Wanua penrang wassele’na
Koko doang bale sibawa ase
Iyanaro wassele maegana
Pakkampong ri wanua penrang

(Daerah Pinrang dan penghasilannya)

(Kakao, udang, ikan dan padi)

(Itulah penghasilan terbanyaknya)

(Penduduk di Pinrang)

~Penggalan Lagu “Wanua Penrang”  Anonim

Kabupaten Pinrang—ujung selatan dari Provinsi Sulawasi Selatan ialah daerah yang banyak diperbincangkan sebagai lumbung padi nasional. Penggalan lagu di atas pun menggambarkan bagaimana Pinrang itu sangat kaya di bidang perikanan dan pertanian. Joko Widodo—presiden RI pada kunjungan kerjanya di Desa Barang Palie, Kecamatan Lanrisang (Ujungpandang Ekspres, 7 November 2014) mengakatakan: pertanian Pinrang harus digenjot demi meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya petani.

Lahan seluas 53 juta hektar ini memang perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Pendapat tersebut pun tidak hanya diungkapkan oleh satu orang. Sebut saja  Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo, Andi Nawir, Sutisna dan Muhammad Nasyit Umar  yang ketiganya merupakan Anggota Komisi IV DPR RI pun turut mengapresiasi Pinrang dalam sektor pertanian pada kunjungannya April 2016 lalu.

Namun, potensi lahan tersebut ternyata belum memberikan kesejahteraan bagi petani. Terbukti dengan kasus menghebohkan dari sekawanan petani Pinrang yang ditangkap Kepolisian Polsek Kawasan Pelabuhan Nusantara (KPN) Kota Parepare, karena kedapatan membawa 1 kilogram sabu di Pelabuhan Nusantara Parepare. 

Salah satu dari petani tersebut pun mengatakan bahwa menjadi kurir sabu terpaksa dilakukannya karena menjadi petani di Pinrang sangat memprihatinkan. Gabah rusak, malah harga kian anjlok. Selain itu, pada Maret lalu ratusan petani dari 12 kecamatan di Pinrang melakukan unjuk rasa di kantor DPRD Pinrang lantaran Persatuan Penggiling Padi (Perpadi) yang dibentuk oleh pemerintah daerah dianggap tidak pro petani.

Beruntungnya, tindak lanjut pemerintah tak perlu menunggu lama. Bantuan demi bantuan pun berdatangan. Sebut saja pada Mei 2016, Bupati Pinrang Aslam Patonangi menyerahkan 44 unit Hand Tractor kepada kelompok tani se- Kabupaten Pinrang. Pada Juni 2016, 42 kelompok petani di dua kelurahan di Kecamatan Tiroang yang merupakan korban Puso (gagal panen), mendapatkan bantuan 29,21 ton benih dari Pemprov Sulawesi Selatan. Serta Agustus lalu, 92 kelompok tani di Kecamatan Paleteang pun menerima bantuan alat produksi pertanian dari pemerintah pusat dan lain-lain.

Namun dari bantuan-bantuan tersebut, nampak pemerintah hanya terfokus pada hasil pertanian saja. Pemerintah seperti mengenyampingkan kepentingan petani dan pemberdayaannya sehingga pelaksanaan UU No.19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani sepertinya harus ditingkatkan lagi.

Di kalangan masyarakat, petani seringkali dianggap penghuni kasta bawah pada status sosial. Padahal tidak banyak yang tahu bahwa pengalaman sebagai petanilah yang lebih penting ketimbang ilmu-ilmu yang di dapat di bangku sekolah. Namun, karena terlanjur dicap demikian, petani pun turut minder dan sulit bersosialisasi dengan masyarakat. 

Sebaliknya, orang-orang yang mengonsumsi nasi—hasil keringat dari petani dianggap memiliki kasta tinggi dibanding mereka yang banyak mengonsumsi jagung (karena faktor ekonomi). Maka siapakah yang sepatutnya mengubah atau setidaknya memengaruhi pola masyarakat tersebut?

Berlatar belakang masalah inilah, penulis menawarkan solusi yaitu dengan dibentuknya SERABUT (Serumpun Pemuda Buah Tani), sebuah komunitas seyogyanya buah hati dari petani itu sendiri. SERABUT nantinya akan diemban oleh remaja Indonesia berumur 17-25 tahun (usia remaja menurut Depkes RI 2009). Adapun fokus dari komunitas ini ialah menjunjung tinggi keberadaan petani dan nilai-nilai budaya yang mulai terkikis zaman.

Penggalan lagu Wanua Penrang di awal, sebenarnya mengisyaratkan bahwa kita hendaknya melestarikan budaya mengingat suku Bugis sangat kaya akan itu. Salah satunya adalah tradisi pada musim tanam dan panen. Perkembangan teknologi tak mengharuskan kita mengikutinya dan meninggalkan budaya yang dianggap konvensional. Oleh karena itu, SERABUT memilih kearifan lokal sebagai perantara atau media dalam menjalankan tugas-tugasnya, yaitu sebagai berikut.

