Setiap tanggal 28 Oktober kita semua merayakan Hari Sumpah pemuda, karena pada hari itu 93 tahun lalu, pemuda-pemudi Indonesia menyelenggarakan Kongres Pemuda II yang kemudian melahirkan ikhtiar Sumpah Pemuda. Dalam Sumpah Pemuda, pemuda-pemudi Indonesia berikrar bertumpah darah satu: tanah Indonesia, berbangsa satu: bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan: Bahasa Indonesia.

Menurut Budayawan Franz Magnis (Romo Magnis), saat kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 itu, orang-orang dari berbagai daerah, suku, dan agama beramai-ramai datang ke Jakarta untuk menegaskan tekad demi memperjuangkan satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa persatuan, Indonesia. Mereka tidak ada sponsor,  bukan  oportunis politik. Semua keluar dari hati nurani. “Orang yang berbeda-beda, Jong Java, Jong Madura, Jong Ambon, pada prinsipnya bersedia semua sepenuhnya sebagai pemilik negara Indonesia.

Sumpah Pemuda, menurut sejarawan Ong Hok Ham, dapat dikatakan sebagai hari terbentuknya Bangsa Indonesia. Dari sinilah kemudian lahir kesadaran kemerdekaan, hingga mencapai titik puncaknya dengan Proklamasi 17 Agustus 1945. Dianggap sebagai hari lahirnya Bangsa Indonesia karena sejak saat itu berbagai etnik, kepercayaan dan kelompok-kelompok yang ada di Nusantara, menyatakan kesamaan nasibnya sebagai jajahan Belanda, sehingga layak membentuk suatu negara kebangsaan kelak. Berbeda dengan banyak bangsa lain di dunia yang nyaris homogen secara etnik ataupun kepercayaan, Bangsa Indonesia berasal dari beragam budaya, yang selama ini bahkan saling tak bersinggungan kecuali kesamaan sebagai jajahan Belanda tersebut.

Pada saat Sumpah Pemuda itulah, pemuda-pemuda merumuskan konsep bangsa (nation) Indonesia. Konsep yang diambil merujuk pada definisi bangsa di Eropa, khususnya dari Ernest Renan yang mengatakan bahwa bangsa menempati satu wilayah. Bangsa juga memiliki kesamaan nasib, perasaan senasib seperjuangan. Menurut Renan, rasa senasib dan sepenanggungan suatu bangsa menyebabkan timbulnya semangat persatuan untuk membentuk
suatu negara kebangsaan.

Gagasan kebangsaan (nasionalisme) pertama kali muncul dalam Revolusi Prancis (1789) yang kemudian melahirkan negara kebangsaan. Negara Prancis modern yang tak lagi berbentuk monarki. Gagasan kebangsaan ini didukung kalangan menengah di Eropa, yang kemudian perlahan mengikis kepercayaan pada bentuk negara monarki dinastik yang lazim pada masa itu. Pada negara monarki dinastik, penduduk dianggap sebagai kawula raja. Tentu saja gagasan kesetaraan yang dicetus para penggerak kebangsaan sangat mengancam prinsip monarki dinastik tersebut.

Keruntuhan negara monarki dinastik di Eropa mencapai momennya pasca Perang Dunia I. Dimulai dengan keruntuhan imperium Kerajaan Habsburg dan kemuadin terpecah membentuk negara kebangsaan seperti Cekoslovakia, Hungaria, dan juga Austria. Saat itu yang memicu lahirnya negara-negara kebangsaan itu adalah hak bangsa-bangsa untuk menentukan nasib sendiri (self-determination).  

Bila imperium Kerajaan Habsburg terdiri dari bangsa-bangsa Eropa, imperium negara-negara Sekutu yang menjadi pemenang Perang Dunia I, boleh dikatakan multinasional, karena koloni mereka berada di Afrika, Asia dan Amerika.  Sayangnya negara pemenang Perang Dunia I itu membatasi prinsip hak menentukan nasib sendiri hanya berlaku untuk bangsa Eropa, tetapi tidak untuk koloni-koloni di Asia dan Afrika.

Namun demikian, prinsip self-determination ini tetap menjadi pemicu bangkitnya nasionalisme di Asia sejak Perang Dunia I, termasuk di Indonesia, gerakan Gandhi di India, juga dengan nasionalisme di Indo-China. Self-determinisme inilah yang kemudian pelan-pelan menghancurkan kolonialisme Inggris, Perancis, Belanda dan bangsa-bangsa Eropa lainnya.  

