Halo semua, bagaimana kabarnya? Setelah lakukan refleksi, ternyata sudah lumayan lama penulis tidak menuangkan gagasan ataupun keluh-kesah melalui tulisan, akibat merawat rasa malas hmm. Semoga kabar kalian baik dan tetap produktif ya. 

Tulisan kali ini dilatarbelakangi oleh pengalaman empirik (penulis) yang lumayan menjengkelkan. Sesuai judul, tentu saja penulis akan menuturkan persoalan seputar "RASA MALAS atau KEMALASAN". 

Tujuannya, kurang lebih untuk melawan rasa malas itu sendiri dan ajakan refleksi bersama. Selain itu, penulis hendak membahas secara mengalir saja, sehingga related atau tidak-nya  bersifat relatif. 

Mari kita bahas..

Secara definitif, malas dapat diartikan sebagai; kurangnya motivasi untuk melakukan aktivitas atau pengerahan tenaga meskipun memiliki kemampuan untuk bertindak atau mengerahkan diri. (Wikipedia)

Generalnya, tiap orang pasti pernah merasakan malas. Tentu saja, itu dorongan manusiawi. Namun, yang penulis garis bawahi di sini adalah 'kebiasaan merawat malas'. Karena pada dasarnya, tiap-tiap orang bisa menentukan pilihan untuk berperilaku malas atau tidak.  

Jika diprediksi sesuai target, kemungkinan besar tulisan ini akan diklik oleh orang-orang pengangguran yang memiliki permasalahan dalam menghadapi atau mengelola rasa malas. 

Membahas kemalasan sebetulnya bisa jadi sangat kompleks kalau tidak dikerucutkan. Oleh karena itu, untuk membedah lebih lanjut, pertanyaan dijudul masih ada terusannya gengs.

Punya kebiasaan merawat malas? Sering menunda tugas/pekerjaan? Mager (malas gerak)? Bingung mau ngapain? Cek notifikasi dan scroll medsos berlebihan? Kurang inisiatif? Rutinitas membosankan? Tidak bersemangat? Tidak produktif? Stagnan? Merasa buang waktu karena kegiatan unfaedah? Sudah sadar terjebak dalam lingkaran kemalasan, mau berubah tapi males? Apalagi?

Mari kita tinjau sedikit demi sedikit. Melansir dari situs adjar.id; Rasa malas dalam kacamata psikologi dapat dikelompokan ke dalam behavioral apathy (perilaku apatis). 

Perilaku apatis sendiri adalah sikap 'tidak peduli' atau 'tidak tanggap' terhadap beberapa aspek kehidupan seperti; aspek emosional, sosial, dan aktivitas fisik manusia. 

Secara khusus, jika perilaku malas ini terus-menerus dirawat, bisa naik tingkat menjadi apatis ekstrem. Dalam kondisi patologi disebutkan bahwa; kemalasan dapat menyebabkan kerugian seperti; penyakit mental yang merujuk pada attention-deficit disorder (ADD) bahkan bisa menyebabkan depresi. 

Oleh karena itu, rasa malas dapat dikategorikan sebagai perilaku yang bisa merugikan kehidupan seseorang. Untuk penyebabnya (rasa malas) sendiri, tentu kompleks dan banyak faktor. 

Coba kamu tanyakan kepada diri sendiri, kira-kira kenapa masih merawat malas? 

Sedangkan secara umum, beberapa faktor (sesuai konsensus) yang kerap kali memicu rasa malas biasanya seperti berikut:

1). Kelelahan (baik fisik maupun emosional).

2). Punya ekspektasi yang tidak tercapai.

3). Mindset takut gagal dan takut di nilai, sehingga enggan melangkah. 

4).  Tidak punya tujuan hidup spesifik.

5). Kurang motivasi.

6). Terjebak kebiasaan buruk (pola hidup tidak sehat). 

7). Kurang nutrisi, atau mungkin kurang perhatian dan kasih sayang, haha.

Lanjutkan list-nya, kalian pasti punya latarbelakang tersendiri. 

Selain daftar penyebab di atas, ada sebuah riset studi terkait 'rasa malas' yang dilakukan oleh Masud Husain dari Oxford University. Inti risetnya; ternyata malas berkaitan erat dengan motivasi dan reward.

Penelitian tersebut melibatkan 40 sukarelawan, mereka diminta mengisi kuesioner motivasi  untuk dinilai tingkatan motivasinya.

