Peneliti
1 tahun lalu · 223 view · 6 menit baca · Politik 76636.jpg
Foto: Dokumen Pribadi

Serang Madani, Kota Dambaan Masa Depan

Menjelang Pilwalkot 2018

Koentjaraningrat (1969), seorang Ahli Sosiologi Indonesia termasyhur, menjelaskan bahwa Jawa Barat mempunyai empat suku bangsa yang terdiri dari; Suku Sunda, Suku Betawi, Suku Baduy, dan Suku Banten. Masing-masing suku itu menempati daerah-daerah tertentu.

Bagaimana suku Banten? Secara eksistensi ia menempati daerah bagian barat Jawa Barat. Mereka kini berkembang semakin banyak dan terus tumbuh berkembang dan meluas seiring usia dunia yang semakin menua (H.M.A. Tihami, 2004)

Jika kita melihat masyarakat Banten, khususnya Kota Serang, akan tampaklah struktur masyarakatnya yang terdiri dari tiga komponen, yakni ulama, santri dan jawara.

Masyarakat Banten sejak dulu dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius, sebagai representasi dari kaum santri dan para ulama. Pula dikenal sebagai komunitas jawara, sebagai representasi dari para pendekar-pendekar Banten, di mana mereka awalnya adalah para santri yang belajar pencak silat atau bela diri.

Kebiasaan masyarakat Serang, Banten, khususnya kaum muda, mereka senantiasa mengaji al-Quran bersama-sama di rumah salah seorang ulama di suatu tempat. Kegiatan tersebut ramai sekali dilakukan di setiap kampung, biasanya dilaksanakan setelah salat magrib hingga menjelang isya. Dilanjutkan kemudian dengan berlatih pencak silat setelah salat isya hingga larut malam. Dilakukan, biasanya, dua atau tiga kali dalam seminggu (Ali Sodikin, 2014).

Ulama mempunyai peran yang sangat penting, ia dianggap sebagai pemimpin moral bagi masyarakatnya, sedangkan jawara mempunyai peran strategis sebagai eksekutor di lapangan. Sinergitas yang dibangun tentu membawa dampak positif bagi eksistensi masyarakat Banten untuk memukul mundur siapa saja yang akan menggangu dan membuat kerusuhan serta perpecahan di wilayah Banten.

Dalam sejarah masa kolonial di Indonesia, Belanda sangat kesulitan melawan serta meruntuhkan kerajaan Banten, hingga akhirnya Belanda memakai politik licik, adu domba (devide et impera). Hal itu menunjukkan betapa kokoh dan solidnya masyarakat Banten saat itu.

Hubungan antara ulama-jawara terus berlanjut secara baik bahkan solid. Keakraban tersebut terlihat mesra ketika partai-partai Islam, salah satunya adalah Masyumi, tumbuh subur di wilayah Banten saat era rezim Orde Lama.

Di era Orde Baru, Soeharto, sistem demokrasi yang hanya membolehkan dua partai politik ditambah satu golongan kekaryaan, nasib Masyumi menjadi partai gembos. Otomatis, partai-partai Islam melakukan perkawinan (berfusi) ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebagai satu-satunya partai Islam pilihan kala itu.

Orde Baru dengan menunggangi kendaraan politiknya, Golkar, terus mengembangkan pengaruh dan kekuasaannya dengan menjadikan Islam politik sebagai ancaman bagi eksistensi Golkar. Segala usaha dikerahkan secara maksimal agar partai berbasis agama tersebut menjadi lemah dan tak berdaya. Usaha pelemahan tersebut diwujudkan dalam operasi intelijen yang dikenal dengan “opsus”, sebagai pemimpinnya adalah Ali Moertopo.

Dalam opsus tersebut segala cara dilakukan, termasuk politik belah bambu antara ulama dan jawara, demi untuk kekuatan dan keperkasaan Golkar. Konsekuensinya adalah eksistensi ulama yang semula merupakan tokoh senter dalam kehidupan masyarakat Serang, Banten seiring waktu termarjinalkan dan tak lagi memiliki “taring tajam” seperti semula.

Golkar, militer (dahulu ABRI), dan birokrasi selama puluhan tahun bersatu memperkuat rezim Orde Baru. Ada salah seorang tokoh Banten ditempatkan eksklusif dalam posisi yang sangat strategis pada konfigurasi politik Orde Baru. Dia adalah (alm) Chasan Sochib. Pada tahun 1967, tepatnya, beliau dipercaya untuk mengatur pengadaan dan distribusi beras dari Lampung untuk Kodam Siliwangi (Gandung Ismanto, 2010)

Ketika Banten memisahkan diri dari Jawa Barat, Banten mengalami perubahan dalam berbagai aspek secara signifikan. Sejatinya, dengan munculnya reformasi dan demokrasi terbuka maka kesejahteraan rakyat pun seyogyanya berubah dan mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik.

Undang-undang  Otonomi Daerah No. 23 Tahun 2004 seharusnya membawa angin segar perubahan bagi ekonomi rakyat Banten, karena kewenangan daerah dalam mengurus wilayahnya lebih nyata, efektif, dan dinamis.

Dengan undang-undang tersebut seharusnya tingkat kesejahteraan rakyat Banten meningkat. Tingkat kesejahteraan tersebut mestinya berbanding lurus dengan kehidupan demokrasi yang mencita-citakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat setempat.

Kota Serang Madani

Momentum Pilkada Serentak 2018 Kota Serang hanya tinggal menghitung bulan, aromanya sudah tercium mewangi, sebentar lagi akan dilaksanakan Pemilihan Walikota Baru. Bagi politik Kota Serang, tahun 2018 akan lebih ramai dan meriah.

