Tanpa kita sadari, tensi politik setelah Pemilu makin panas saja. Kita dihantui serangan-serangan politik dari para politisi tanah air. Bahkan, yang terhangat sesama koalisi sudah saling serang. Serangan balik dilancarkan untuk melumpuhkan musuhnya. 

Lihatlah saudara sekalian bagaimana serangan Andi Arief mengenai “Setan Gundul” yang dibalas kembali Kivlan Zen, seorang pensiunan TNI yang mengatakan bahwa SBY tidak menginginkan Prabowo menjadi Presiden.

Selanjutnya, Andi Arief mengatakan bahwa Kivlan Zen berbisnis Galang Massa di tahun 1998. Andi mengatakan bahwa dulu Kivlan merupakan komandan bisnis Pamswakarsa bentukan ABRI. Kivlan, kata Andi, mendapat untung ketika Pamswakarsa membunuh puluhan orang. Pamswakarsa sendiri untuk menangkal perlawanan kelompok yang menuntut demokratisasi.

"Tahun 1998 juga Pak Kivlan yang menjadi komandan bisnis Pamswakarsa gagal mempertahankan Pak Habibie (sebagai presiden)," ucap Andi melalui pesan singkat (CNN Indonesia, 9/5).

Koalisi pecah

Serangan balik yang dilancarkan oleh Andi Arief ini membuktikan bahwa mereka (Partai Demokrat) tidak lagi srek berkoalisi dengan BPN Prabowo-Sandi. Terlihat bahwa serangan balik tersebut memicu konflik koalisi. Tidak ada lagi keakuran yang tercipta, sehingga ada aksi saling serang.

Kalau seandainya akur, mungkin tidak akan begitu. Tentu tidak akan saling serang dan saling menjatuhkan satu sama lain. Ini dapat menjadi bahan diskusi dan nyinyiran kubu lawan politik TKN Jokowi-Amin yang membaca bahwa kubu BPN sudah pecah. Koalisi sudah tak lagi akur dan saling serang.

Ini pun akan menjadi perbincangan hangat di ruang publik dan di media sosial dan menimbulkan reaksi yang begitu banyak. Bahkan, ada yang saling hujat nantinya. 

Wajar-wajar saja dalam politik begitu. Karena politik itu tidak ada kata kesetiaan. Tidak ada kata teman, semua bisa jadi lawan dan tidak ada pandangan yang sama. Selalu ada perdebatan juga. Politik itu memang kejam karena ada juga saling siku, terutama dalam persaingan dalam kursi wakil rakyat maupun kursi RI 1.

Jadi, perang Andi Arief dan Kivlan Zen bisa saja berlanjut. Bisa jadi, Kivlan Zen akan menyerang kembali karena masa lalunya yang diungkit dan disebarkan ke media dan ke masyarakat. Makin panas perdebatan mereka, maka rakyat juga bisa panas. Makin membuktikan juga bahwa koalisi di tubuh BPN makin retak.

Dalam pandangan saya, ketidakakuran di kubu BPN ini sudah terlihat sedari awal, sebelum pemungutan suara digelar, pastinya di masa kampanye. Berhembus kencang bagaimana Demokrat bermain politik dua kaki. 

Lihatlah para caleg dan kadernya, banyak juga yang mendukung pasangan nomor urut 01 Jokowi-Amin. Hal itu membuktikan Demokrat tidak bisa untuk mengatur kader dan calegnya memenangkan Prabowo-Sandi.

Bagaimana pula saat kampanye akbar Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno (GBK), Agus Harimurti Yudhoyono tidak datang. Ini telah memberikan sinyal ada masalah di kubu koalisi mereka. Ada hal-hal yang tidak membuat nyaman, sehingga dukungan tidak full kepada Prabowo-Sandi.

Dari awal itu, kita bisa mencermati bagaimana rapuhnya koalisi tersebut. Hingga pada akhirnya, menurut hasil quick count dan real count sementara KPU, Jokowi-Amin masih unggul dari Prabowo-Sandi.

Dukungan yang full tentu akan membuat suara itu makin bulat dan kuat. Bila setengah hati dan berpolitik dua kaki, tentu saja mesin politik untuk merayu dan menggoda rakyat memilih tidak kuat. Jadi, lemah dan menurunnya suara rakyat yang diberikan.

Selain itu pula, saya melihat bahwasanya Demokrat saat ini tidak lagi bisa mengharapkan apa-apa dari Prabowo-Sandi. Dari hasil quick count dan real count sementara KPU, membuktikan Prabowo-Sandi kalah. Karena itu, tak ada yang bisa diharapkan lagi. Misalnya, kursi menteri dan di lembaga negara lainnya pun tak bisa untuk didapat, jadi apa gunanya berkoalisi terus? Sudahi saja koalisi ini, toh politik itu tidak mengenal kesetiaan.

Bisa jadi arah dan pemikiran politik Demokrat seperti itu, sehingga tak ada lagi yang harus dijaga. Serangan terhadap koalisi pun bisa dilakukan habis-habisan. Ya, terserah kepada kubu BPN Prabowo-Sandi bagaimana nasib dari koalisi mereka.

Kita hanya berdoa bahwa pemimpin yang terpilih dan akan diumumkan tanggal 22 Mei oleh KPU adalah pemimpin idaman rakyat, mampu mempersatukan dan mampu menjawab kegelisahan rakyat. Di momen 22 Mei itu juga kita tidak gaduh dan mengerahkan massa mendeligitimasi hasil pengumuman dari KPU itu.

Itu adalah harapan dan doa kita bersama. Siap untuk menang dan siap untuk kalah itu harus dipertahankan, meski koalisi pecah sekalipun. Terakhir, apa pun yang kita saksikan saat ini mampu menjadi pembelajaran di pemilu yang akan datang.

Pascapemilu,tensi politik harus reda atau dingin. Tidak lagi berseteru, apalagi mengerahkan massa. Sudah, tinggal duduk manis saja menantikan pemimpin pilihan rakyat hasil dari rekapitulasi nasional KPU. Semoga kita tetap damai dan bersatu.