Rentetan drama yang menyertai kepulangan pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab, sepertinya beberapa saat berhasil disalip dengan drama paling anyar yang pemeran utamanya adalah Mentri Kelautan dan Perikanan yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK. 

Penangkapan Menteri KKP Edhy Prabowo berhasil bikin masyarakat gempar. Saya yakin akan menjadi bakal serial drama paling ciamik untuk menghiasi berbagai media tanah air paling tidak beberapa pekan kedepan.

Drama macam ini bagus dan barangkali memang sangat efektif menghibur masyarakat. Maklum, masyarakat kita sudah semakin bosan berdiam diri di rumah. OTT KPK kali ini sangat lumayan kan sebagai hiburan gratis setelah jenuh cuma diam di rumah selama berbulan-bulan. 

Nah sejak topiknya tentang penangkapan pejabat koruptif, pasti rating-nya tinggi. Ini juga bisa jadi lahan menambang cuan media kan ? Apalagi pemeran utamanya adalah seorang Menteri, ada nama “prabowo”-nya lagi.  

Sebelum terjerat operasi tangkap tangan KPK, gerak-gerik kedekatan Edhy Prabowo dengan Prabowo Subianto memang sudah terlihat mewarnai kontestasi pemilu 2019 hingga Edhy sering disebut ‘anak emasnya’ Menteri Pertahanan RI itu. Memang selain sebagai Menteri KKP Edhy juga menjabat sebagai wakil ketua umum partai Gerindra.

Dalam debat Pilpres 2019 perdana yang berlangsung pada tahun 2019, Menteri Prabowo yang kala itu menjadi bakal presiden sudah kasih tahu Presiden Jokowi alasan terkait kenapa pejabat kita suka korupsi. Menurutnya, salah satu pemicu dari praktik korupsi di negeri ini adalah banyak pejabat yang gajinya keterlaluan kecilnya.

Menteri Edhy, gaji pokok dan tunjangannya cuma 18, 6 juta, walaupun dapat dana operasional hingga 150 juta perbulan, mobil Toyota Crown Executive, rumah dinas dan berbagai fasilitas lainnya, tentu belum cukup. Gaji, tunjangan beserta dana lainnya yang hampir 170 juta ini ya kurang sekali buat pelesiran, pesta-pesta dan beli arloji mewah. 

Makanya uang suap sebesar 3,4 milyar itu 750 jutanya buat belanja barang mewah. Kasian Menteri Edhy yang saking kecil gajinya, mesti menerima uang suap untuk sekedar arloji Rolex. Apalagi kalau istri ngebet pengen beli tas mewah kayak Louis Vuitto, Hermes dan barang mewah lainnya. pusing pala berbie.

Belum lagi uang makan sehari-hari, mbok yo jangan dibandingkan dengan sobat misqueen atau mahasiswa akhir bulan yang makan seadanya. Menteri Edhy harus setiap hari makan makanan enak dan bergizi di resto berbintang supaya tetap fit dan prima dalam menjalankan tugas sebagai menteri.

Menteri Edhy itu ya sejak dari 1998 sampai 2015 sebelum menjabat sebagai DPR RI selalu jadi direktur utama, bahkan di perusahaan yang beliau dirikan sendiri. Pastilah gaji dari jabatan yang beliau emban selangit hingga konon harta kekayaan saat awal-awal menjadi menteri kekayaan bersih Menteri Edhy mencapai 7,42 milyar. 

Gaji sebagai menteri puluhan tahun pun tak seberapa menambah kaya beliau. Makanya, perlu kerja sampingan. Nah, terus apa salahnya kerja sampingan untuk tambah pundi-pundi kekayaan, coba? Coba kalau gaji Edhy sebagai menteri KKP dinaikkan, menteri Edhy pasti tak akan cari kerja sampingan sebagai koruptor. 

Dasar Jokowi-Ma’ruf kurang pengertian. Tidak perlu itu meningkatkan transparansi, cukup naikkan gaji pejabat, dijamin drama bergenre korupsi tidak akan tayang lagi di media-media negeri ini. Jadi semua ini salah pemerintah!

Menteri Edhy itu dan para pejabat korup lainnya itu bukannya tak punya moral kok. Mereka cuma ingin terus merasakan kebahagiaan dari pundi uang yang mereka kumpulkan. Kalau Menteri Edhy biasanya bisa dapat puluhan juta perbulan, pas jadi Menteri KKP pengennya ya juga begitu. Supaya tetap bahagia. 

Pejabat negara pun tak berbeda dari seorang manusia biasa yang dikasih segunung emas mau gunung yang lain. Mentri Edhy salah satunya, ia hanya ingin menambah jumlah gunungan hartanya, walaupun dengan cara korupsi. Begitulah alaminya sifat manusia. Tak pernah cukup dan selalu ingin lebih.

Jadi ya, masyarakat jangan terlalu berlebihan-lah menyikapinya. Toh korupsi itu manusiawi dan wajar-wajar saja di negara kita. Apalagi kan pejabat sudah terbiasa kaya dengan penghasilan bulanan selangit, ambil beberapa persen dari proyek kementrian, wajar saja kan? Serial drama pejabat KKP yang korup ini ya dinikmati saja.

Nah, kalau pemerintah tidak mau korupsi terjadi lagi, gaji pejabat harus dinaikan. Ya, kalau penghasilan sebelum jadi menteri segini, pas jadi menteri harusnya lebih tak boleh kurang. Duh, masa yang begini saja pemerintah tidak mengerti, sih.

Ya lagipula daripada uang negara habis untuk membangun berbagai infrastruktur seperti jalan tol, bendungan dan yang lainnya, lebih baik uang APBN kita dipakai untuk menaikkan gaji para pejabat agar korupsi tak terjadi lagi. Terus kalau masih saja korupsi berarti gajinya kurang dan mesti dinaikan lagi.