Lampu diskotek menampar gelap yang tersisa. Terangnya sesaat saja, dan gelap lagi. Bertukar pancar dan suar dalam hitungan detik. Beriring dengan dentum musik olahan yang menggetarkan dinding-dinding peredam suara itu.

Sungguh, setan pun akan terlena dengan tugasnya. Sesegera mungkin ikut berjingkrak beranjang sana, bersama letupan nada-nada energik yang membuat lupa segalanya.

Alunan nada-nada progresif seolah menyalakan surga. Menghidangkan kesukaan-kesukaan anak manusia yang haus hiburan dari kekekeringan jiwa yang terkuras oleh pekak dan sibuk dunia.

Suasananya seakan menciptakan bidadari-bidadari kekinian yang berjingkrak, yang mungkin sudah tak suci lagi. Kesucian yang sudah tak menarik di zaman serba-tolelir ini.

Gerakan-gerakan tubuh mereka menyaingi gerak senam kesegaran jasmani yang terhebat sekalipun. Meliuk-liuk ke sana-kemari, sepertinya tiada jeda, kibasan-kibasan rambut yang sudah tak wangi lagi, mengganas memecut udara yang sudah habis kesegarannya.

Di pojok ruangan yang sudah tak tersisa udara segar itu, dia sedang menikmati euforianya. Meniti setiap detail kenikmatannya. Berharap jangan satu pun yang terlewat begitu saja,

Makin membumbung saja dengan beberapa teguk minuman beralkohol dan isapan-isapan nikotin yang sedari tadi terbakar. Sebuah menu yang paling lezat baginya.

Asapnya bersatu dengan kilatan lampu, membentuk bak diorama kehidupan alam baka. Kadang melukis pusara, kadang nisan, bahkan bungkusan mayat.

Tergantung kreativitas visual dari kegelapan hati yang memandangnya. Dia terus saja bermain visual di situ. Berusaha sekuat tenaga membangkitkan dzikir maut dari suasana yang jelas-jelas melupakan maut itu.   

Bibir yang tak bergincunya seperti terbakar saja dengan ujung panas filter gulungan tembakau yang ceking itu. Menguras habis lembut-lembutnya. Hingga bergetar saja karena panasnya.

“Sampai kapan kau bawa kain serban itu?”

“Terserah aku!”

House music dengan tempo upbeat kembali mengguncang atmosfer ruangan yang makin ingar bingar dengan segala tumpahan pelepasan jiwa-jiwa yang penat oleh aktivitas duniawi yang merutin.

Yang membawa kain serban itu masih tetap di puncak kenikmatannya, menciumi kain itu beberapa kali oleh karena wanginya yang abadi.

Beberapa noda minyak wangi jenis madinatul ashror melukis tak indah bak kaligrafi yang rusak polanya.

Serban itulah satu-satunya pengendali jiwanya. Bak sebuah berhala yang melilit leher. Mampu menghubungkan jiwanya yang masih ber-Tuhan, ala kadarnya.

Sisa-sisa pelajaran tauhid di pesantrennya dulu hanya menyisakan satu kata, Allah.

Warna putih serbannya yang mencolok di keremangan jeda lampu rotor ruangan itu tak mampu lagi memenangkan warna sucinya. Seolah bertarung di medan laga melawan warna-warni yang mahal harganya.

Tabung-tabung pijar dan LED yang mengungguli pantulan warna yang bernama sederhana itu putih bersih. Hanya satu yang dia jaga, jangan sampai minuman gin ini tumpah ke serbannya yang masih setia melilit di lehernya.

Sungguh, ini pemandangan yang sangat melibas sempadan. Pemandangan tak berseragam dengan fesyen-fesyen yang blink-blink.

“Sampai kapan kau bawa kain serban itu?”

“Terserah aku!”

Pertanyaan dan jawaban itu berulang lagi di hari-hari yang ia habiskan di klub malam itu.

Hingga pada sebuah dini hari, ketika semua mulai beranjak pulang. Sedang dia masih saja terduduk lemas di sofa itu. Semua tampak kuyuh dan lelah.

Berjalanlah dia keluar gedung hingar-bingar itu. Setelah melewati pintu, begitu terasa perbedaannya. Hawa sejuk alami yang jauh berbeda dari udara kalengan di ruangan itu, sedikit membuatnya rileks.

Suasana sepi sebuah dini hari di kota kecil kaki gunung, akan mengawali perubahan hidupnya.

Udaranya segar alami, tenang suasananya. Sayup-sayup terdengar bacaan tarhim yang pernah ia pahami dulu saat di pesantren. Begitun menyentuh sebagian hatinya yang masih mengeras oleh takdir yang belum mampu dia terima.

