Di depan beranda rumah dengan siluet mentari keemasan yang perlahan tenggelam di balik pegunungan. Bapak duduk sambil berusaha melepas sepatu dengan noda kering yang menempel di tiap sisinya. 

Beberapa menit yang lalu, ia baru tiba di rumah, turun dari motor bebek tuanya, menghampiriku, meninggalkan kecupan di keningku sebelum akhirnya duduk di salah satu kursi, di sisi sebelah kiriku.

Aku sudah menunggu bapak. Ingin menanyakan beberapa pertanyaan yang masih menggantung di kepalaku. Pertanyaan yang muncul sehari sejak ia mengajakku pergi ke kantor tempat ia bekerja, di Lembaga Pemasyarakatan. 

Aku memandanginya. Wajahya nampak tua, bayak garis menempel di sekitar matanya. Namun, rautnya selalu memancarkan ketenangan. Sejak dulu, tidak pernah berubah.

“Bapak lelah yah?” tanyaku membuka pembicaraan.

“Lumayan,” ucapnya sambil melempar senyum.

"Emangnya bapak nggak takut, dengan kerjaan bapak? Bapak kan selalu dekat dengan orang-orang jahat."

Bapak kembali tersenyum. Tangan kirinya menepuk-nepuk kedua telapak kakinya secara bergantian, kemudian memasukkan kaos kaki ke dalam sepatunya. Sambil bersadar pada kursi, bapak lalu berkata.

"Mengapa bapak musti takut, yang perlu kita takutkan kan hanya Tuhan. Guru agama di sekolahmu pasti sudah mengajarkan tentang hal itu bukan? Lagipula pekerjaan bapak ini kan, hebat. Coba kamu bayangkan, bapak ini punya tugas membuat orang jahat jadi baik loh."

"Memangnya seperti itu?” tanyaku penasaran.

“Tentu,” jawab bapak sambil mengangguk bangga.

Aku menatap bapak. Pandangannya lurus menikmati panorama senja di atas hamparan sawah yang ditumbuhi padi yang bulirnya sekuning matahari sore itu. Semilir angin mempermainkan ujung rambutnya yang selalu ditata ke sebelah kiri.

Bapak mengambil sepatunya. Berdiri dan memindahkan ke rak yang berada di pojok teras rumah. Di samping kiri rumah beberapa anak sebayaku nampak sedang asyik bermain kelereng.

Mereka bergantian berteriak saat berhasil mendapatkan kelereng lawannya. Ayah kembali duduk, menyandarkan punggungnya ke kursi, memberikan kesempatan pada tulang-tulang yang menyanggah tubuhnya seharian untuk beristirahat.

"Lalu bagaimana bapak bisa melakukan itu semua? Bagaimana bapak bisa mengubah orang jahat itu jadi orang baik," tanyaku penasaran.

"Apa yang bapak lakukan, sama seperti yang ibu guru kamu lakukan. Nah, coba pikirkan, kamu bisa sholat dan tau ngaji kan, karena diajarkan oleh ibu gurumu, begitupun yang bapak dan teman-teman di kantor lakukan. Kami bimbing mereka agar bisa jadi orang baik," ia kembali melempar senyum, kemudian melanjutkan "Sudah paham kan?"

Aku mengangguk. Namun, rasa keingintahuanku belum sirna, seperti tumpukan eskrim yang sering aku lihat di dalam kotak pendingin di sebuah toko. Beragam bentuk, beragam rasa, ingin aku cicipi satu persatu.

"Jadi apa yang bapak ajarkan pada mereka untuk jadi orang baik"

"Banyak hal, kami bimbing mereka agar taat beribadah, kami bimbing mereka membuat keterampilan sesuai keahliannya, seperti kursi yang kamu duduki sekarang ini, adalah hasil kerajinan mereka.”

Pandanganku tertumbuk pada kursi yang dicat dengan warna natural mengkilap, mengelusnya dan merasakan betapa lebut dan indah tekstur kayunya. Selama ini aku menyangka jika kursi ini dibuat oleh mesin khusus, nyatanya aku keliru. 

Belum berhenti aku mengagumi kemampuan hasil karya narapidana ini. Bapak berkata sambil mengarahkan telunjuknya ke arah dinding.

