1 tahun lalu · 821 view · 7 menit baca · Filsafat 86921_84644.jpg

Seputar Lafaz dan Pembagiannya

(Ngaji Mantik Bag. 11)

Setelah mengulas pembahasan mengenai dua jenis pengetahuan, kemudian disusul dengan pembahasan dalalah, dengan seluruh macamnya, kemudian keterkaitan antar masing-masing dalalah, pada tulisan kali ini kita akan memasuki pembahasan baru yaitu tentang macam-macam lafaz beserta pembagian dan contoh-contohnya.

Sebelum masuk ke jantung pembahasan, ada satu pertanyaan yang mungkin perlu untuk kita ajukan: Mengapa ilmu mantik—yang tugas utamanya adalah merumuskan kaidah berpikir—harus berurusan dengan lafaz atau kata-kata? Bukankah pembahasan mengenai lafaz itu merupakan domain ilmu bahasa?

Jawabannya sangat sederhana: Karena lafaz itu merupakan perantara untuk menyampaikan pikiran. Dengan ungkapan lain, lafaz yang kita ucapkan itu terkait erat dengan makna yang kita pikirkan. Kita bisa berpikir melalui lafaz yang kita tangkap, dan kita tak akan mampu menyampaikan pikiran kecuali melalu lafaz yang kita ucap. 

Dalam konteks ini, misalnya, Ikhwan al-Shafa berkata bahwa “makna yang terkandung dalam suatu lafaz itu bagaikan ruh, sedangkan lafaznya itu sendiri bisa diibaratkan seperti jasad. Setiap lafaz yang tidak memiliki makna bagaikan jasad yang tak memiliki ruh. Dan setiap makna yang tak memiliki lafaz bagaikan ruh tanpa jasad.

Tanpa adanya lafaz, kita tidak mungkin mampu menyampaikan pikiran kita kepada orang lain dengan jelas. Karena ia merupakan medium berpikir, maka sangat wajar jika ia masuk kedalam pembahasan ilmu yang merumuskan kaidah berpikir.

Kita tidak akan mampu berpikir dengan benar kecuali jika lafaz dan tata peristilahan yang kita gunakan itu tepat dan benar. Orang-orang yang berpikiran kacau pada umumnya adalah orang-orang yang tak mampu memahami makna dari lafaz-lafaz yang mereka gunakan.

Berangkat dari kesadaran inilah para ahli ilmu mantik memasukkan pembahasan mengenai lafaz dan macam-macamnya. Dengan fokus perhatian yang tentunya berbeda dengan ilmu tata bahasa.

Pembahasan mengenai lafaz ini, setidaknya, akan membantu kita untuk memahami kulliyat khamsah, sebagai unsur-unsur yang merangkai ta’rif. Kita tidak akan bisa memahami kulliyat khamsah kecuali jika kita memahami perbedaan antara kulliy dengan juz’iy. Antara mufrad dengan murakkab. Dan begitu seterusnya.

Lantas, apa saja macam-macam lafaz yang akan dibahas itu? Mari kita ulas satu persatu. 

Dua Macam Lafaz

Secara umum, lafaz terbagi dua: ada mufrad (tunggal), ada murakkab (tersusun). Penting diketahui sejak awal bahwa pemaknaan dua jenis lafaz tersebut dalam ilmu mantik, berbeda pengertiannya dengan yang diperkenalkan dalam ilmu gramatika bahasa Arab (nahwu).

Sebagai contoh, misalnya, lafaz al-Muslimun (orang-orang Muslim). Kata tersebut, dalam ilmu nahwu, disebut sebagai jama’ mudzakkar salim. Tapi, dalam ilmu mantik, ia disebut mufrad.

Contoh lain, kata Abdullah. Dalam ilmu nahwu dia bisa disebut sebagai kalimat yang murakkab, karena ia terangkai dari dua kata, yaitu kata abdun, dan kata Allah. Tapi, dalam ilmu mantik, lafaz tersebut termasuk mufrad.

Mengapa bisa demikian? Kita akan tahu penjelasannya setelah kita menguraikan terlebih dahulu makna mufrad dan murakkab.

Mufrad dan Macam-macamnya

Definisinya: ma la yadullu juzuhu ‘ala juz’i ma’nahu dalalah maqshudah (lafaz yang bagiannya tidak menunjukan sebagian makna dan petunjuk yang dimaksudnya).

Lebih jelasnya, lafaz mufrad ialah lafaz yang bagian-bagian pembentuknya—baik itu huruf maupun kata—tidak menunjukan sebagian makna dan petunjuk yang dimaksudnya.

Sekarang kita ambil contoh yang sederhana. Kata qalam (pulpen). Kata tersebut terangkai dari huruf qaf, lam dan mim. Ketika disebut kata qalam, apa makna yang dimaksud dari kata tersebut? Jawabannya jelas bahwa yang dimaksud dengan kata qalam itu ialah alat tulis yang biasa kita pakai.

