Strukturnya lebih kuat dari baja. Rentang waktunya pun sangat panjang untuk memberikan udara segar bagi makhluk di sekitarnya, karena ia bisa hidup lebih dari seratus tahun di alam liar. 

Tunas mudanya terus tumbuh setiap hari, bersama desahan asa dari setiap gesekan daun-daunnya tiap kali embusan semilir angin menyentuhnya. Ia pun tak malu berbisik pada angin yang menyapa, menitipkan pesan kepada dunia bahwa ia bisa mengobati yang terluka dan juga memberikan keteduhan.

Dialah bambu, tanaman yang mampu menghasilkan oksigen lebih banyak daripada tanaman lainnya, dan sekaligus dapat menyerap karbon dioksida lebih banyak pula dibandingkan dengan tanaman lainnya di dunia. Ia bahkan juga sanggup menyerap dan menyimpan banyak air. 

Pohonnya tumbuh dengan sangat cepat, setelah akarnya kokoh dan siap menjadi fondasi yang kuat. Ia selalu memberikan waktu yang cukup untuk akarnya tumbuh dengan sempurna hingga siap menopang pohonnya yang meninggi dengan cepat serta hidup dengan rentang waktu yang panjang.

"Aku berdiri di atas Khatulistiwa," kata Bambu di suatu pagi. Embusan angin pasat dari timur laut maupun tenggara kan kunanti setiap waktu, sebelum El Niño membuai mesra dan angin menerbangkan kertas ke awan, karena usianya yang pendek di tanah tropis. Tak kan kubiarkan angin membawanya berlalu begitu saja, tanpa makna yang dalam. 

Maka, akan kuberikan sebagian rentang waktuku pada kedua sahabatku: kertas dan manusia. Agar keduanya memperoleh kesempatan menemukan kesejatian diri dalam perjalanan hidupnya, tanpa menyakiti siapa pun dan apa pun. Hingga bisa turut menjaga bumi seperti matahari dan rembulan, yang takkan pernah membiarkan bumi dihinggapi gulita.

Bukanlah salah kertas bila ia hadir menyapa dan menjadi bagian dari kehidupan manusia. Seperti bambu yang enggan terpisahkan dari keluarganya dan terus tumbuh berbiak menjadi hutan bambu untuk beregenerasi, harusnya kita (manusia) juga banyak belajar dari bambu saat merajut persahabatan dengan kertas. 

Menggunakannya dengan bersahabat dan terhormat. Tidak semena-mena dan tidak membuangnya dengan mudah tanpa memikirkan apakah masih dapat digunakan secara maksimal ataupun didaur ulang.

Perkembangan Kertas

Penemuan kertas pada tahun 105 di Cina oleh Ts’ai Lun tentu juga tak bisa lepas dari peran tanaman yang bernama bambu ini. Seperti mendaur ulang kertas yang tidak terpakai menjadi lembaran kertas baru, teknik pembuatan kertas dari bambu oleh Ts’ai Lun pada waktu itu pun kurang lebih adalah sama. 

Langkah awal atau permulaannya adalah dengan mencuci potongan bambu dan memasukkan ke dalam bak air. Setelah itu, melumatkannya dengan merebusnya di atas tungku api. 

Bubur dari lumatan bambu itu pun kemudian dijadikan lembaran-lembaran sebelum masuk proses pengepresan dan mengeringkannya. Dan lembaran-lembaran itulah yang kini kita sebut dengan nama kertas. 

Sekarang, kertas banyak dibuat dari bubur kayu. Dunia baca-tulis pun menjadi berkembang pesat dengan kemunculan kertas dan penemuan mesin cetak yang kemudian mengikutinya. Budaya membaca buku, majalah, dan koran juga makin semarak dan harmoni di tengah-tengah masyarakat kita. Budaya ini terus tumbuh seiring dengan kemajuan zaman dan turut memajukan peradaban bangsa. 

