Freelancer
1 bulan lalu · 333 view · 3 min baca menit baca · Politik 26898_19848.jpg
CNN Indonesia

Serangan Bertubi-tubi Demokrat Melumpuhkan BPN

Sungguh kita tak menyangka, akhirnya Partai Demokrat melalui politisinya menyerang habis-habisan teman koalisi mereka, yaitu BPN Prabowo-Sandi.

Serangan itu pun begitu dramatis melalui akun Twitter. Politisi itu adalah Andi Arief. Dalam Twitter-nya @Andi Arief_, menulis: “Saya keliling daerah, rakyat menunggu 02 bawa bukti 62 persen seperti sudah dikemukakan Pak Prabowo."

Ini menyangkut nama baik dan kredibilitas beliau. Mungkin statement ini menyakitkan, tapi kenyataannya ini yang ditunggu. Bukan soal bank syariah (CNN Indonesia, 13/6).

Twit berupa serangan dari Andi Arief sudah berkali-kali. Yang paling hangat dan panas saat sebutan “Setan Gundul” yang diarahkan memengaruhi Prabowo dan banyak lagi serangan, sehingga sudah bertubi-tubi Andi Arief menyerang koalisinya.

Hal ini sudah menguatkan bahwa koalisi mereka sudah tak solid. Demokrat tidak lagi nyaman berkoalisi dengan BPN hingga akhirnya diupayakan serangan bertubi-tubi tersebut.

Makin gencarnya Andi Arief menyerang BPN juga terkait serangan terhadap Ani Yudhoyono yang dituding pura-pura sakit agar Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak ikut mengampanyekan Prabowo-Sandi. Dan, banyak lagi “buzzer” lainnya.

Keterkaitan itulah membuat Andi Arief sekiranya menyerang bertubi-tubi BPN dan mempersoalkan KH Ma’ruf Amin dengan dua bank syariah.

Saling Terkam


Jika terus-menerus Andi Arief seperti ini, maka ini dinamakan teman menerkam teman. Koalisi dibangun memenangkan Prabowo-Sandi, tetapi harus begini jadinya. Diserang habis-habisan. Dipersoalkan setiap ungkapan maupun pernyataan BPN seperti tidak lagi berkoalisi.

Dapat dikatakan ini bagian dari istilah homo homini lupus. Artinya, manusia adalah serigala bagi sesama manusianya.

Dalam artian ini bahwa serangan dari Andi Arief membuktikan ingin menerkam sesama koalisinya. Sangat janggal bila namanya koalisi, tetapi saling serang, padahal belum ada pembubaran koalisi yang disepakati.

Dari awal sudah memiliki konsensus untuk memenangkan Prabowo-Sandi, tetapi di tengah jalan adanya ‘pengkhianat” dan serangan kepada sesama teman koalisi. Ini memang begitu menyakitkan.

Akan tetapi, dalam politik, kemungkinan ini sah-sah saja, karena beginilah politik yang kita lihat. Namun, bila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka ini tidak diperkenankan.

Kita adalah sesama anak bangsa yang hidup di negara yang sama, satu bahasa dan satu bangsa. Kita diminta dalam kehidupan ini untuk bersatu mempertahankan kemerdekaan yang telah direbut oleh The Founding Fathers dari para penjajah. Jadi, tidak boleh bertengkar dan berperang dengan sesama anak bangsa.

Biarlah politik begitu, tetapi masyarakat juga jangan menjadi meniru sikap dan tindakan politisi tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Itu tidak dapat disamakan tentunya. Politik, ya politik; dan kehidupan berbangsa, ya kehidupan berbangsa. Jangan dicampurkan politik yang tidak sehat dalam kehidupan karena itu akan melukai manusia lainnya.

Kita tak boleh menerkam sesama kita atas perintah apa pun. Kita sudah dibingkai dalam Pancasila sebagai ideologi kita untuk bertindak dan berperan demi kehidupan bangsa dan negara. 

Jangan kita berperang seperti istilah homo homini lupus tersebut. Bijaklah seluruh masyarakat menyikapi dinamika politik saat ini. Tidak boleh diterkam bulat-bulat begitu saja, karena akan menjadi racun yang membahayakan jantung keindonesiaan kita.

Pegang Teguh Persahabatan

Saat ini, dinamika perpolitikan kita sedang tidak baik. Banyak sekali hal-hal yang tidak mengedukasi dan memberikan pencerahan. 

Jangan sampai karena masyarakat di akar rumput menonton dan memperhatikan perpolitikan yang dimainkan politisi membuat edukasi politik buruk. Rakyat ikut-ikutan emosi dan menyerang pendukung lainnya yang ada di sekitarnya. Hal itu akan menambah masalah besar buat negara dan bangsa.

Mari kita ingat apa yang dikatakan Presiden Soekarno bahwa musuh terbesar yang dihadapi bangsa ini ke depan bukan lagi kaum penjajah, melainkan diri sendiri. Saat ini ego para politisi dimainkan, sehingga panas politik tidak pernah reda. 


Aksi serangan bertubi-tubi dilakukan, sehingga terus saja kita berdebat. Adanya “buzzer” politik untuk mengungkit dan membesar-besarkan masalah politik yang ada.

Ego sektoral dari politisi ini harusnya diredam agar bangsa dan negara ini makin baik dan bijak berpolitik. Rakyat saat ini menyaksikan dagelan politik para politisi. Dan, edukasinya tidak didapatkan karena hanya serangan melulu. 

Tidak membuktikan diri bahwa politik itu baik dan tidak sepenuhnya jelek. Politik itu bisa membangun negara ini dengan langkah-langkah positif. Bukan dengan menerkam sesama politisi lainnya.

Ini pelajaran berharga bagi kita semua agar tetap mempertontonkan drama politik yang sehat. Pegang teguh persahabatan itu, karena itu yang membuat kita tetap akur sesama politisi khususnya. 

Dalam setiap persaingan politik harusnya tetap mengedepankan persahabatan. Jika saat berdebat harusnya mempertontonkan narasi yang sehat dan bergizi tinggi, bukan serangan-serangan menakutkan.

Jadi, apa yang disampaikan Andi Arief tersebut sebagai bentuk serangan bertubi-tubi yang telah melumpuhkan BPN Prabowo-Sandi. 

Hingga pada akhirnya, kita akan menyaksikan serangan balik lainnya yang mungkin akan lebih agresif. Tak tahu sampai kapan berakhir. Terpenting, rakyat tidak terkontaminasi dengan itu.

Artikel Terkait