Tapi, apakah bagian-bagian yang merangkai kata qalam, yakni huruf qaf, lam dan mim itu menunjukan sebagian makna yang kita maksud dari kata tersebut? Tentu saja tidak. Masing-masing dari huruf tersebut bahkan tidak memiliki makna apa-apa.

Sampai di sini, baik ilmu nahwu maupun ilmu mantik pasti akan mengatakan bahwa lafaz qalam tersebut termasuk lafaz mufrad. Tapi kita akan lihat contoh lain yang dalam ilmu nahwu disebut murakkab, tapi dalam ilmu mantik disebut mufrad.

Lafaz Abdul Majid. Ia terangkai dari dua kata, yaitu Abdun dan Majid. Abdun artinya hamba, majid artinya MahaMulia. Karena itu, dalam ilmu nahwu dia disebut murakkab.

Tapi dalam ilmu mantik dia disebut mufrad. Mengapa? Karena sebagian kata yang merangkai lafaz tersebut tidak menunjukan sebagian makna dan petunjuk yang dimaksud. Yang dimaksud oleh lafaz tersebut adalah orang yang bernama Abdul Majid, bukan hamba Tuhan yang Mulia, seperti yang ditunjukan oleh masing-masing kata pembentuknya.  

Begitu juga kata al-Muslimun. Dalam ilmu nahwu kata tersebut berbentuk jama’ (plural). Tapi, dalam ilmu mantik dia disebut mufrad. Mengapa? Perhatikan definisi di atas. Suatu lafaz dikatakan mufrad ketika bagian-bagian yang merangkai lafaz tersebut tidak menunjukan sebagai makna dan petunjuk yang dimaksudnya.

Apakah masing-masing huruf dari kata al-Muslimun itu menjelaskan sebagian makna yang dimaksud dari kata tersebut? Tentu saja tidak. Karena itu, dia disebut mufrad, sekalipun dalam ilmu nahwu disebut jama'. Pertanyaannya: Mengapa kedua ilmu tersebut bisa memiliki pemaknaan istilah yang berbeda? Jawabannya: Karena ilmu gramatika memiliki fokus perhatian yang berbeda dengan ilmu logika. Yang satu membahas tentang struktur lafaz, yang satu lagi fokus perhatiannya tertuju pada makna yang dikandung oleh lafaz.

Ilmu mantik tidak berurusan dengan yang namanya marfu, manshub, majrur dan istilah-istilah sejenisnya. Selama makna yang diperoleh adalah makna tunggal, sekalipun lafaznya berbentu jamak secara gramatikal, maka ia tetap mufrad.

Selanjutnya, lafaz mufrad ini mencakup empat macam:

[1]: Lafaz mufrad yang tidak punya bagian: Contoh: huruf-huruf. Alif, ba, ta, tsa, dll.

[2]: Lafaz mufrad yang memiliki bagian, tapi bagian tersebut tidak menunjukan makna. Contoh: Kata Zaid, Alya, Rani, Umar dll.

[3]: Lafaz mufrad yang memiliki bagian, dan bagian tersebut menunjukan makna, tapi makna yang ditunjuk bukan sebagian makna yang dimaksud dari lafaz tersebut. Contoh. Abdullah (nama orang). Atau Abdul Majid, seperti yang penulis contohkan di atas.  

Lafaz tersebut terangkai dari kata abdun, yang berarti hamba, dan Allah, yang berarti Tuhan. Abdullah berarti hamba Tuhan. Masing-masing memiliki makna. Tapi, yang kita maksud dari kata Abdullah bukan hamba Tuhan, melainkan nama orang.

[4]: Lafaz mufrad yang memiliki bagian, dan bagian tersebut menunjukan sebagian dari makna yang dimaksud, tapi dalalah atau petunjuknya bukan petunjuk yang dimaksud. Contoh: ada orang namanya hayawan nathiq. Nama tersebut terangkai dari kata hayawan, dan nathiq.

Dua-duanya menunjukan sebagian makna yang dimaksud, yakni seorang manusia bernama hayawan nathiq. Tapi, sekalipun makna tersebut menunjukan sebagian makna yang dimaksud, dalalah-nya bukan dalalah yang kita maksud. Karena yang kita maksud bukan “hewan berpikir”, tapi nama orang yang “kebetulan” bernama Hayawan Nathiq.

Pembagian Lafaz Mufrad

Berdasarkan apa yang ditunjuknya, lafaz mufrad dibagi kedalam tiga macam: Satu, kalimat. Dua, ism. Tiga, adat. Apa yang membedakan antara ketiganya? Penjelasannya sebagai berikut:

[1]: Kalimat

Definisinya: “al-Lafzhu al-Ladzi yadullu bi maddatihi ‘ala ma’na, wa yadullu bihaiatihi ‘ala zaman.” (lafaz yang dengan bagian pembentuknya menunjukan suatu makna, dan dengan bentuknya menunjukan keterangan waktu).