Konsep kebangsaan sendiri tersebar luas ke Indonesia melalui kalangan pemuda pelajar. Khususnya para pelajar yang bukan pangreh-praja, melainkan mereka yang mengembangkan karier profesional, seperti dokter, insinyur, ekonom, ahli hukum, guru dan lain-lain, demikian menurut Ong Hok Ham. Namun ada perbedaan besar antara Gandhi-isme di India dan gerakan-gerakan kebangsaan di Asia Tenggara. Gerakan Gandhi-isme lebih komprehensif melibatkan berbagai lapisan sosial di masyarakat, sedang menurut Ong Hok Ham, gerakan nasionalisme Asia Tenggara lebih elitis, hanya terfokus pada kalangan cendekiawan dan pelajar.

Berpendidikan memang menjadi ciri para pelajar yang menjadi motor gerakan kebangsaan. Sayangnya, kolonialisme di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, membuat pendidikan masih elitis. Hanya diperuntukkan bagi kelas sosial tertentu, yaitu kelompok priyayi dan bangsawan dan belum mencapai kalangan rakyat biasa.

Selain memicu hancurnya negara-negara monarki dinastik di Eropa yang melahirkan negara kebangsaan baru, Perang Dunia I punya andil besar dalam pergerakan nasional di Indonesia.  Meski tidak terjadi di wilayah Asia, Perang Dunia I berpengaruh cukup besar untuk melahirkan gerakan-gerakan nasionalisme di Asia. Perang ini memberi kesempatan Jepang untuk memperluas pengaruhnya, khususnya di China. Terjadi demontrasi mahasiswa besar (May 4th Movement) karena China merasa dirugikan akibat Perjanjian Versailles.

Perang ini juga berdampak bagi Indonesia, meskipun Belanda tidak terlibat dalam perang tersebut. Selama perang hubungan antara belanda dan koloninya di Hindia Belanda terputus. Akibatnya banyak jabatan publik yang dulunya dipegang Belanda, karena keadaan kini mulai ditempati oleh pribumi.  Sedikit banyak, pribumi mulai memiliki kesempatan untuk membuat keputusan-keputusan publik dan menyelenggarakan administrasi negara.

Putusnya hubungan ini juga mengakibatkan dimulainya industrialisasi di Hindia Belanda. Makin banyak kalangan pelajar yang lahir karena pendidikan yang makin diintensifkan guna memenuhi tuntutan berbagai profesi yang ada. Di antaranya Technische Hoogeschool  (THS) yang menghasilkan seorang Soekarno. Termasuk juga para siswa Recht Hoogeschool (sekolah hukum), STOVIA (sekolah dokter) dan THS yang kemudian membentuk Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). PPPI  ini kemudian menggagas lahirnya Kongres pemuda II. Dari berbagai lembaga pendidikan ini, lahir makin banyak kaum pelajar yang kemudian mempelopori pergerakan nasional yang bermuara pada lahirnya Sumpah Pemuda.

Di sisi lain, dampak terputusnya hubungan dengan Belanda akibat Perang Dunia I, pemimpin militer Hindia Belanda saat itu berpendapat bahwa pertahanan yang paling efektif dan murah adalah dengan melibatkan rakyat pribumi. Indie Weerbaar (Hindia Belanda dapat mempertahankan diri sendiri) menjadi mottonya. Bagi para nasionalis, bila rakyat disuruh mempertahankan Hindia Belanda, maka mereka berhak atas hak-hak politik sebagai wujud dari partisipasi politik. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum kemudian membentuk Volksraad.

Volksraad merupakan lembaga semi parlemen bagi pribumi yang berhak mengusulkan Undang-undang dan peraturan lain.  Pembentukan Volkraad ini semakin mempererat kelompok-kelompok dan etnik-etnik Nusantara karena kesamaan nasib sebagai jajahan Belanda. Inilah yang kemudian menjadi cikal-bakal Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Pengaruh Sumpah Pemuda terhadap organisasi pergerakan nasional yang lahir setelah itu sangat besar. Organisasi-organisasi itu dengan tegas menyebut nama ‘Indonesia’, seperti Partai Indonesia (Partindo) dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI) yang berdiri tahun 1931, Partai Indonesia Raya (Parindra) tahun 1935, dan Partai Sarekat Islam. Organisasi pemuda sendiri, setelah Sumpah Pemuda lebih menekankan pada proses penyatuan berbagai sifat kedaerahan menjadi sifat nasional. Proses integrasi bangsa.

Peristiwa Sumpah Pemuda telah membawa kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam sebuah bangsa. Rasa senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa mendapat momentumnya pasca Perang Dunia I, karena tentu saja sebagaimana ditulis dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bertahun-tahun kelak: maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Penjajahan dalam bentuk apapun…