Melihat kalender, saya baru sadar bahwa hari ini adalah 30 September. Apa artinya? Kok tidak seperti biasanya? Setiap masuk bulan September, biasanya isu Komunisme dan Partai Komunis Indonesia (PKI) sudah menjadi perbincangan publik.

Sejak runtuhnya era Orde Lama, memang hampir setiap tahun,menjelang akhir September dan awal Oktober, perbincangan mengenai peristiwa yang mengubah arah sejarah di Indonesia selalu menyuguhkan tema serupa; pengkhianatan dan penumpasan PKI. Pembahasan ini selalu menjadi topik hangat. Berbagai pro dan kontra selalu menghiasi diskusi dan perdebatan tentang hal tersebut.

Saya coba mencari berita-berita terhangat tentang PKI pada September 2019 ini di media-media sosial. Jarang. Kalaupun ada berita tentang ini, itu pun yang paling tampak adalah Massa Aksi Mujahid 212 di Bundaran Hotel Indonesia yang dilakukan Persaudaraan Alumni (PA) 212, Front Pembela Islam (FPI), dan para simpatisannya pada Sabtu (28/9) lalu.

Perjuangan suci dan mengharukan yang bertajuk 'Selamatkan NKRI' tersebut, seperti biasa, mengangkat isu-isu nasional dan keagamaan. Tentu isu yang tidak boleh ketinggalan untuk diangkat ialah isu Komunisme dan PKI. Mereka mulai bergerak dari sekitar Bundaran Hotel Indonesia dan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, menuju Istana Negara.

Untunglah ada FPI dan PA 212 yang tetap konsisten dan tidak lupa dengan peringatan 30 September, serta berkenan menjaga rutinitas yang harus selalu dilakukan dan diingat sejak zaman Orde Baru. Hal ini penting agar kita jangan sampai melupakan sejarah sebagai warisan maha agung Orba ini.

Tidak sesemarak tahun lalu, isu PKI dan Komunisme tahun ini benar-benar senyap. Saya begitu ingat, pada saat itu Kivlan Zen, Amien Rais, Fadli Zon, dan beberapa elite politik yang lain sangat gencar menyinggung dan memperingatkan bahaya kebangkitan PKI dan Komunisme. Mereka juga secara eksplisit menuding pemerintahan Jokowi penuh dengan orang-orang dan simpatisan PKI.

"Pemimpin (Jokowi) mengatakan tahun 1965 baru 4 tahun, mana ada PKI balita. Memang nggak ada, tapi kenapa rezim ini memberikan angin membangkitkan PKI," ujar Amien Rais dalam sebuah kesempatan diskusi beberapa bulan yang lalu. 

Ia berbicara soal PKI yang pernah disinggung Jokowi. Ia menyebut ada unsur pembangkitan PKI dalam pemerintahan Jokowi.

Masih ingat kontroversi wakil Ketua DPR, Fadli Zon, yang mem-posting video seolah meneruskan nyanyian politik 'Potong Bebek Angsa'? Video tersebut di-posting Fadli di akun Twitter-nya, @fadlizon, pada September tahun lalu (21/9/2018). Link posting itu lalu dibagikan. Video tersebut menampilkan 3 pria dan 6 perempuan berhijab memakai seragam biru dan hitam serta topeng penguin.

Diiringi lagu yang berisi sindiran politik tajam, mereka berjoget dan membentuk formasi tarian. Sepotong lirik lagu itu diambil dari editan lirik lagu 'Potong Bebek Angsa' ala Fadli Zon.

Potong bebek angsa masak di kuali
Gagal urus bangsa maksa dua kali
Fitnah HTI fitnah FPI
Ternyata merekalah yang PKI
Fitnah HTI fitnah FPI
Ternyata merekalah yang PKI

Potong bebek angsa masak di kuali
Gagal urus bangsa maksa dua kali
Takut diganti Prabowo-Sandi
Tralalalala lala
Takut diganti Prabowo-Sandi
Tralalalala lala

Allahu Akbar

Lha kok sekarang tidak ada postingan provokatif yang begitu-begitu? Apa orang-orang sudah malas memperingatkan bahaya PKI? Atau malah mereka sudah tidak takut dengan PKI yang kejamnya masyaallah itu?

Para elite politik dan umat Islam garis non-santuy cukup gencar melakukan kampanye anti PKI melalui media maya maupun nyata. Banyak buku-buku kiri disita aparat negara, diskusi-diskusi yang berbau Komunisme dicurigai dan dibubarkan.

Khusus penyitaan buku-buku kiri, masih konsisten dilakukan oleh aparat TNI maupun kepolisian. Dalam kurun tujuh bulan, paling tidak sudah tiga kali terjadi penyitaan buku di Indonesia.

Sebagai orang yang gemar menyita —bukan membaca— buku, aparat negara selalu mempunyai dalih yang saya sendiri juga bingung bagaimana cara membantahnya terkait hal ini. 

Misalnya penyitaan buku di Kediri. Aparat mengatakan bahwa buku disita agar tidak meresahkan masyarakat —yang walaupun masyarakatnya malas datang ke toko buku. Saya sendiri tidak tahu bagaimana alurnya mereka sampai bisa resah.

Saat penyitaan di Padang juga, misalnya. Aparat beralasan bahwa tidak ada penyitaan buku, melainkan buku diamankan untuk diteliti lebih lanjut. Dalih penyitaan ini, mulai dari peristiwa Kediri, Padang, hingga Probolinggo tersebut adalah bahwa aparat mencium bau komunis dan PKI di buku-buku itu.

Di luar itu, pada September dan awal Oktober tahun-tahun lalu, tidak terhitung juga berapa kali saya menolak ajakan kawan untuk nobar film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI. Sering kita jumpai di desa-desa, kampus, maupun komunitas-komunitas di daerah mengadakan pemutaran film tersebut.

Walaupun pemerintah sudah tidak mewajibkan menonton film ini, namun setiap September aktivitas masyarakat mulai disibukkan dengan nobar film berdurasi sekitar 3 ini. Pada masa kepemimpinan Presiden Soharto, film produksi Perum Produksi Film Negara (PPFN) tahun 1984 yang disutradari dan ditulis oleh Arifin C Noer ini memang wajib diputar di seluruh bioskop dan stasiun televisi Tanah Air.

Selain aksi aji mumpung yang dilakukan Massa Aksi Mujahid 212 kemarin, kita tidak menemukan isu PKI dan Komunisme yang menyita perhatian publik skala nasional. Padahal sudah tanggal 30 September. Kok diem-diem bae? Tumben sekali.

Saya curiga, apakah ini bagian konspirasi yang telah dimainkan rezim laknatullah atau kelompok tertentu? Atau jangan-jangan demo besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa, pembakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan, pengesahan UU KPK, revisi RKUHP, tidak kunjung disahkannya RUU PKS, konflik di Papua, banyaknya konflik agraria antara masyarakat tani dan pemerintah maupun oligarki yang tidak kunjung selesai, dan lain-lain adalah pengalihan isu belaka? Hmm.