Kalimat dalam ilmu mantik ialah padanan fi’il (kata kerja) dalam ilmu nahwu. Contoh: Kataba (menulis). Dengan huruf kaf, ta, dan ba, kata tersebut menunjukan suatu makna, yakni menulis, dan dengan bentuknya (shighah) ia menunjukan keterangan waktu, yakni masa lampau.

[2]: Ism

Definisinya: “ma yadullu bimaddatihi ‘ala ma’na, wa laisat lahu haiatun tadullu ‘ala zaman.” (lafaz yang dengan bagian pembentuknya menunjukan suatu makna, tapi dia tidak menunjukan keterangan waktu.”

Contohnya seperti ism dalam ilmu nahwu: Zaid, Ali, Udin, Vero, Nurma, pohon, jalan, buku dan lain-lain.

[3]: Adat

Definisinya: “al-Lafzhu al-Ladzi la yadullu ‘ala ma’na mustaqillin binafsihi” (lafaz yang tidak menunjukan makna dengan dirinya sendiri).

Adat dalam ilmu mantik ialah padanan huruf dalam ilmu nahwu. Contohnya seperti huruf alif, ba, ta, dan huruf-huruf lainnya. Huruf-huruf tersebut tidak akan menunjukan makna kecuali jika dirangkaikan dengan kalimat lain.       

Ketika ada orang yang melafalkan huruf ba, kita tidak bisa menangkap makna apa-apa. Tapi ketika huruf tersebut dirangkaikan dengan kata al-Hubb (cinta), misalnya, sehingga menjadi bilhubb (dengan cinta), tentu kita akan menangkap sebuah makna.

Pembagian Lafaz Murakkab 

Lafaz murakkab dibagi dua: Ada murakkab tam (kalimat tersusun yang menunjukan makna sempurna, ada murakkab naqish (kalimat tersusun yang menunjukan makna kurang sempurna).

[1] Murakkab Tam

Definisinya: al-Lafzhu al-Ladzi yufidu al-Sami jumlatan mufidatan yahsunu al-Sukut ‘alaiha” (lafaz yang bisa memberikan makna yang jelas dan sempurna kepada pendengar sehingga ia tidak perlu lagi bertanya).

Contoh: Sabar itu indah. Hujan mengalir deras. Ditikung itu pahit. Cinta itu buta. Dan lain-lain. Dalam ilmu nahwu biasanya disebut dengan jumlah ismiyyah dan jumlah fi’liyyah.

[2] Murakkab Naqish

Definisinya: “al-Lafzhu al-Ladzi la yufidu al-Sami’ jumlatan mufidatan tammatan yahsunu al-Sukut alaiha” (lafaz yang tidak memberikan makna yang jelas bagi pendengar sehingga ia masih perlu bertanya)

Contoh: Mahasiswa yang rajin itu. Barang yang murah itu. Kalau aku mencintaimu. Apabila kamu datang. Dan contoh-contohnya sejenisnya. 

Ketika Anda mendengar kalimat-kalimat di atas, pasti Anda belum menangkap makna yang jelas, sekalipun ia tersusun. Karena ia belum jelas, maka ia dinamai naqish (kurang).

Masing-masing dari murakkab tam dan naqish ini dibagi lagi menjadi dua. Pembagiannya sebagai berikut:

Pembagian Murakkab Tam

[1] Murakkab Tam Khabariy

Definisnya: “ma yahtamil al-Shidq wa al-Kadzib” (suatu lafaz yang membuka kemungkinan jujur dan bohong)

Contoh: Laptop ini murah. Baju ini Mahal. Jokowi itu ganteng. Awkarin itu salehah. Dan lain-lain.

[2]: Murakkab Tam Insyai

Definisinya: “ma la yahtamil al-Shidq wa al-Kadzib” (suatu lafaz yang tak membuka kemungkinan jujur dan bohong)

Contoh: Andaikan aku menjadi kekasihmu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jangan lakukan itu. Cintailah aku dengan setulus hatimu. Dan contoh-contoh lainnya.

Pembagian Murakkab Naqish

[1] Taqyidiy 

Definisnya: ma kanat al-Kalimat al-Tsaniyah fihi qaidan li al-Kalimat al-Ula” (suatu rangkaian kalimat yang kata keduanya mengikat kata yang pertama)

Contoh: Pilot Pesawat. Rumah Hantu. Tumbuhan yang hijau itu. Cowok ganteng itu. Dan lain-lain.

[2] Ghair Taqyidi

Definisinya: ma taallafa min ism wa adat” (kalimat yang terangkai dari ism dan huruf)”.

Contoh: Keluar dari. Masuk ke. Pergi menuju. Datang dari. Dan lain-lain.

Mengapa semua ini dikatakan naqish? Karena rangkaian kalimat tersebut tidak memberikan makna yang jelas dan sempurna. Beda halnya dengan murakkab tam yang bisa memberikan kejelasan makna.

Selain pembagian di atas, ada juga pembagian lain dari lafaz mufrad yang ditilik berdasarkan mafhumnya, atau hubungannya dengan lafaz mufrad yang lain. Uraian mengenai hal tersebut Insya Allah akan diulas pada tulisan mendatang.