Korean drama nampaknya selalu mampu merebut hati para penggemarnya khususnya di Indonesia. Seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Indonesia banyak yang menggandrungi serial drama Korea. 

Kekuatan sosial media dari para penggunanya semakin membuat drama tersebut populer di masyarakat. Sehingga membuat salah satu serial drama True Beauty menjadi pembicaraan.

Serial drama ini diangkat dari cerita webtoon yang juga digemari oleh para pengikutnya, tidak jauh beda memang dengan kisah drama korea yang lain. Terdapat kisah percintaan dalam alur ceritanya, dimainkan oleh tiga tokoh utama dua laki-laki dan satu perempuan. 

Cerita drama tersebut berlatarkan kisah remaja sekolah menengah atas yang dibumbui dengan romansa percintaan, keluarga, konflik antar remaja, dan komedi yang lumayan menggelitik.  Secara keseluruhan serial drama tersebut cukup membuat emosi penontonnya dikoyak-koyak oleh alur cerita asmaranya.

Kisah percintaan yang relevan dengan realitas cinta-cinta para remaja nampaknya mampu membuat para gadis remaja semakin meningkatkan tingkat kehaluannya. Namun bukan hanya kisah cinta remaja yang menarik untuk disimak lebih lanjut. 

terdapat hal menarik yang perlu diamati, bukan romansa percintannya, melainkan mengenai penggambaran realitas atas standar kecantikan seorang individu yang ditentukan oleh hasil dari konstruksi masyarakat.

Dalam serial drama tersebut pemeran utama diperankan oleh seorang perempuan sebagai Ju Kyung yang memiliki wajah tidak cantik. Akibat dari wajah tidak cantiknya membuat ia mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari lingkungan sekitarnya.

Lingkungan sekitar memberikan perlakuan buruk, seperti bullying yang ditujukan pada Jukyung. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk pindah sekolah karena terus mendapatkan perlakuan yang tidak baik.

Jukyung mengalami perundungan dan krisis kepercayaan diri yang sampai pada akhirnya membuat ia belajar menggunakan riasan wajah untuk mempercantik dirinya. Jukyung bekerja keras untuk belajar merias diri sampai bisa merubah penampilannya.

Pada realitasnya ternyata usaha mempercantik wajahnya tidak berjalan dengan baik. Hal tersebut ternyata membuat dirinya tetap hidup dengan kriris kepercayaan diri dan ketakutan akan terbongkar wajahnya yang tanpa make up.

Penggambaran cerita dalam serial drama tersebut nampaknya relevan dengan realitas yang ada di masyarakat saat ini. Masyarakat memiliki kekuatan yang besar dalam menciptakan konstruksi sosial atas realitas yang saat ini ada.

Menurut Berger dan Luckmann dunia kehidupan sehari-hari menampilkan diri sebagai kenyataan yang ditafsirkan oleh manusia. Maka dari itu, apa yang menurut manusia nyata ditemukan dalam dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu kenyataan seperti yang dialaminya. (Manuaba, 2008)

Masyarakat mengkonstruksikan mengenai standar-standar kecantikan yang ada dalam realitas kehidupan. Menurut Petter L Berger dunia kehidupan sehari-hari merupakan suatu yang berasal dari pikiran dan tindakan manusia, dan dipelihara sebagai yang nyata dalam pikiran dan tindakan. 

Dalam hal ini pikiran serta tindakan yang mengarah pada penentuan standar kecantikan seorang perempuan terus dipelihara dalam pikiran maupun tindakan sosial sehari-hari oleh masyarakat. (Manuaba, 2008)

Standar-standar kecantikan tersebut yang diciptakan sendiri oleh masyarakat, nyatanya membuat banyak individu yang tersiksa dan semakin mengalami krisis kepercayaan diri yang berkepanjangan.

Adanya konstruksi sosial mengenai standar kecantikan, justru membuat perempuan ikut masuk didalamnya. Perempuan ikut masuk dalam struktur yang telah dikonstruksikan tersebut. 

Sampai pada akhirnya membuat apa yang dilakukan terhadap diri sendiri bukan untuk menciptkan kesenangan pada diri sendiri justru hanya untuk mendapatkan pengakuan atas realitas yang telah dikonstruksikan oleh masyarakat.

Kenyataan hidup sehari-hari tampak sudah diobjektivasi, sudah dibentuk oleh suatu tatanan objek-objek sejak sebelum seseorang hadir. (Manuaba, 2008) Objektivikasi pada perempuan atas standar kecantikan juga telah ditentukan dan diobjekkan oleh masyarakat.

Baik dari segi laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini tak jarang membuat interaksi yang buruk antara perempuan satu dengan perempuan lainnya. Tak jarang justru malah perempuan itu sendiri yang menentukan standar kecantikannya.

Standar bahwa cantik itu harus tinggi, putih, rambut panjang yang lurus, badan ramping layaknya gitar spanyol, wajah yang glowing, shimmering, and splended. Hal-hal itu yang menghantui kehidupan seorang individu dan terlalu sibuk untuk mencapai konstruksi realitas di masyarakat. 

Sehingga membuat perempuan lupa bahwa mungkin saja benar yang dikatakan oleh Eka Kurniawan dalam bukunya bahwa “Cantik Itu Luka”. Kisah dari Cantik Itu Luka, yang ditulis oleh Eka Kurniawan merupakan penggambaran bahwa tidak selamanya menjadi cantik membuat perempuan banyak mendapatkan previlage

Justru cantik bisa mendatangkan luka dan masalah-masalah lainnya. Namun patut kita akui bahwa budaya masyarakat kita Indonesia masih sangat kental sekali dengan standar-standar kecantikan tersebut.

Tapi dalam hal ini sebagai seorang perempuan yang patut di garis bawahi adalah pentingnya menjadi diri sendiri dan melatih kemampuan diri agar terlihat cantik tidak hanya dari pandangan mata, melainkan dari segi yang lain. Baik melalui kecerdasaan, sikap, etika, dan kekuatan.

Sepertinya sebagai sesama perempuan perlu terus melakukan dukungan satu sama lain, tanpa perlu melanggengkan standar-standar kecantikan yang telah dibentuk di masyarakat. 

Perempuan bisa mengkonstruksikan kembali bahwa menjadi cantik tidak hanya dari paras melainkan dari kepribadian dan kecerdasan atau hal positif lainnya.