Kemudian hasil riset menjelaskan bahwa rata-rata, reward tinggi dengan usaha kecil paling banyak digemari, sedangkan reward rendah dengan usaha besar paling dihindari. 

Kurang lebih begitu guys, next.

Meninjau Tingkat Kemalasan di Indonesia 

Jika ditinjau secara kolektif, melalui hasil survei para peneliti; Indonesia sendiri termasuk negara yang memiliki anggota penduduk dengan  tingkat kemalasan tinggi. (Silakan cari mandiri data statistiknya beragam versi)

Pedro C Hallal (2012) salah seorang ilmuwan dari Universidade Federal de Pelotas telah melakukan sebuah penelitian. Ia ingin mengetahui negara mana saja yang warganya memiliki kebiasaan malas bergerak. Hanya saja, lingkup penelitian yang Pedro lakukan cakupannya sebatas negara-negara di Asia Tenggara. 

Indonesia menempati posisi kedua "negara termalas" (setelah Malaysia) dengan angka kemalasan sebanyak 29,8 %. (Selengkapnya lihat di: IDX Channel.com)

Selain itu, lingkup penelitian yang lebih luas dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Stanford, Amerika Serikat (AS). Mereka melacak ponsel dari 717.000 orang di 111 negara untuk menilai seberapa aktif warga di suatu negara dalam hal berjalan kaki.

Indonesia dinilai menjadi negara paling malas karena penduduknya hanya berjalan 3.513 langkah setiap hari menurut peneliti Stanford University tersebut. (Selengkapnya lihat di: kompas.com)

Banyak penelitian senada yang mempresentasikan bahwa Indonesia termasuk dalam kategori negara termalas, namun hasil datanya beragam. Oleh karena itu, data statistik dalam tulisan ini tidak bisa dijadikan patokan saklek (sebagai tinjauan penguat saja). 

Alternatif Membuang Waktu (Kiat-kiat Menaklukan Rasa Malas)

Kita sama-sama tahu, 'waktu' itu terus berjalan, satu detik setelah anda mengedipkan mata adalah masa lalu. Bahkan tak asing, narasi "penyesalan datang di akhir" seringkali terlontar dimana-mana. Lantas apa gunanya jika hanya sekedar tahu?

Teruntuk sodara-sodaraku yang masih memelihara dan merawat kemalasan, rasa sesal itu betul-betul tidak datang di awal seperti halnya pendaftaran. Coba ditelaah ke dalam diri, apakah siap menerima dampak dan menyesal dikemudian hari?

Tentu saja kemalasan tiap-tiap individu berbeda kadar, ini terkhusus untuk orang-orang yang masih nyaman dalam lingkaran setan. Mari siapkan diri untuk menerima dampak (penyesalan) sesuai kadar kemalasan yang telah kita tanam. 

Harap garis bawahi dengan seksama, bahwa; semakin tinggi tingkat malasnya, maka semakin banyak waktu yang terbuang. Selain merugikan, malas-malasan adalah cara menunggu kematian yang paling tidak elegan.  

Eitss, don't worry. Bagi kalian yang ingin beranjak dari kemalasan dan bingung bagaimana cara buang-buang waktu yang agak elegan. Berikut penulis sajikan alternatif membuang waktu serta kiat-kiat menaklukan rasa malas:

1). Kenali Diri Sendiri

Pertama-tama dan yang paling utama, sebelum beraksi (buang-buang waktu) sangat dianjurkan untuk mengenali diri sendiri terlebih dahulu. 

Gunanya untuk apa? Hoho ini paling mendasar dan krusial, "tak kenal maka tak sayang". Loh iya, bagaimana mau melangkah tegap kalau membaca diri sendiri saja masih blur. 

Tapi sayangnya, dibutuhkan niat yang sungguh-sungguh untuk mengenali diri, karena kacamata minus sekalipun pasti tak sanggup membantu. 

Jika dikaitkan dengan kemalasan, secara sadar maupun tidak; kita sebetulnya sedang menjahati diri sendiri dengan memilih prilaku merugikan. 

Kita membiarkan diri terpasung ketidakpastian, tertinggal orang lain, dan hanya menonton waktu berlalu tanpa melakukan kebermanfaatan. RIP

Ketika kita mengenali diri, niscaya segala sesuatunya akan berjalan lebih mudah (bukan sabda). Dari proses mengenal diri ini, kita bisa mencari tahu permasalahan apa yang ada dalam diri (termasuk rasa malas). 