Dibukanya pintu mobilnya, dia hembaskan tubuhnya ke jok kemudi. Diam sesaat, memandangi paparan visual di depannya.

Tampak hilir-mudik pedagang sayur yang mulai berangkat ke pasar. Kedipan lampu sign beradu di perempatan yang belum maksimal lampu lalu lintasnya.

 Lampu lalu lintas hanya yang warna kuning berkedip-kedip, seakan menjadi satu-satunya Tuhan yang mengatur kehidupan. Pasti di sampingnya berdiri malaikat pencabut nyawa beserta pasukannya yang siap dengan perintah-perintah dari Tuhannya.

Mulutnya lirih mendendangkan syair-syair yang dibuat oleh orang yang di diskotek tadi,

Iltizam Fajar
Dua rakaat berkah
Pancaran aqidah salimah
Harap akhlaq hamidah
Ibadah shahihah
Syumul wa tawazun
Ya latifun 
Ya Hakimun
Ya karimun 
Ya Azizun 
Jangan tercuri si Khanna
Anak iblis yang ganas
Ada di darah dan nafas
Yaa Ayyuhannas
Kontaminasi akut
Alkohol ikut
Saraf jadi atribut
Peribut
Pergolakan kepal
Dari dorsal hingga karpal
Idiologi dan pasal
Bertarung maksimal

Diputarnya kunci pemantik mesin mobilnya. Beberapa kali sentakan tak mampu menghidupkan kombusinya. Dingin, mungkin itu yang sebeku perasaannnya. 

Hingga pada kali ke sekian hiduplah ruang pembakaran mesin tersebut. Mesin menyalak keras.  

Suara torak, engkol, katup dan gerigi mesin beradu. Membuat paduan simfoni mekanik 16 katup. Diinjaknya pedal gas mobilnya di level yang tak semestinya, tersentak kuat.

Mobilpun seolah meloncat menelusuri aspal jalanan. Hingga sampailah di perempatan itu. Lampu kuning yang kedap-kedip masih setia memberi tanda. 

Mungki itu satu-satunya Tuhan yang mengatur tanpa lampu merah dan hijau. Malaikat pencabut nyawa beserta pasukannya masih setia berjejer di perempatan itu. Menanti perintah Tuhan si lampu kuning yang tenang berkedip-kedip itu.

Kaki rampingnya masih saja belum mengendurkan pijakan pedal gasnya. Sedang pedal rem sepertinya enggan untuk diinjak. 

Hanya satu yang terasa padu, mulutnya tampak komat-kamit berdzikir menggerakkan lehernya jenjangnya yang masih setia dililit serban putih itu.

Zikir yang bersalut napas bau alkohol pekat dan rasa segar ekstrak buah-buahan tropis yang ditumbuhkan Tuhan juga. 

Sepeti halnya buah-buahan yang dibawa para pedagang yang menuju pasar itu. Hanya saja beda tempat dan waktu.

Dia masih ingat pesan-pesan kyainya, ustaznya, orangtuanya yang kini sudah terbujur di pusara, dan wajah yang memberi serban putih itu. 

Pesan tentang zikir yang setiap saat dan tempat, walau tubuh tak kuasa menahan maksiat.

Tibalah dia tepat di tengah perempatan. Titik yang seolah menguji kesabaran dengan kedipan satu lampu pengatur yang berwarna kuning itu.

Sebuah minibus melaju kencang kejar setoran di Subuh buta itu. Ketika semua berebut kesempatan yang hanya diatur oleh kedipkan lampu lalu lintas warna kuning itu.

Sebuah gerak laju yang miskin perlambatan. Gesekannya sudah kalah dengan percepatannya, pedal rem sia-sia belaka. Hanya menyisakan gesekan dan bunyi derit yang menyayat permukaan aspal yang masih dingin itu.

Gaya tumbukan siap beradu. Menantikan hantaman-hantaman yang sebenarnya tak perlu terjadi. Apakah malaikat bekerja dalam hal ini, ataukah ada campur tangan Tuhan, yang pasti gaya tumbuk siap menampilkan hasilnya di Subuh buta itu.

Sesaat kemudian, dia sudah terhimpit antara kemudi dan ringsek pintu mobilnya. Minibus itu menghantam dari samping. Bunyi hantamannya cukup membuat sebuah kerumunan massa untuk berkumpul di sepi itu.  

Bau kampas rem yang menyengat terbakar, masih tercium hebat.  Beberapa teriakan penumpang minibus yang sedari tadi menyeruak, masih belum terhenti juga. Berbarengan dengan beberapa penumpang yang tergopoh keluar. 

