1 year ago · 1852 view · 12 menit baca · Filsafat 96693_83437.jpg
Ilustrasi: guyanachronicle.com

Sepuluh Hal yang Perlu Kita Ketahui tentang Ilmu Mantik
Ngaji Mantik (Bag. 3)

Sebelum memulai pembahasan mengenai suatu disiplin ilmu tertentu, dalam kitab-kitab kuning klasik biasanya diperkenalkan terlebih dahulu apa yang disebut mabadi 'asyrah, yakni sepeluh aspek dasar yang harus kita ketahui mengenai ilmu yang akan dikaji itu. Sepuluh aspek yang dimaksud mencakup poin-poin sebagai berikut:

  • Pengertian atau definisi (al-Hadd)
  • Objek Kajian (al-Maudhu')
  • Manfaat dan Kegunaan (al-Tsamrah)
  • Keutamaan (al-Fadhl)
  • Hubungan ilmu tersebut dengan ilmu-ilmu yang lain (al-Nisbah)
  • Peletak Dasar (al-Wadhi')
  • Nama (al-Ism)
  • Sumber Pengambilan (al-Istimdad)
  • Hukum Mempelajarinya (al-Hukm)
  • Masalah-masalah yang Dikaji (al-Masail)

Sepuluh aspek ini penting untuk dikaji sebagai pengantar dan pengenalan. Lazimnya menyunting perempuan yang membutuhkan pengenalan, mengkaji suatu ilmu juga memerlukan pengantar agar kita tidak salah arah dan tidak salah tujuan. Pengenalan seperti ini tidak hanya berlaku bagi ilmu mantik, tapi juga berlaku bagi ilmu-ilmu yang lain.

[1] Definisi

Hal pertama yang harus kita ketahui dari suatu ilmu yang akan dikaji tentunya adalah ta'rif atau definisi. Dengan mengetahui definisi suatu ilmu, kita akan tahu persoalan apa saja yang akan dikaji dalam ilmu tersebut. Di samping kita juga akan diberikan gambaran sejauh mana manfaat dari ilmu yang akan kita kaji itu.

Ada dua jenis definisi yang bisa kita kemukakan untuk memperkenalkan suatu ilmu. Pertama, definisi yang menekankan objek kajian (bilhadd). Kedua, definisi yang lebih menekankan aspek kegunaan (birrasm).

Definisi Berdasarkan Objek Kajian (bilhadd)

Dilihat dari sudut objek kajiannya, biasanya Ilmu Mantik diartikan sebagai: "Ilmu yang membahas tentang pengetahuan berbentuk tashawwur dan tashdiq yang sudah diketahui, sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita menuju tashawwur dan tashdiq yang belum kita ketahui (al-'Ilm al-Ladzi yabhats 'an al-Ma'lumât al-Tashawwuriyyah wa al-Tashdîqiyyah min haitsu kauniha tuwasshilu ila majhulin tashawwuriyyin wa tashdiqiyyin)"

Ada dua kata kunci untuk memahami definisi di atas, yaitu kata tashawwur dan kata tashdiq. Apa itu tashawwur? Dan apa itu tashdiq? Biasanya, bahasan mengenai dua istilah ini dijadikan satu bab secara tersendiri. Setelah ulasan mengenai sepuluh aspek ini selesai, insya Allah, saya akan membuat satu tulisan secara terpisah mengenai dua terma tersebut beserta macam-macamnya.

Tapi, untuk sementara, agar kita mudah memahami definisi di atas, secara sederhana kita bisa memaknai tashawwur itu sebagai gambaran kita atas sesuatu tanpa ada unsur penghukuman. Misalnya, ada orang menyebut kata Alexis, tempat yang belakangan ini hangat diperbincangkan itu.

Kemudian terbayanglah dalam benak Anda hotel mewah yang bernama Alexis. Nah, dalam bahasa Ilmu Mantik, pengetahuan Anda terhadap Alexis yang tidak disertai penghukuman itu namanya tashawwur. Karena di sana Anda hanya membayangkan saja, tidak menyertakan atribut apa-apa.

Tapi, ketika Anda berkata: Alexis itu adalah surga dunia, misalnya, atau Alexis itu adalah tempat maksiat, dan Anda menerima pernyataan tersebut, maka itu namanya tashdiq (assentment/pembenaran).

Jadi, tashawwur itu ialah pengetahuan kita terhadap sesuatu yang tidak disertai penghukuman, sedangkan tashdiq adalah pengetahuan kita terhadap sesuatu beserta penghukuman atasnya baik secara afirmatif maupun negatif (binnafyi aw al-Itsbat).