"Coba lihat bingkai foto itu, terbuat dari koran bekas, itu juga hasil kerja mereka"

Aku pun baru sadar, selama ini, aku hanya memperhatikan kalimat yang tertulis dalam bingkai foto itu, dan luput dari kenyataan jika bingkai itu terbuat dari kertas koran bekas.

***

Sejak awal melihat bingkai itu, memang aku hanya tertarik pada isinya. Aku masih ingat, bapak begitu senang menunjukkan kepada aku dan ibu, selembar kertas putih dengan guratan emas bertuliskan nama bapak di dalamnya. Sewaktu aku bertanya pada bapak, apa bagusnya selembar kertas itu.

Bapak menjawab dengan bangga jika, kertas itu adalah sebuah penghargaan khusus yang diberikan oleh kantornya karena, telah berulang kali menggagalkan aksi masuknya penyelundupan narkoba ke dalam lapas.

Aku sendiri tidak paham apa itu narkoba. Bapak hanya menyampaikan padaku agar menjauhi barang itu. Jika berurusan dengan barang itu, bisa membuat tuhan sangat marah. Polisi akan menangkap kita. Ujung-ujungnya berakhir di kantor bapak dengan hukuman sangat panjang

Mendengar hal itu, aku berjanji di dalam hati, tidak akan pernah berurusan dengan benda seperti itu. Meskipun aku belum pernah menyaksikan benda macam apa yang bapak sebut sebagai narkoba. Namun ucapan bapak, sudah cukup membuatku takut.

Memang, aku sering tak sengaja mendengar percakapan bapak dan ibu, tentang keberhasilannya di hari itu menggagalkan masuknya narkoba. Bapak juga sering ngomong, jika bapak kerap kali ditawari uang dengan jumlah sangat banyak oleh narapidana, sampai puluhan juta. Namun, bapak terus menolak.

Setelah mendengar percakapan itu, kadang aku berusaha membayangkan, berapa banyak jumlah uang yang bernilai puluhan juta itu. Kemampuan berhitungku masih sangat buruk. 

Aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Belum cukup paham untuk memisahkan antara puluhan, ribuan, ratusan ribu, hingga jutaan, jika sudah diselipkan angka-angka

Namun, yang aku tidak habis pikir mengapa narapidana itu ingin memberikan uang pada bapak. Dan bapak malah menolaknya. Padahal bapak sendiri yang sering mengajarkan padaku agar selalu berbagi dan memberi kepada teman-teman juga pada orang yang sedang kesusahan.

Bukankah narapidana itu ingin berbuat baik? Mengapa bapak menolak seseorang untuk berbuat kebaikan? Atau memang menerima pemberian dari narapidana adalah hal yang keliru?

Aku pernah menanyakan tentang hal itu pada bapak, tapi bapak hanya tersenyum dan memberikan jawaban sekenanya, jika belum saatnya aku harus mengetahui hal itu.

***

Aroma ikan menggantung di udara, dari dalam rumah ibu memanggil kami. Hampir berbarengan dengan suara adzan yang menggema dari kejauhan. Bapak menghampiriku dan menaikanku ke atas pundaknya. 

Bapak memberi aba-aba, seperti seorang pilot yang menyampaikan pada penumpangnya jika kapalnya sebentar lagi lepas landas dan siap mengudara. Ia tersenyum. Dan itu adalah senyuman terakhir yang aku saksikan

***

Aku meringkuk di atas kasur, memandangi seragam bapak yang tersampir di dinding dengan logo pengayoman di sisi kiri dan pemasyarakatan di sisi kanan lengannya. 

Ingatanku mengarah pada bapak, menutup mata untuk melihat jelas senyum yang tergurat dari sudut bibirnya. Saat ini, aku tak bisa lagi melihat senyuman itu. Senyuman yang selalu memberi kehangatan pada diriku.

Dua hari lalu, bapak meninggal dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi saat perayaan hari kemerdekaan tujuh belasan. Aku sempat mendengar pembicaraan ibu dengan teman kantor bapak.

Saat kerusuhan berlangsung, salah seorang narapidana yang pernah gagal membawa narkoba menyerang bapak, karena jumlah narapidana yang sudah begitu banyak di dalam lapas, membuat aksi itu sulit untuk diredam. 

Bapak sempat dilarikan kerumah sakit. Namun, dalam perjalanan, ia tidak sanggup bertahan.