  • Menyediakan Iklim yang Kondusif dalam Pengeksekusian Hasil Tani (Panen)

Musim tanam dan panen bagi petani ialah sesuatu yang membahagiakan sekaligus membuat khawatir. Mereka khawatir memikirkan apakah benih yang ditanam akan tumbuh baik tanpa hama dan bencana, atau apakah hasil panen akan cukup, kualitasnya bagus, tidak menimbulkan kerugian, dan sebagainya. 

Semestinya, bagi petani menanam dan panen ialah kebahagiaan sekaligus kesyukuran. Sebab, kekhawatiran petanilah yang bisa jadi menyebabkan produksi hasil pertanian kurang maksimal. Karena mereka menjalaninya dengan tidak bahagia.

Orang yang bahagia ditandai dengan kepuasan dalam pekerjaan mereka. Orang-orang yang bahagia lebih mampu menetapkan tujuan yang lebih tinggi. Mereka juga mampu menunjukkan kinerja yang lebih baik dan menyelesaikan masalah dengan baik. Orang yang bahagia umumnya bertindak positif. Mereka kreatif, toleran, dan konstruktif. 

Fakta psikologi mengatakan bahwa kebahagiaan dan kepuasan kebanyakan berasal dari hubungan sosial, bukan kekayaan materi. Adapun SERABUT, sebagai komunitas yang akan menghadirkan kebahagiaan petani, yaitu dengan menerapkan Mappalili dan Mappadendang pada musim tanam dan panen.

Mappalili adalah sebuah ritual adat yang merupakan wujud pengharapan, doa dari para petani kepada Dewata agar padi (ase) yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan menghasilkan panen yang melimpahSedangkan Mappadendang atau yang lebih dikenal dengan sebutan pesta tani pada suku bugis merupakan suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi kepada Yang Maha Kuasa. 

Iringan-iringan seperti musik, lagu-lagu daerah pun tari-tarian pada dua tradisi tersebut kiranya dapat menghadirkan iklim yang dapat membuat para petani ‘bahagia’ dalam proses menanam ataupun memanen, sehingga tercipta hasil produksi yang lebih baik.

  • Memberikan Penyuluhan Tentang Ketahanan Pangan kepada Khalayak

Pangan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia sehingga pemenuhannya menjadi salah satu hak asasi yang harus dipenuhi bersama-sama oleh negara dan masyarakatnya. Setidaknya ada tiga alasan mengapa negara perlu melakukan ketahanan pangan. Diantaranya: memiliki ‘economic retuns’ yang tinggi, terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi dan membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui produktivitas kerja.

Sebagai sektor yang memberi sumbangan terbesar bagi perekonomian di Bumi Lasinrang, pertanian memang harus disosialisasikan kepada masyarakat, termasuk penjelasan mengenai ketahanan pangan. Mengingat Sulawesi Selatan merupakan daerah surplus beras, dan Pinrang salah satu penyumbang beras terbesar.

Maka dari itu, SERABUT pun menginginkan sosialisasi sebesar-besarnya kepada masyarakat dan mengajak untuk menjaga ketahanan pangan Indonesia. Salah satunya dengan menghapuskan pengkastaan bahan pangan yang telah diungkap di awal. 

Kendati produksi padi Pinrang masih terbilang stabil, masyarakat tetap harus mencari alternatif lain untuk mengurangi konsumsi. Jagung salah satunya. Dan itu takkan terwujud jikalau pola pikir masyarakat masih menganggap ‘nasi jagung’ sebagai makanan orang rendah (pengkastaan bahan pangan). Solusi yang SERABUT tawarkan adalah dengan menerapkan Tudang Sipulung.

Tudang Sipulung merupakan tradisi duduk bersama yang dipraktekkan di masyarakat Bugis-Makassar. Warga datang menghadiri berbagai forum dan mambahas apa saja yang terkait kehidupan mereka. Dengan memanfaatkan Tudang Sipulung ini, SERABUT dapat melakukan sosialisasi ketahanan pangan kepada masyarakat sekaligus melestarikan budaya.

Dengan begitu sesuai dengan namanya, SERABUT (Serumpun Pemuda Buah Tani) diharapkan dapat menjadi buah hati dari petani yang selain dapat menyenangkan petani, secara tidak langsung juga meningkatkan hasil pertanian guna mencapai ketahanan pangan nasional. Dan dengan satu kelebihan yang belum dimiliki oleh lembaga-lembaga perberdayaan petani lain, yaitu tetap mempertahankan kearifan lokal.

Daftar Pustaka