton adalah dalam setiap sudut pandang terkait reklamasi orang yang protes atas itu tidak semata mengunakan kacamata Ekopol.

Namun bisa saja orang yang menolak reklamasi mengunakan pendekatan lain pada cara melihatnya ini soal pradigma yang sebenarnya bisa multi pendekatan dalam menafsirkan atau melihat termasuk reklamasi pantai yang di lakukan. Sebut saja reklamasi Jakarta yang sebelumnya telah saya sampaikan bahwa selain merusak lingkungan dan ekosistem laut reklamasi atau memaksakan masyrakat dan komunitas nelayan harus tergusur dari tempat tinggalnya dan di paksakan beralih profesi sebagai nelayan ke PKL.

Atau reklamasi yang sama terjadi di Manado misalnya, Yang sebenarnya menikmati keuntungannya adalah para taipan dan oligarki bisnis atau Orang Kaya. Soal lain yang juga luput dari penglihatan kawan Anton adalah entitas kebudayan, yang telah hidup sekian lama bisa kita sebutkan nelayan tradisional atau kearifan local lainnya sebagai identitas yang akhirnya hilang karena reklamasi di lakukan, Atau orang bisa saja mengunakan pendekan Historis melihat reklamasi termasuk yang terjadi di Jakarta.

Di sisi ini saya akhirnya harus sepakat dengan kawan sekaligus senior saya pada saat masi di Walhi tante Yul, beliau katakana tidak perlu mengunakan teori, untuk katakana tidak pada reklamasi, apa lagi harus membawa-bawa Das Kapital ini soal nurani sederhana namun logis,  Lah kan reklamasi itu sudah pasti merugikan kok, reklamsi hanya untuk para orang kaya atau oligarki bisnis dan taipan, bukan untuk orang miskin dan di miskinkan seca struktur sambil tertawa Hehehe.

Sayapun akhirnya tertawa mendengar pernyataannya itu,  Maksudnya melihat reklmasi tidak hanya semata dari sisi ekonominya saja yang di sebut kawan Anton misalnya membuka lapangan pekrjaan dan atau lainya sederhana yang mau di sampaikan kawan Anton adalah sisi positifnya atas reklmasi. Tetapi lantas menafikan kehidupan lain termasuk nelayan dan entitas kebudayaan, kearifan local hingga aspek historis dan lainnya yang hidup dan saling menghidupkan.

Kadang dalam soal ini saya merasa Kawan Anton membunuh nuraninya sendiri hingga menghilangkan rasionalitas yang di miliki, akhirnya saya harus paham bahwa kawan Anton dalam memandang, menulis, dan bahkan mengurai sisi lain keunggulan reklamasi yang di sebutkan jelas cara pandang Konsulutan Politik yang tentu akan berupya membela keliennya dalam konteks apapun termasuk  melakukan pembenaran dan pencitraan atas reklamasi baik itu teluk Jakarta karena sebentara lagi mau Pilkada, bagi saya ini bukan soal namun harus fair cara membelanya dong  hingga anda tidak terlihat naif.

Bagai mana masyarakat bisa hidup layak dan berproduksi sementara dia harus tergusur, alat produksinya di paksa harus ganti, beralih profesi dengan membuka warung, menjadi PKL atau apalah namnya, yang harus di mulainya dari nol. itu kan kebangatan namanya, mana ada kapitalisme yang yang muncul dengan wajah yang polos, bijak, atau baik? Lantas hal seperti ini tidak anda hitung sebagai yang di korbankan atas reklamasi untuk tetap menjaga kenikmatan dan untung bagi si taipan dan oligarki bisnisnya?  

Bagi saya ini wajar membela apa yang kau yakini benar dan baik itu, namun jangan membunuh nurani dan tetap menjaga rasionalitas, hingga anda tidak tersesat pikir terlalu jauh hehehe. tanpa perlu membawa-bawa das kapital  hukumnya wajib membela kepentinga banyak orang “Rakyat” tidak perlu ada embel-embel lainnya itu yang pernah di katakana kawan Anton kepada saya dulu masi menjadi aktivisi dan sering berdiskusi dengan saya soal metode-metode pengorganisiran dan pendampingan.

Akhirnya saya harus melihat kembali  Manifesto Komunis dalam penjelasannya Masyarakat borjuis modern yang muncul dari keruntuhan masyarakat feodal tidak menyingkirkan antagonisme kelas Malah ia memunculkan kelas-kelas baru, kondisi baru untuk melakukan tekanan, bentuk-bentuk baru persaingan dengan menggantikan yang lama. bagi saya kawan Anton ini dalam posisinya adalah kelas sosial baru dari yang hadir atas kontaradiktif kelas borjuis modern dan kelas feodal.

Tentu ini tidak berlebihan kawan maaf. Itu hanya sekedar ilustrasi bahwa anda dulu sorang aktivis yang ikut menentang reklamasi dan masalah kerakyatan lainya, dan selalu bergairah dalam setiap penjelasan dan analisi kelas melihat ketimpangan dan penindasan tiada kata lain selain Melawan. kemudian berubah karena satus soasial anda sudah bergeser atau bisa di kategorikan sebagai kelas social baru kemudian membentuk cara pandang anda hingga anda mengabaikan sisi lain dan sangat ironi dari reklamasi menyedihkan memang.

Lagi dan lagi luput atas pandangan kawan saya yang satu ini orang menolak reklamasi teluk Jakarta itu jelas, mega proyek ambsisius ini sejaka dari awal prosesnya sudah bermasalah, sampai ada pengkondisian dan upaya suap di lakukan agar teluk Jakarta tetap di reklamasi, semoga kawan Anton juga belum lupa, masih segara di igatan kita Sunny Tanuwidjadja, Si “Anak Magang” dan Peneliti CSIS yang berperan menjadi penghubung di internal pemprov DKI dan pihak pengembang, dan di sisilain dengan anggota DPR DKI terkait dengan suap pengesahan Raperda Zonasi dan Raperda Pesisir. Dua Raperda yang menjadi “karpet merah” bagi proyek reklamasi Teluk Jakarta. Kok tidak di lihat oleh kawan Anton?

Untuk itu tidak perlu membangunkan Karl Marx dari tidur panjangnya hanya untuk merevisi das kapital karnan zaman pasti berubah, orang tentu akan selalu menyesuaikan konteks realitas atas setiap cara padangannya tidak semata terpaku pada karya yang sangat monumental dan di jadikan rujukan wajib dalam analisis Ekopol. Biarlah Karl Marx tenang di alam sana, dan mungkin sambil tersenyum dia berkata kepada kita bahwa kapitalsme itu tetap menindas tanpa kecuali karena itu sudah hukum besi yang tak mungkin kita ubah.