Ineke van Kessel merupakan seorang ahli kajian Afrika dan sejarawan dari Belanda yang menaruh minat pada sejarah Afrika. Pada 1977, ketika ia masih menjadi mahasiswa di Universitas Leiden, Ineke van Kessel untuk pertama kalinya menemukan orang Afrika yang direkrut oleh Koniklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL). 

Ketertarikan Ineke van Kessel terhadap kisah serdadu Afrika yang ditugaskan ke Hindia Belanda, berkaitan erat dengan ketertarikannya terhadap sejarah Indonesia.

Perhatian Ineke van Kessel terhadap sejarah Afrika tentu saja bukan tanpa alasan. Ineke van Kessel menilai bahwa wilayah Afrika selama berabad-abad telah menjalin pertukaran ekonomi dan budaya dengan kawasan Eropa. Menurut Ineke van Kessel (2011) dalam buku yang berjudul Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945.

Dalam studinya tersebut, menjelaskan bahwa pada abad ke-20, orang Afrika tetap populer sebagai serdadu bayaran karena stereotip yang menggambarkan mereka sangat kuat. Meskipun daya pikir yang tidak sebanding dengan orang-orang Eropa, akan tetapi pada dasarnya mereka merupakan orang yang setia dan penurut (Ineke van Kessel, 2011: 10).

Hubungan persahabatan antara Belanda dengan Kerajaan Ashanti yang sudah berlangsung lama, tentu berdampak baik bagi Belanda. Pasalnya Pemerintah Kolonial Belanda akan lebih mudah dalam memperoleh tambahan personil tentaranya (KNIL), sebagai upaya antisipasi dari banyaknya korban berjatuhan akibat Perang Jawa dan Perang Paderi, (Ineke van Kessel (2005), dalam Fadrik Aziz (2020) .  

Pada 1831-1872, Belanda merekrut sekitar 3.085 laki-laki Afrika Barat untuk menjalankan dinas militer di Hindia Belanda. Ketika orang-orang Afrika sampai di Jawa (Hindia Belanda), mereka terlebih dahulu mengenyam pendidikan militer. Setelah serdadu Afrika memperoleh pendidikan militer, para serdadu Afrika ditempatkan dalam ekspedisi-ekspedisi kolonial di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Timor.

***

Menurut Dalstra (1983) dalam The South Moluccan minority in the Netherland, mengatakan bahwa keberhasilan Pemerintah Kolonial Belanda dalam menaklukkan Nusantara tidak lain karena ketersedian tentara (KNIL). Hal serupa juga disampaikan oleh Randy Wirayudha (2019) dalam Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa.

Randy Wirayudha menulis bahwa keberhasilan Pemerintah Kolonial Belanda tidak lepas dari peranan KNIL sebagai gerda terdepan dalam menghadapi setiap konflik, meliputi: Perang Paderi (1821-1845), Perang Aceh (1873-1904), invasi ke Lombok (1894), dan Perang Bali (1908).

Lebih Lanjut, Dalstra (1983) mengungkapkan bahwa tentara pribumi terbaik yang berasal dari Ambon. Hal ini juga menjadikan Ambon sebagai “anak emas” Pemerintah kolonial Belanda.

Keinginan menjadikan orang-orang Ambon sebagai kekuatan di tubuh KNIL, rupanya dinilai baik bagi kelangsungan Pemerintah kolonial Belanda. Hal ini tentu aja sebagai upaya mengurangi dominasi dari orang-orang Jawa. KNIL yang berasal dari Jawa, tidak lagi mendapat kepercayaan pemerintah kolonial karena dirasa merugikan pihak Belanda akibat seringkali melakukan pemberontakan.

Belanda Hitam atau Londo Ireng

Menurut Arthur Japin, penulis roman yang berjudul De Zwerte met Het Witte Hart, dalam pengantar buku Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945. Arthur Japin mengungkapkan bahwa apa yang ditulis oleh Ineke van Kessel seakan menghidupkan kembali kisah para serdadu KNIL asal Afrika yang lebih dikenal dengan Zwarte Hollanders, jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti “Belanda Hitam”.

Hal yang menarik tentu saja penyebutan istilah “Belanda Hitam” atau lebih akrab disebut “Londo Ireng”. Menurut Kotarumalos (2010) dalam Mengkrontruksi Identitas Diaspora Maluku di Negeri Belanda.

Dalam tulisannya tersebut, Kotarumalos menjelaskan bahwa para Ambon KNIL menganggap dirinya sebagai “Belanda Hitam”, suatu ekspresi yang masih tetap bertahan hingga saat ini. Penyebutan Londo Ireng sering kali digunakan untuk orang-orang pribumi yang dinilai kebarat-baratan. Artinya, istilah tersebut merupakan ejekan terhadap Bangsa Indonesia yang menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kolonial.

Supandi Muhdi melalui pandangan Ineke van Kessel, melihat ini sebagai sebuah kerancuan. Dalam tulisannya yang berjudul Siapakah yang Dimaksud dengan Istilah Londo Ireng? Menurut Supandi Muhdi, apa yang dimaksud dengan Londo Ireng adalah tentara KNIL Afrika di Jawa.

Lebih lanjut, Ineke van Kessel mengungkapkan bahwa serdadu Afrika mempunyai hak yang sama dengan orang-orang Belanda, oleh karena itu mereka disebut Belanda Hitam (Zwarte Hollanders). Oleh karena itu, Serdadu Afrika di Hindia Belanda memiliki status yang sama dengan orang-orang Eropa dalam KNIL.

Daftar Pustaka

Dalstra, Kross. 1983. The South Moluccan minority in the Netherland. ‘Contemporary crises, Vol. 7. 195-208.

Kotarumalos, Nur Aisyah. 2010. Mengkrontruksi Identitas Diaspora Maluku di Negeri Belanda. Dalam LIPI, Edisi XXXVI. No. 1.

Supandi Muhdi, Rahardjo. Siapakah yang Dimaksud dengan Istilah Londo Ireng?. dalam, https://id.quora.com/Siapakah-yang-dimaksud-dengan-istilah-londo-ireng. .

van Kessel, Ineke. 2005. West African Soldiers in the Dutch East Indies: From Donkos to Black Dutchmen, dalam Firdausi, Fadrik Aziz. Sejarah Belanda Hitam di Hindia Timur. Dalam: https://tirto.id/sejarah-belanda-hitam-di-hindia-timur-fJ7Z.

van Kessel, Ineke. 2011. Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945. Depok: Komunitas Bambu.

Wirayudha, Randy. 2019. Tentara Kolonial dalam Pusaran Masa. dalam: https://historia.id/militer/articles/tentara-kolonial-dalam-pusaran-masa-6kXX2. Diakses pada Minggu, 6 Desember 2020, Pukul 03.03 WIB