Nah, objek kajian ilmu mantik itu ialah segala jenis maklumat yang berbentuk tashawwur dan tashdiq itu, yang pada akhirnya akan mengantarkan kita kepada bentuk ashawwur dan tashdiq lain yang belum kita ketahui hakikat dan kebenarannya.

Misalnya, yang sering dijadikan contoh dalam buku-buku mantik ialah kata manusia (al-Insan). Kita tahu manusia. Tapi hakikat manusia itu sendiri belum kita ketahui sebelumnya (majhul).

Nah, agar kita mampu memperjelas gambaran kita mengenai manusia, maka tugas ilmu mantik ialah mencari maklumat tashawwur yang sudah kita ketahui tentang manusia untuk menjelaskan sisi yang belum kita ketahui tentang manusia.

Misalnya kita tahu bahwa manusia itu termasuk salah satu jenis hewan. Dia juga bergerak, berjalan, makan, minum, dan sebagainya. Lalu, setelah kita telaah lebih jauh, ternyata ada satu hal yang membedakan manusia dari makhluk-makhluk lainnya, yaitu berpikir.

Maka, setelah kita mengetahui sekian banyak tashawwur (gambaran) tentang manusia itu, kita simpulkanlah di akhir bahwa manusia itu adalah hewan yang berpikir (al-Hayawân al-Nâthiq).

Contoh dalam aspek tashdiq. Misalnya ada pernyataan bahwa "Muhammad Saw itu adalah Nabi". Tapi kita kan tidak pernah tahu apakah pernyataan ini benar atau tidak? Dengan kata lain, pernyataan tersebut masih majhul, terutama bagi orang yang tidak mengimani Nabi Muhammad Saw sebagai nabi.  

Lalu apa tugas ilmu mantik? Sama halnya dengan contoh tashawwur di atas. Tugasnya ialah mengulas hal-hal yang dapat membuktikan kebenaran pernyataan di atas.

Karena contoh di atas berbentuk proposisi (qadhiyyah), maka jalan untuk membuktikan kebenarannya adalah qiyas (silogisme). Misalnya, pembuktian kebenaran pernyataan di atas kita buktikan melalui rumusan silogisme sebagai berikut:

Premis minor: Muhammad Saw mengaku sebagai Nabi dan membawa mukjizat

Premis Mayor: Setiap orang yang mengaku Nabi dan membawa mukjizat adalah Nabi

Konklusi: Muhammad Saw adalah Nabi.

Kesimpulannya, dari sudut objek kajiannya, ilmu mantik adalah ilmu yang mengulas tentang informasi-informasi yang sudah kita ketahui—baik yang berbentuk tashawwur maupun tashdiq—sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita kepada pengetahuan yang sebelumnya belum kita ketahui.

Definisi Berdasarkan Kegunaan (birrasm)

Definisi yang paling populer dan paling mudah adalah definisi yang kedua ini. Ilmu mantik itu ialah "alat pengatur nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir" (alatun qânûniyyatun ta'shimu mura'atuhâ al-Dzihna an al-Khatha fi al-Tafkîr)

Singkatnya, ilmu mantik adalah ilmu yang membahas tentang aturan dan kaidah-kaidah berpikir, yang kalau kita indahkan kaidah-kaidah tersebut, niscaya kita akan selamat dari kesesatan berpikir.  

Sampai di sini mungkin akan muncul pertanyaan: Betulkah kaidah-kaidah tersebut akan menjamin kita dari kesalahan berpikir? Jawabannya belum tentu. Karena bisa jadi ada orang yang salah dalam memahami kaidah tersebut atau tidak mengindahkannya sama sekali.

Ilmu ini hanya akan menjaga kita dari kesalahan berpikir kalau seandainya kaidah-kaidah yang dibakukannya itu kita patuhi dan kita pahami dengan benar. Itulah alasan kenapa dalam definisi di atas dicantumkan kata murâ'atuhâ (pematuhan atasnya).

Karena bisa jadi ada orang yang mengetahui kaidah, tapi dia tidak mematuhinya. Jika itu yang terjadi, maka sudah pasti dia akan terjebak kedalam kesalahan berpikir.