Tapi pada saat sampai di era digital dan industri menyapa kita, fungsi dari keberadaan kertas ternyata malah mengalami pergeseran. Yang sebelumnya didominasi oleh dunia baca-tulis, kini beralih pada produk dari kertas, seperti pembungkus dari kertas dan juga tisu.

Buku, majalah, dan koran pelan-pelan mulai terbang ke awan. Yang masih mempertahankan budaya membaca buku, majalah, dan juga koran kini seperti menjadi pencinta barang antik saja, karena dunia digital telah mengambil alih peran buku dan juga koran. 

Berita dengan sangat mudah dan cepat bisa diakses dari internet. Demikian pula dengan buku dan majalah, kini pun juga bisa diambil dari intenet tanpa harus dicetak menjadi buku ataupun majalah.

Penggunaan produk dari kertas (pembungkus kertas dan tisu) kini terus saja makin meningkat. Meskipun limbah dari kertas mudah terurai dan ramah lingkungan, namun gunungan sampah yang telah menghiasi negeri ini menunjukkan dengan jelas bahwa perilaku masyarakat kita ternyata juga telah mengalami pergeseran pula. 

Bila dulu Simbah mengingatkan kita agar membuang sampah bungkus dari daun pisang saja (organik) dengan membukanya terlebih dulu (tidak dalam keadaan terlipat) sebelum diletakkan di tempat yang telah disediakan (lubang di tanah), yang tentunya bisa kita maknai sebagai bentuk penghormatan kepada alam, kini gunungan sampah jelas menjadi potret perubahan perilaku (budaya) kita.

Tanaman bambu pun turut menitikkan air mata ketika melihat sampah plastik dan styrofoam menyempurnakan gunungan sampah di negeri ini. Ia tahu limbah dari plastik dan styrofoam tidak mudah terurai dan mengandung bahan kimia beracun, yang otomatis dapat mencemari tanah dan menggerogoti kesuburan tanah yang membuat tanaman susah untuk tumbuh, dan itu jelas-jelas berimbas pada berkurang sumber pangan yang mengancam keberlangsungan hidup makhluk di bumi. 

Dapatkah kita (manusia) menghapus air mata bambu yang turut prihatin dengan nasib kita (manusia)?

Perilaku sebagian masyarakat kita bisa jadi memang benar-benar telah berubah di era digital ini. Memperlakukan sampah pun bisa jadi secepat dan semudah mengakses berita di internet. Membuangnya dengan sangat cepat tanpa memikirkan dampaknya. Tidak menempatkan dan mengelola sampah dengan penuh kesadaran secara mandiri dan menjadikan kebiasaan hidup yang membahagiakan seperti yang diajarkan Simbah.

Ternyata bukan kertas penyebab kerusakan alam kita. Kerusakan alam yang terjadi sekarang ini bisa jadi karena perilaku kita yang telah berubah, yang tak lagi peka melihat apa yang terjadi di sekitar kita. Tidak lagi belajar dari bambu seperti Simbah. Tidak menyiapkan fondasi yang kuat bagi generasi berikutnya agar bisa menggunakan teknologi digital dengan bijaksana dan memberikan teladan bagaimana cara memperlakukan sampah dengan benar.

Gunungan sampah yang menghiasi negeri kita sekarang ini sungguh merupakan suatu kondisi yang memprihatinkan. Adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyikapinya. Meskipun teknologi digital hadir dan juga datang menyapa dengan sangat cepat, sebenarnya kita masih memiliki harapan untuk dapat berdamai dengan sampah plastik, styrofoam, dan juga kertas. 

Kita masih memiliki kesempatan untuk dapat hidup harmoni bersama alam dengan fondasi yang kuat seperti tanaman bambu. Hingga tidak ada satu pun yang bisa mengubah karakter (budaya) warisan dari Simbah, yang senantiasa menghormati alam dalam aktivitas hidup sehari-hari, termasuk bagaimana cara memperlakukan sampah dengan bersahabat.