Karena malas ini sifat dominasinya ada dalam internal, faktor eksternal hanya pemicu saja. Coba cari 'apa penyebabnya' dan 'bagaimana solusinya'. Lebih lanjut, coba telaah; hal apa yang kita sukai dan hal apa yang bisa menjadi kekuatan agar kita memiliki motivasi kembali untuk melangkah. 

Mengutip statement Maudy Ayunda dalam kanal YouTube, katanya; "Malas bukan suatu karakter. Malas itu adalah symptom (signal) kalau kita bener-bner belum menemukan apa yang bisa memberikan kita energi".

Berarti PR kita, apapun case-nyaselamat berkenalan dan atasi kemalasan sendiri.

2. Bunuh Waktu, Sebelum Waktu yang Membunuhmu!

Dalam kiat poin 2 ini; mari refleksi lebih dalam, kita harus benar-benar menyadari bahwa; waktu itu terus berjalan sodara (boleh saja jedotkan kepala ke tembok apabila tidak sadar-sadar). Salah satu tips untuk menyadari hal ini, kalian bisa menerapkan sebuah prinsip memento mori (mengingat hari kematian). 

"Kematian adalah pengingat yang baik"

Selain menambah angka kemalasan di Indonesia, kita semua sedang berjalan menuju kematian. Oleh karena itu, penulis mengajak refleksi untuk dengan seksama membunuh waktu, sebelum kita yang terbunuh. Kalau kata Nessi Judge " So stop senyum-senyum, the shits about to go down". Xixi

Ketika terjebak dalam kemalasan, sebetulnya kita tahu banyak hal produktif yang bisa dilakukan. Namanya juga malas, jadi penulis tidak akan memberikan rekomendasi 'kegiatan', jelas terdengar basi dan tidak efektif. Lagian sudah besar, pasti bisa membedakan baik-buruk atau sehat-tidaknya sesuatu. 

Melalui tulisan ini, di samping menemani kalian (baca), substansinya; penulis sedang berupaya menaklukkan rasa malas juga.  Toh dengan membaca 'tulisan ini' sebetulnya kalian sedang membunuh waktu kok!

Tidak banyak kiat dan alternatif yang penulis berikan. Jangan salah, kegiatan "mengenali diri sendiri" juga termasuk alternatif membuang waktu. Setidaknya, ketika malas ngapain-ngapain; menyelami diri sendiri itu lebih esensial.

Di penghujung, berikut ada beberapa tips tambahan yang ingin penulis bagikan untuk kalian yang berupaya menaklukkan kemalasan:

- Benahi mindset, kenali diri sendiri. Mulailah dengan mengkritisi diri; Kenapa bisa malas? Apa betah seperti itu? Solusinya bagaimana? (Inshaallah diri sendiri tidak akan menimpali pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti hal nya Dilan KW, kecuali anda syndrom). 

- Ciptakan target tertentu (baik kecil maupun besar), karena biasanya malas muncul disaat kita tidak punya target spesifik atau berada di zona nyaman. 

- Setelah mindset kembali waras, anda bisa mulai membunuh waktu dengan kegiatan bermanfaat (apapun itu): membaca, menulis, melukis, nyuci, nyapu, ngepel, olahraga, mengerjakan tugas yang sudah menumpuk, dagang cilok, dan lain-lain.

- Puasa media sosial, cobalah alternatif ini. Social media minimalism dampaknya sangat sehat, karena kalian bisa mindfulnes dikehidupan nyata. Percayalah, mengecek gawai terus menerus dapat mengikis kesadaran kita di 'dunia nyata' (fokusnya beralih ke dunia maya). 

- Adopsi nasihat-nasihat yang bisa memantik semangat gerak, perbanyak kata mutiara tentang seberapa berharganya waktu, biar kesadaran terus terjaga. Simpan sebagai pegangan ketika malas menghampiri. 

Selamat eksekusi membuang waktu. Kalaupun masih betah merawat malas, semoga ke-malasan-nya bertransformasi ke arah yang lebih positif, seperti; malas ghibah, malas foya-foya dan malas malas-malasan.

Sudah panjang sekali tulisannya gengs. Sekian, sampai jumpa dilain kata.