[2] Objek Kajian

Poin kedua ini sudah penulis singgung di atas. Bahwa yang menjadi objek kajian utama ilmu mantik ialah segala jenis informasi yang berbentuk tashawwur dan tashdiq (al-Ma'lumat al-Tashawwuriyyah wa al-Tashdiqiyyah) yang sudah kita ketahui sebagai jalan yang dapat mengantarkan kita pada pengetahuan—baik tashawwur maupun tashdiq—yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Misalnya Anda mendengar sebuah agama bernama Islam, dan Anda belum tahu makna atau definisi yang tepat untuk kata tersebut. Jika kita ingin mengetahui hakikat Islam, maka tentu hal yang pertama kali kita lakukan ialah mengumpulkan informasi yang kita tahu seputar Islam. Informasi itu ada yang berbentuk tashawwur (concept), ada juga yang berbentuk tashdiq (assentment).

Nah, tugas ilmu mantik itu ialah mengantarkan Anda dari pengetahuan yang sudah diketahui itu menuju pengetahuan lain yang belum Anda ketahui. Dari tashawwur yang sudah diketahui menuju tashawwur lain yang belum diketahui. Dari tashdiq yang sudah diketahui menuju tashdiq lain yang belum diketahui. Dan untuk sampai kesana, tentunya kita membutuhkan panduan dan kaidah-kaidah yang benar.

[3] Kegunaan

Sebagian dari manfaat atau kegunaan ilmu ini sudah saya singgung pada tulisan pertama. Bahwa ilmu ini mengajarkan kita kaidah-kaidah berpikir yang benar. Dengan mengetahui kaidah berpikir yang benar, maka kita juga bisa bertindak dan berucap dengan benar, tidak asal-asalan.

Ilmu ini juga mengajarkan kita untuk berpikir secara sistematik dan mendalam. Dengan cara berpikir seperti ini, niscaya kita tidak akan mudah terjebak pada hasutan dan pemahaman-pemahaman radikal. Kita tidak akan menjadi orang yang mudah terprovokasi, mudah menghakimi, dan merasa benar sendiri.

Cara berpikir semacam ini sangat kita butuhkan, apalagi kita hidup di tengah terpaan hoax dan fitnah yang kadang menimbulkan perdebatan yang tidak sehat.

Dengan mempelajari ilmu ini, kita juga bisa menjadi orang yang kritis sekaligus tidak mudah menghakimi orang yang berbeda paham. Selama ini kita mudah termakan oleh hasutan dan berita-berita yang tidak benar.

Nah, dengan mendalami ilmu mantik, kita akan dididik untuk menjadi orang yang berpikiran matang dan tidak mudah menerima sesuatu yang belum pasti benar.

Selain itu, yang tak kalah penting, ilmu ini juga dapat memperteguh keimanan kita melalui akal. Jika selama ini kita memercayai keberadaan Tuhan, kenabian Nabi Muhammad Saw, kewahyuan al-Quran, dan sebagainya, melalui teks-teks suci, maka dengan ilmu mantik kita bisa memperteguh keyakinan kita dengan bersandar pada dalil-dalil yang rasional.

[4] Kelebihan

Persoalan yang dibahas dalam setiap disiplin ilmu pasti terdiri dari dua hal yang saya sebutkan tadi, yakni tashawwur dan tashdiq. Setiap ilmu itu pasti terdiri dari sekian banyak rangkaian konsepsi dan proposisi. Dan dua hal itu menjadi pembahasan terpenting dalam ilmu mantik.

Karena itu, ilmu mantik berguna bagi semua ilmu. Setiap ilmu, misalnya, pasti selalu membutuhkan yang namanya ta'rif. Dan untuk membangun ta'rif yang tepat, seperti yang saya katakan pada tulisan sebelumnya, hanya bisa dilakukan jika kita mempelajari ilmu mantik.

Dalam buku-buku Islam klasik, kita juga sering disuguhi oleh perdebatan panjang para ulama. Tanpa memahmi ilmu mantik, kita akan kesulitan untuk membedakan mana argumen yang bisa dipercaya, dan mana argumen yang sulit diterima.  

Tanpa ilmu mantik kita tidak akan tahu mana qiyas yang benar, dan mana qiyas yang salah. Mana yang argumen yang sesuai dengan kaidah-kaidah rasional, dan mana yang tidak. Singkatnya, ilmu mantik sangat berguna dalam memahami semua ilmu, tak terkecuali ilmu-ilmu agama.

[5] Kaitannya dengan Ilmu-ilmu yang Lain

Secara konseptual, ilmu mantik tentu berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain. Tapi, jika dilihat dari objek kajiannya, ilmu ini jelas memiliki kaitan yang erat. Setiap ilmu, seperti yang saya singgung di atas, itu pasti terdiri dari kumpulan konsepsi dan proposisi. Sedangkan dua hal tersebut merupakan objek kajian ilmu mantik.