Bambu sebagai Tanaman Konservasi Lingkungan

Bambu bisa mengobati yang terluka, memberikan keteduhan, dan dapat membantu memulihkan kembali paru-paru dunia yang rusak. Bambu pun rela memberikan sebagian rentang hidupnya untuk membantu menyelamatkan bumi dari kerusakan dengan tanpa pamrih. 

Andai kita berani menerima uluran tangannya, menggunakan dan mengolah bambu, serta melibatkannya dalam upaya menyelamatkan bumi dari kekurangan oksigen, gas karbon dioksida yang berlebih dan juga ketersediaan air bersih.

Tak hanya itu, tapi beranikah kita kemudian memulai hidup baru dengan banyak belajar dari bambu? Membuat dan menyiapkan fondasi yang kuat dan kokoh bagi generasi berikutnya agar kelak dapat menyesuaikan diri dalam mengikuti perkembangan zaman dengan tetap menjaga dan menghormati alam?

Kini, kehadiran beberapa wisata hutan bambu telah memberikan angin segar bagi negeri ini. Beberapa titik tempat telah memiliki kawasan wisata hutan bambu. Seperti Hutan Bambu Keputih di Surabaya, W Bali Seminyak di Bali, Boonpring Andeman di Malang, Green Village Bali, Hutan Sumbermujur di Lumajang, dan tentu masih ada lagi di tempat lain, mengingat ada banyak spesies bambu di negeri ini.

Selain menambah keindahan alam, konon wisata hutan bambu juga dapat memberikan energi positif dan menyerap energi negatif. Ini sangat memungkinkan, karena tanaman bambu memang sanggup memproduksi oksigen dan menyerap karbon dioksida lebih banyak dibandingkan dengan tanaman lain.

Bambu memang memiliki berbagai macam jenis, keunikan sekaligus keindahan tersendiri. Melihat kondisi kerusakan hutan kita yang kini sudah sangat memprihatinkan, tanaman bambu sebenarnya memang bisa dimanfaatkan, dikelola dan ditata untuk membantu memulihkan kondisi alam kita yang rusak. 

Ia bisa memperbaiki kandungan air tanah, melepaskan banyak oksigen hasil fotosintesis, dan juga menyerap banyak karbon dioksida. Ia memang memiliki kemampuan menjaga ekosistem air karena sistem pengakarannya yang rapat, menyebar ke segala arah, baik menyamping ataupun ke dalam hingga lahan yang ditumbuhi rumpun bambu menjadi sangat stabil dan tak mudah terkena erosi.

Tak hanya itu, selain sebagai tanaman konservasi air dan tanah, tanaman bambu pun juga bisa menjadi salah satu bahan baku alternatif untuk pembuatan kertas bila memang diperlukan, dan bila produksi kertas dari bahan baku kayu (pohon) sudah memicu kerusakan hutan alamiah kita.

Kelak, bambu memang akan meranggas dan daun bambu kuningnya akan diam untuk selamanya menjadi jasad. Namun, ia telah bahagia bahkan setelah kematiannya. Karena jasad daunnya masih mampu menghadiahkan hara pada tanah agar senantiasa gembur, demi kelanjutan hidup tunas mudanya untuk beregenerasi. 

Dan kita pun juga bisa sepertinya, bahagia sepanjang hidup kita, bahkan setelah kematian kita, andai kita juga dapat memberikan warisan yang berharga (fondasi atau akar yang kokoh) bagi generasi berikutnya.

Seperti bambu yang terus tumbuh dan beregenerasi, membaca koran dan membaca buku tetaplah merupakan budaya yang mengasyikkan. Di era digital sekarang ini, budaya tersebut mungkin memang telah bergeser. Namun keberadaan pencinta barang antik itu tetaplah ada di negeri ini dan kertas tetap tak tergantikan bagi sebagian orang. 

Kertas tetaplah dicintai. Bambu tentu takkan membiarkan angin menerbangkannya ke awan dan membuatnya berlalu begitu saja tanpa makna yang dalam. Karena sepuluh bintang bertabur, bolehkah sama dengan yang satu?