Pada tahun tersebut akan menjadi arena perebutan tahta. Momentum lebaran idul fitri 1438 kemarin pun dijadikan ajang “perang spanduk” bagi para bakal calon Walikota Serang untuk meraih simpati dan suara dari masyarakat Kota Serang.

Tahun 2018 tersebut merupakan momentum berharga dan paling menentukan untuk pembangunan Kota Serang ke depan. “Oleh siapa kita akan dipimpin, bagaimana ia akan “mengolah” Kota Serang menjadi kota yang beradab dan makmur, dan jurus apa yang akan dipakai agar berhasil sesuai dengan harapan dan impian masyarakatnya?”

Menyoal Kota Serang dengan sebutan Madani, saya teringat tulisan Neng Dara Affiah.

Menurut Neng Dara Affiah, Direktur Indonesian Women and Child Empowerment Institute, ketika Nurcholish Madjid masih hidup, dalam ceramahnya, beliau sering mengatakan bahwa Islam itu adalah agama kota (diin madaniy), suatu agama yang kosmopolit, berwawasan mendunia, terbuka pada kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban baru serta komunitas yang bergairah dan dinamis.

Beliau juga menunjukkan fakta bahwa Nabi Muhammad itu adalah orang kota, Nabi tumbuh di Makkah saat masa kanak-kanak dan mudanya. Nabi juga tumbuh di Madinah saat menjadi dewasa. Keduanya adalah di kota. Cak Nur saking tertariknya terhadap kebudayaan kota, beliau menamakan lembaga yang didirikannya "Paramadina” (orang-orang kota), “Sekolah Madania” yang lokasinya di Bogor, dan Paramadina Mulya.

Kesemuanya berasal katanya dari madinah, artinya kota atau beradab. Kebalikan dari kebudayaan kota dalam sejarah Islam adalah suku Baduy, suku terpinggir, yang dianggap kurang 'beradab" dan kurang berilmu, berwawasan sederhana dan berkarya secara sederhana.

Dalam pengertian di atas, kota dan desa tidaklah menunjukkan wilayah, melainkan menunjukkan keadaban dan ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya kesopan-santunan.

Jika orang berilmu dan beradab sekaligus, meski dia ditinggal di desa, bahkan di lereng gunung sekalipun, tetap ia akan dianggap orang kota (madinah), karena ukurannya bukan pada wilayah, melainkan keadaban dan ilmu pengetahuan tersebut. Sebaliknya, meski ia tinggal di kota, tapi perilakunya buruk, pikirannya picik dan selalu negatif, apalagi mentalnya jahat, maka ia tak dapat disebut orang kota.

Menurut Ranta Soeharta (SBO, 8/5), selaku Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Banten, makna Kota Serang Madani akan terwujud jika lima faktor berikut bisa dihadapi dan dicapai oleh bakal calon Walikota Serang yang akan maju dan bertarung sebagai Walikota Serang 2018-2023, antara lain: mewujudkan masyarakat sejahtera, infrastuktur bagus, kepentingan mayoritas masyarakatnya yang muslim diutamakan, Kota Serang Cerdas, dan Kota Serang Beriman.

Dalam satu kesempatan lain, Ranta juga memberikan tantangan kepada semua bakal calon Walikota Serang. Tantangan tersebut antara lain: Pertama, meningkatkat PAD Kota Serang, kedua, menarik para investor, ketiga, tidak mengandalkan APBD, keempat, mengambil kebijakan-kebijakan ekstrem, dan kelima, meningkatkan kesejahteraan PNS dan non PNS serta masyarakat Kota Serang tanpa APBD.

Ada titik temu yang bisa diambil dari asa Cak Nur dan Ranta Soeharta mengenai soal Serang Madani. Serang Madani adalah suatu kota yang kosmopolit, berwawasan mendunia, terbuka pada kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban baru serta komunitas yang bergairah dan dinamis, masyarakatnya beradab, sejahtera, aman, tentram. Pejabatnya jauh dari perilaku negative dan tercela, seperti; korupsi, kolusi dan nepotisme.

Sebuah kota impian yang akan disegani dan diidam-idamkan masyarakatnya kelak. Siapa pun walikotanya yang nanti akan terpilih, mempunyai tanggungjawab akan mewujudkan Kota Serang Madani secara konkrit.

Apa kabar saudara-saudari bakal calon Walikota Serang 2018-2023? Apakah saudara-saudari sudah mengetahui dan memahami bahwa jabatan itu adalah “amanah”? Tujuan saudara-saudari bukan mencari uang atau menambah pundi-pundi rupiah. Tujuan saudara-saudari yang utama adalah melayani rakyat agar rakyat tak lagi ada yang kelaparan, tidak ada lagi yang tidak bersekolah, dan tidak ada lagi warga yang sakit tak bisa berobat karena biaya.

Saudara-saudari “dipilih” oleh Tuhan untuk membangun Kota Serang menjadi lebih baik. Rakyat berharap penuh kepada saudara-saudari, jangan pernah sesekali mengkhianati rakyat, saudara-saudariku.

Terakhir, penulis ingin menyampaikan pesan moral kepada masyarakat Kota Serang, bahwa untuk dapat menghadirkan Walikota Serang seperti harapan rakyat, maka seleksi awal sudah harus mulai dilakukan dengan mencermati, mengkritisi, mencari tahu asal muasal serta kepemimpinan para bakal calon. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk masa depan Kota Serang yang lebih gemilang, mewujudkan Kota Serang Madani bagi semua masyarakatnya.