Kita akan mampu membangun konsepsi dan proposisi yang benar kalau kita mempelajari kaidah-kaidahnya. Dan kaidah-kaidah tersebut dikaji dalam ilmu mantik. Dengan demikian, meski secara konseptual (bi'tibar mafhumihi) ilmu ini berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain. tapi topik yang menjadi pembahasan utama dalam ilmu ini adalah topik yang pasti akan selalu ditemukan dalam ilmu-ilmu yang lain.

[6] Peletak Dasar

Ada yang berkata bahwa orang yang pertama kali menggunakan ilmu mantik itu adalah Aristoteles. Tapi, kalau kita mau lebih telitisebetulnya Aristoteles bukan orang pertama. Ilmu ini sudah dikenal sejak zaman Socrates yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Plato. Bahkan, sebagian sejarawan mengatakan bahwa ilmu ini juga sudah dikenal dalam peradaban Timur, seperti India dan Cina.

Aristoteles adalah orang yang pertama kali mensistematisasi dan mengkodifikasi, bukan menginovasi. Setelah itu, beberapa abad setelahnya ilmu ini dikembangkan oleh para filosof Muslim seperti al-Farabi, Ibnu Sina, al-Kindi, al-Ghazali, Ibnu Rushd, dan ulama-ulama lain. Perlu dicatat bahwa Aristoteles hanya meletakan prinsip-prinsip dasarnya saja. 

Buku-buku mantik yang ada di tangan kita sekarang kebanyakan sudah diimprovisasi oleh para sarjana Muslim. Karena itu, keliru besar jika ada yang berkata bahwa ilmu ini sudah tidak penting lagi untuk dikaji. Karena selain bersentuhan dengan Aristoteles, dalam ilmu ini kita juga akan bersentuhan dengan al-Ghazali, Ibnu Sina, al-Farabi. Ibnu Rushd, dan para raksasa intelektual Muslim lainnya.

[7] Nama

Mengapa ilmu ini dinamai ilmu mantik? Kata "manthiq" adalah bentuk masdar mim dari kata kerja nathaqa-yanthiqu, yang dalam bahasa Indonesia biasa diartikan berbicara. Dengan demikian, dari sudut kebahasaan, manthiq berarti pembicaraan (al-Kalam). 

Lalu apa hubungannya antara kata tersebut dengan ilmu yang membahas tentang kaidah berpikir ini? Apa hubungannya antara kalam dengan berpikir? Tentu ada.

Ketika Anda berpikir, sebetulnya akal Anda sedang "berbicara" sekalipun tidak mengeluarkan suara. Antara kalam yang kita ucapkan dengan makna yang kita pikirkan tentunya memiliki kaitan yang sangat erat.

Makanya ilmu ini dinamai manthiq, seolah-olah mengisyaratkan "pembicaraan" nalar kita ketika kita berpikir. Nah, agar pembicaraan nalar kita itu terstruktur, maka dibuatlah kaidah-kaidah tertentu sebagai tuntunan. Dan kaidah-kaidah tersebut bisa Anda temukan dalam ilmu ini.

Selain dinamai ilmu mantik, dalam bahasa Arab, ilmu ini juga dinamai ilm al-Mizan, 'ilm al-Mi'yar, 'ilm al-Ulum, 'ilm Qawanin al-Fikr, 'ilm al-Istinbath dan nama-nama lainnya.

[8] Sumber Pengambilan

Dari mana ilmu ini diambil? Tentu bukan dari al-Quran, Hadits ataupun teks-teks suci lainnya. Sumber pengambilan ilmu mantik hanyalah akal. Meskipun tingkat kecerdasan akal manusia itu bertingkat-tingkat, tapi ada hukum-hukum akal yang—baik disadari atau tidak—sudah menjadi kesepakatan bersama. Hukum-hukum yang disepakati itulah yang kemudian dijadikan dasar-dasar utama dalam ilmu mantik.

[9] Hukum Mempelajari Ilmu Mantik

Para ulama berselisih mengenai hukum mempelajari ilmu ini. Pertama, kelompok yang mengharamkan. Dua nama yang sering disebut dalam barisan pertama ini ialah Imam Nawawi dan Ibnu Shalah. Keduanya adalah Ahli Hadits terkemuka dalam dunia Islam.