Sebuah tragis dini hari yang telah ditinggalkan bacaan tarhim, menuju Subuh yang masih meremang ufuk-ufuknya. Serban itu masih melilit kuat di lehernya, bahkan makin kuat saja. 

Suasana yang seharusnya makin benderang ditinggalkan subuh, baginya, kini makin kelam saja.

Roh yang mulai mengalir tercabut dari ujung kaki jenjangnya, naik perlahan menuju ubun-ubunnya yang lebat oleh rambut hitamnya yang sudah tak wangi itu. Hingga sampai pada leher jenjang yang berserban itu. 

Roh terhenti di leher itu, membuat sakaratul maut makin pedih saja. Urat leher yang pernah disebut-sebut dalam kitab yang pernah dia pelajari dulu, adalah kiasan terdekat letak Tuhannya, 

“Tuhan sedekat urat leher”.

Roh yang seharusnya melanjutkan perjalanannya ke ubun-ubun, masih saja tertambat di leher yang berserban itu. Sementara di luar petugas medis, polisi dan masyarakat sudah melakukan apa yang harus dilakukan.

Hingga tampil wajah yang telah dikenalnya itu.

“Sampai kapan kau bawa kain serban itu?”

“Terserah aku!”

Pertanyaan dan jawaban itu berulang lagi dalam perjalanan menuju sebuah UGD Rumah Sakit Daerah. Wajah itu ikut bersamanya di salam mobil ambulan. 

Sebenarnya dia kenal baik sosok yang memberi pertanyaan berulang-ulang tanpa bosannya itu. 

Sosok itu selalu muncul di mana saja ketika pertanyaan dengan susunan kalimat tanya yang tetap dan kaku itu dibutuhkan.

Dan jawaban dia seolah otomatis saja, sama persis dengan yang sudah-sudah. Seteguh kain serban yang selalu melilit di lehernya. 

Berhala yang bernama kain serban itu, baginya adalah dzikrul maut. Cukup efektif membantu dia meringankan penderitaan jiwanya yang meliar ala anak muda. 

Jiwanya yang ditarik kekiri mengikuti derap kebebasan, tertarik ke kanan mengikuti fitrah hati yang sesungguhnya suci adanya. Dia hanya mengandalkan sejumput kesetiaan yang kalau dihitung matematis jelas kalah dengan maksiatnya.

Kesetian lantunan zikir-zikir yang mungkin tak layak diucapkan di tempat-tempat hingar-bingar seperti kemarin itu. Lantunan doa-doa pendek yang semestinya digeber di tempat-tempat suci.

Itulah yang membuat ruh betah di urat lehernya, walaupun pedih rasanya. Tampak beberapa perlakuan medis mulai bekerja dan diaplikasikan pada luka-luka dan area yang dianggap kritis lainnya.

Kesadarannya yang sudah diambang kritis, sudah tak mampu lagi membuat mulutnya terus zikir. Kini tugas itu diambil alih oleh denyut nadinya. 

Setan-setan yang bersemayam di pembuluh darahnya, mulai merasakan desakan-desakan zikir-zikir yang telah bersatu dengan denyut nadinya. 

Roh yang sudah di ujung badannya pelan-pelan turun kembali menempati pos-posnya yang sudah ditinggalkan tadi.

Layar monitor ECG sudah menunjukkan fluktuasi grafis dengan simpangan-simpangan padat. Aliran-aliran infus intravena lancar begitu saja menyirami pembuluh-pembuluh darah yang sedari tadi kelaparan. 

Matanya perlahan terbuka, dilihatnya wajah-wajah keluarganya yang tampak penuh kecemasan dan kesedihan memandangnya. Satu lagi wajah yang tak asing baginya, berdiri tenang di antara mereka.

Mulutnya perlahan terbuka, mulai berzikir lagi sambil memandangi seseorang yang sangat dia kenali itu.

Dengan tersenyum, dia mengucap lirih ke wajah bersinar itu,

“Sampai kapan kau bawa kain serban itu?” 

“Terserah aku!” jawab orang yang berwajah cerah itu dengan tersenyum simpulnya yang mendamaikan. 

Kain serban putih itu sudah beralih tempat. Kini, serban itu melilit indah di leher orang yang wajahnya sering dia temui di diskotek kemarin, dan hari-hari sebelumnya itu.

Wajah bersinar itu mempunyai nama yang sama dengan dirinya. Semuanya identik dengan dirinya, apapun dari tubuhnya, mulai ujung rambut hingga ujung kakinya. 

Siapakah dia?