satu
sepotong rembulan jatuh di punggung malam⁣, kelam ⁣
rindu terisak diam-diam⁣

⁣dua
di meja makan, ⁣seiris roti dan secangkir susu kopi berpesta pora⁣
membelah sepi⁣

⁣tiga⁣
laki-lakiku, luka-lukaku ⁣
sama-sama membusuk di dada⁣ku

⁣empat⁣
senyumanmu kupu-kupu⁣
merobek hari⁣, memporak-porandakan mimpi⁣

⁣lima⁣
sebuah pesan di pintu kulkas :⁣
bersiaplah, esok bahagia pergi berlibur ⁣
segera tutup pintu dan jendela sebelum kesedihan menghambur⁣

⁣enam
di bibirmu,⁣ cinta menjelma kunang-kunang⁣
bercahaya⁣ tapi sebentar padam

⁣tujuh
ponsel bernyanyi, ⁣ sumbang sekali ⁣
aku tersenyum seraya memaki⁣

⁣delapan⁣
hujan seharian⁣, kepalaku pengar ⁣
rindu tak henti-henti menghajar⁣

⁣sembilan⁣
desau angin ⁣, genta berdentang pelan⁣
selamat datang kehilangan⁣

⁣sepuluh⁣
derak reranting⁣, kesepian ini seperti serpihan dandelion terakhir⁣⁣


Hujan

"Ngapain hujan-hujan? Nggak ada kerjaan?"⁣

"Iseng. Nggak mau ikutan?" ⁣

"Nggaklah.. " ⁣

"Kemonlah.. main hujan sebentar nggak bikin kulitmu luntur." ⁣

"Nggak. Nggak sekarang. Mungkin besok atau dua hari lagi." ⁣

"Okee..." ⁣

"Okee..." ⁣

•⁣

Kutemukan percakapan ini di ruang kepalanya yang tumpang tindih dengan percakapan-percakapan lain. Sedikit absurd, banyak muramnya. ⁣

Langit-langitnya seperti mengingatkan pada bangku kedai kopi yang menawarkan ramai dan sepi sekaligus. Dan ia selalu memesan keduanya untuk merapikan kenangan dan menutup malam. ⁣

Di atas meja, menumpuk pesan-pesan yang tak tersampaikan, satu dua pertanyaan, kisah-kisah yang terjebak dalam ruang dan waktu, kekesalan demi kekesalan dan beberapa makian. Damn!⁣

⁣Lalu kuselamatkan mataku. Membuka pagi di jendela tanpa aroma kopi, tanpa koran pagi, apalagi ucapan selamat pagi.⁣


Redup Malam

Redup malam. ⁣⁣
Sepotong rembulan menyisir langit.⁣
Sepotong lagi dicuri puisi, biar kata-kata tak lagi sepi.   


Berbahagialah, Senja Itu Milikmu

Jadi datanglah ke kotaku, akan kupotong senja untukmu. ⁣
Senja yang tak selalu sama. Entahlah. ⁣
Kau tahu semesta selalu penuh kejutan. ⁣
Kadang tenang menyenangkan, kadang merona jingga, kadang semerah saga. ⁣
Kadang abu-abu, sebab hujan dan petrikor syahdu. ⁣
Atau jika kau tak ada waktu, akan kukirimkan beberapa lembar surat sewarna senja, sepaket dengan rindu dalam puisi-puisi sederhana tulisan tanganku. ⁣Berbahagialah, senja itu milikmu.


Senja Terakhir

Selain sendu yang terlalu, kutemukan senja terakhir di matamu.⁣

Di buku-buku, kata-kata sibuk bercerita tentang pelukan perpisahan dan kenangan yang berkali-kali menyalapadam.⁣ Lalu tangis pecah, sepi terbaca sudah. ⁣

⁣Pada senja kutitipkan segala dari deras rindu yang tak jelas muaranya.⁣
Seperti kemarin-kemarin, Desember kali ini masih sama; menjelma kabut bagai selimut atau bentang sayap malaikat maut.⁣  


Mungkin

Mungkin hidup hanyalah mekar kembang-kembang yang lahir dari potongan-potongan waktu; angka-angka kalender dan detak jam di tanganmu⁣.

Sekadar ada hanya untuk menyerahkan diri ⁣pada cuaca.

