Seberapa sering Anda memikirkan perkataan orang lain yang ditujukan ke Anda? Atau memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dan belum pasti terjadi? Sering, jarang, atau malah merasa tidak pernah?

Anak dari generasi milenial dan generasi Z pasti sudah sering mendengar istilah overthinking. Dan, hampir setiap anak muda pasti pernah overthinking. Istilah overthinking sendiri sering kali muncul dalam media sosial dan media lainnya.

Berdasarkan asal katanya, overthinking terdiri dari dua kata yaitu “over” dan “thinking”. “Over” artinya berlebihan, “thinking” artinya berpikir, maka “overthinking” artinya berpikir yang berlebihan. Overthinking juga dapat diartikan menggunakan terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu hal yang merugikan bagi diri sendiri.

Overthinking membuat seseorang tenggelam dalam spekulasi-spekulasi yang muncul di otaknya. Spekulasi-spekulasi tersebut dapat menguras tenaga dan waktu. Kegiatan yang sedang dilakukan pun menjadi tidak produktif karenanya. Aktivitas sehari-hari menjadi terasa kacau dan mengecewakan karena overthinking.

Overthinking biasanya datang ketika kita sedang memikirkan masa depan. Seperti kutipan lirik, “Di ujung jalan ini, ke mana kita harus berada? Apa yang harus kita lakukan, dalam bentuk apa?”. Pertanyaan seperti itulah yang biasnya terlintas dalam pemikiran kita secara tiba-tiba.

Perasaan kecewa akan hal di masa lalu yang sering kali hadir karena belum berdamai dengan masa lalu. Ekspektasi tidak sesuai dengan realitas yangmembuat kita takut mencoba melangkah ke depan menghadapi hari esok.

Perasaan seperti ini membuat kita terus berpikir bagaimana cara supaya memperbaiki masa lalu dan mewujudkan ekspektasi yang kita harap-harapkan.

Penilaian orang terhadap kita yang terkadang tidak sesuai dan menyakiti perasaan. Masalah-masalah dalam dunia pendidikan seperti “Bagaimanajika aku mendapatkan nilai yang kurang memuaskan?”.

Masalah dunia pertemanan seperti “Mengapa aku tidak punya teman seperti yang lain?”. Mengapa mereka menjauhiku? Masalah seperti inidiperburuk dengan kondisi pandemi sekarang yang mengharuskan bersekolah dari rumah.

Pertemanan akan lebih sulit dibentuk karena tidak bertemu secaralangsung. Belum lagi ketika sudah masuk sekolah, apakah teman yang sudah kita anggap dekat ketika berkomunikasi via chat akan tetap mauberteman dengan kita?

Seperti yang dikatakan di awal, tanda yang paling sering ditemui ketika kita overthinking adalah hilangnya mood untuk beraktivitas. Perasaan lebih sensitif ketika ada yang tidak sesuai dengan kita. Rasa ingin memarahi orang dan berteriak dengan kencang.

Lebih menyakitkan lagi ketika kita menangis dalam diam hingga dada terasa sesak. Kita tidak tahu kepada siapa harus berbagi dan meluapkan perasaan tersebut. Hal-hal seperti ini apabila dipendam terus menerus justru dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk.

Dampak buruk dari seringnya overthinking adalah kita dapat kehilangan hal-hal kita sukai. Semua hobi yang awalnya menyenangkan akan menjadi biasa saja karena kita overthinking terus menerus. 

Kerap kali overthinking muncul sebagai perasaan sendu yang membuat kita merasa bersalah ketika kita merasa berbahagia walaupun sejenak.

Inilah yang terkadang membuat kita kehilangan jati diri. Kita yang awalnya memiliki pribadi yang menyenangkan dan hangat, berubah menjadi pribadi diam, cuek, dan tak tersentuh. 

Bagaimana sih cara supaya kita tidak overthinking terus menerus? Cara atau tips yang dapat mengatasi overthinking adalah sebagai berikut:

1. Mencari pengalih perhatian

Pengalih perhatian dapat berupa melakukan hal-hal yang kita sukai. Contoh sederhananya, seseorang suka menyanyi, maka mereka akan bernyanyi untuk mengalihkan perhatiannya. 

Mereka juga bisa sembari memainkan alat musik. Ketika memainkan alat musik, pikiran orang tersebut akan memikirkan lirik lagu apa yang akan dinyanyikan dan kunci apa yang akan dipetik, genjrengan seperti apa yang akan dilakukan.

2. Jujur pada diri sendiri.

Menangislah jika ingin menangis, meluapkan semua yang mengganjal dihati. Belilah makanan yang enak, jika memang dapat menjadi obat. Berusaha menerima apa yang ada pada kita, baik buruknya kita. Dengan begitu, kita akan lebih mudah dalam menjalani hari.

3. Membagi pemikiran dengan orang tua atau orang yang kita percaya.

Orang tua yang baik tidak akan menjerumuskan anaknya ke dalam hal negatif. Orang tua dapat melihat hal yang baik dan buruk untuk anaknya. Mereka memiliki pengalaman lebih banyak yang dapat disarankan kepada kita.

Overthinking ibarat gelas penuh yang terus terusan diisi air. Membagi pikiran kita dengan orang tua sama halnya ketika kita membagi dua gelas yang penuh dengan air. Kita akan mengurangi ruang dalam otak kita yang awalnya penuh dengan overthinking, menjadi sedikit berkurang.

4. Mencoba tidur dengan rileks.

Tarik napas dalam-dalam hingga tenang dan buang pikiran-pikiran yang tidak penting, kemudian memejamkan mata. Tidur dengan rileks memiliki banyak manfaat bagi tubuh, salah satunya seperti memperbaiki suasana hati ketika bangun pagi.

Pikiran merupakan salah satu hal yang sulit kita kendalikan, tetapi kita harus bisa mengendalikannya. Wajar jika kita overthinking, yang tidak wajar apabila kita berlarut-larut di dalamnya terlalu sering. 

Overthinking tidak hanya datang sekali saja, tetapi juga bisa datang berkali-kali dan bertahan hingga berbulan-bulan. Butuh waktu lumayan lama untuk dapat mengatasinya.

Setiap orang pasti memiliki tingkat overthinking sendiri yang berbeda
dengan orang lain. Kita tidak bisa menganggap overthinking setiap orang sama. Terkadang ada overthinking menimbulkan dampak yang ringan, kadang juga dapat menjadikan penderitanya mengalami dampak yang
lebih buruk.

Oleh karena itu, setiap orang pasti memiliki cara tersendiri untuk mengontrol pikirannya dan mengatasi overthinking-nya. Apabila memang belum ditemukan cara yang tepat, kita bisa mengunjungi orang yang lebih ahli untuk meminta saran terbaik dalam mengatasi permasalahannya.


“ Berhentilah overthinking, berikan lebih banyak energi pada apa yang benar-benar ingin kamu lakukan”
-Amit Ray-