Tapi, harus dicatat, bahwa pengharaman itu tidak bersifat mutlak. Artinya, pengharaman itu hanya berlaku bagi kalangan tertentu dan yang diharamkan juga hanya bagian tertentu saja. Yang diharamkan oleh mereka itu ialah mantik yang memang sudah bercampur dengan kekufuran para filosof dan yang mengkajinya adalah orang-orang yang lemah iman.

Jika ilmu mantik yang dimaksud adalah ilmu mantik yang sekarang dikaji di pesantren dan kampus-kampus Islam, saya yakin mereka juga tidak mungkin mengharamkan. Fatwa keharaman tersebut harus dilihat dari konteks yang mengitarinya. Kita harus tahu apa yang menjadi dasar keharamannya, juga harus tahu kepada siapa fatawa itu ditujukan.

Lagipula, sekalipun benar bahwa mempelajari ilmu ini haram, niscaya orang yang memandang haram itu, mau tidak mau, harus mempelajarinya terlebih dahulu. Karena itu, pada akhirnya, baik yang mengharamkan maupun yang membolehkan, keduanya akan "dipaksa" untuk mempelajari ilmu ini. 

Kedua, kelompok yang membolehkan. Ilmu ini boleh dikaji sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Dengan syarat bahwa yang mempelajarinya adalah orang-orang yang mampu menjaga keimanannya. Jika tidak, maka, menurut kelompok ini, tidak boleh.

Kekhawatiran semacam ini kadang didasarkan pada sebuah asumsi keliru bahwa mantik itu sama dengan filsafat. Padahal, mantik itu satu hal, sedangkan filsafat adalah hal lain. Mantik itu hanya ilmu alat. Ilmu mantik tidak ada kaitannya dengan Darwinisme, Marxisme, Komunisme, dan ideologi-ideologi sejeninya yang sering dianggap sesat.

Ilmu mantik tak lebih dari sekedar kaidah yang berguna untuk mengatur akal. Karena itu, tak ada yang perlu dikhawatirkan ketika kita ingin mempelajari ilmu ini.

Ketiga, kelompok yang menganjurkan dan mewajibkan. Berbeda halnya dengan dua kelompok di atas, kelompok terakhir ini memandang bahwa hukum mempelajari ilmu mantik itu dianjurkan atau diwajibkan—untuk kalangan tertentu—dengan wajib kifayah. Ulama seperti Abu Hamid al-Ghazali, Fakhr al-Din al-Razi, Saifuddin al-Amidi, Taqiyuddin al-Subki, dan ulama-ulama lainnya, berada di barisan ini.

Bahkan, ulama yang terakhir disebut ini menulis dalam satu bukunya bahwa ilmu mantik itu merupakan salah satu ilmu terbaik dan yang paling bermanfaat dalam segala bidang kajian (min ahsan al-Ulûm wa anfa'ihâ fi kulli bahtsin).

Lebih jauh, al-Subki menyatakan bahwa orang yang memandang ilmu mantik sebagai sebuah kekufuran, atau keharaman, adalah orang bodoh yang tidak mengetahui hakikat kufur maupun halal dan haram. Karena ilmu mantik pada dasarnya hanyalah ilmu yang berusaha untuk mengatur nalar.

[10] Masalah-masalah yang Dikaji

Dalam ilmu kita akan mengkaji banyak hal. Pada lembaran-lembaran awal biasanya kita disuguhkan bahasan pengantar seperti bahasan mengenai tashawwur-tashdiq. Setelah itu membahas dalalah (signifikasi). Kemudian taqsim al-Alfazh (pembagian lafaz). Kulliy-Juziyy.

Setelah itu ada pembahasan mengenai kulliyat khamsah, sebagai unsur-unsur yang merangkai ta'rif. Dan terakhir adalah pembahasan mengenai ta'rif itu sendiri. Ini bagian pertama.

Biasanya, bagian ini disebut dengan qism al-Tashawwurat, karena pada bagian ini bahasan kita hanya terfokus pada tataran konseptual (tashawwur).

Selanjutnya, di bagian kedua kita akan membahas seputar al-Tashdiqat (macam-macam tashdiq). Di sana ada pembahasan mengenai jenis-jenis propisisi (anwa al-Qadhaya). Kemudian ada pembahasan megenai Qiyas (soligisme), dengan segala jenisnya. Lalu ada juga pembahasan mengenai syarat-syarat kontradiksi, muwajjihat, dan masalah-masalah lain yang, insyaAllah, akan kita kaji satu persatu secara bertahap.