Dan entah pada hitungan keberapa⁣ warna-warna menua, ⁣lalu hilang⁣ ditelan ketiadaan, ⁣tetapi mungkin juga tidak. 


Gerimis, Suatu Malam

Seorang perempuan berjalan-jalan ke dalam pikirannya sendiri.
Dilihatnya segala harap sedang menyusun diri di dalam lemari.
Dilihatnya rindu merimbun subur di luas halaman rumahnya, dan seorang perempuan sedang berteduh di bawahnya. Sambil menghela napas perempuan itu berkata,

"Seharusnya aku tak mengingatmu seperti ini. Aku tak mengerti, bagaimana bisa cinta sebecanda ini. Bagaimana bisa hal-hal ganjil menjelma udara sore yang hangat, seperti aroma tengkukmu itu misalnya. Semakin kucium semakin ingatan merajalela, kamu ada di mana-mana.
Kamu tahu, sayang, gerimis ini turun, bukan jatuh, satu demi satu. Yang jatuh itu rinduku, kamu demi kamu." 


Menyimpan Senja

Orang-orang menyimpan senja di mana saja. Di tiket bioskop, saku baju, jendela ruang kerja, botol-botol bir, atau di meja kayu.

Aku menyimpan senja tak sembarang, hanya di wajahmu.

Menyusunnya satu demi satu, sambil mengeja cuaca yang datang dan pergi.
Sedang mimpi terlanjur beranak-pinak dari rindu yang berserak.
Dan seperti biasa, kita hanya bisa menikmatinya sendiri-sendiri.  


Sebab Ini Bukan Tentang Hujan yang Meninggalkan Genangan

Sebab ini bukan tentang hujan yang meninggalkan genangan.⁣
Ini tentang Desember dan hal-hal yang sudah seharusnya dilupakan.⁣
Iya, dilupakan. ⁣ 

Maka abaikan basa basi di tengah hari⁣, juga pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya pun akan kau lupakan. ⁣


Perempuan Paling Puisi⁣

Kau yang menyusun rapi ingatan⁣
Jadikan aku perempuan paling puisi⁣
Yang mekar dan mengakar di kepalamu⁣
Lalu menyatu di semesta dadamu 


Pernah

Pernah, ruang-ruang di kepalaku porak poranda.⁣
Siang malam sama saja, tak ada beda, gelap dan penuh sarang laba-laba. ⁣
Kata ibuku, jendela dan pintu penuh debu setebal buku-buku jari tanganku. ⁣
Lalu seperti biasa, dengan sabarnya ia membereskan semua, dan menemukan puisi-puisi pucat pasi tergeletak sembarang.⁣
Sambil tersenyum ibu bertanya, "Ing, inikah sebabnya?" ⁣


Waktu Dalam Puisi

November, ⁣⁣ ada yang bahagia⁣⁣ ada yang terluka⁣⁣
Semua merujuk pada hujan dan kenangan⁣⁣, membosankan⁣⁣
Yang itu⁣⁣
Yang ini⁣⁣
Saling silang⁣⁣

Sementara

Semacam John Lennon⁣⁣
Imagine bernyanyi⁣⁣
Jatuh di pucuk-pucuk cemara⁣⁣
Tertimpa bayang rembulan⁣⁣
Tersangkut ranting cuaca ⁣⁣
Dipuisikan malam⁣⁣
Sebagian mekar menjadi bunga⁣⁣
Sebagian menjelma kembang api yang meledak-ledak di kepala dan dada ⁣⁣
Sebagian lagi layu terperangkap rayu

Waktu itu

Ada pesan untuk diri sendiri; berbukalah dengan yang manis⁣⁣
⁣⁣Sebab tak ada es buah, kolak, sirup marjan, sekadar kue putu atau rengginang dalam kaleng kong guan⁣⁣
Apalagi rendang nasi padang⁣⁣, tak ada⁣⁣
Maka kuputuskan menelan janji-janji manis pemberianmu ⁣⁣

Kini

Kepalaku,⁣⁣ kepalaku menjelma sekotak sepi ⁣⁣
Menumpuk mimpi di malam hari, membakarnya di siang hari ⁣⁣
Begitu seterusnya sampai puisi mati terbunuh kata-katanya sendiri⁣