September hitam menghadap tragedi 

Denging peluru
lari-lari!
tanah darah
saksi-sanksi!

Bulan bintang kesia-siaan  
diperingatinya sebagai ratapan

Lengket sengketa!
centang temali
putar mengurai!
rintang delusi

Rentang kematian mengukur jarak keadilan, kemanusiaan—silang merekap

Melengung dagu di punggung indung
menyatu kalbu berkabung-kabung

Riwayat lawas sealun kelam, melayat mega mengawang-pandang

Sejarah terlalu tragis dan tangis
tanah-tanah masih berisi keruk dan dendam.

Dasawarsa

Lepuh sepuluh—tahun terpukul; aku
Terpincang-pincang
Terguncang-guncang; pendirianku

Ikut menguras-arus zaman
Sikut menumpas lalu tawanan

Bekas-bekas kulit di kepalaku
Tergores dalam perhatianku

Muka ini buat siapa? Hancur
Luka ini mau apa? Luntur

Taruh gardu liang uzur
Reyot badan bertafakur

Lepuh sepuluh—tahun terpukul; aku
Kalut!

Itu Kah?

Itu kah arti kebaruan, ketika sungai tak riak oleh gemercik jurang?

Itulah kebanditan, saat tindak-tangan tak lekas mengarungi kearifan

Itu kah kehidupan, yang lulum lalu berladung air mata?

Itulah kami datang akan kemas memberi kabar

Itu kah masa depan? Itulah.

Usia yang Usai

Dunia menabukan;
tidak di mana-mana
tidak ke mana-mana
tidak mencari siapa-siapa
tidak menemukan apa-apa

Manusia usai; usia sia-sia

Identitas Asing Material Baru

Aku adalah reruntuhan yang tidak bisa dibangun kembali, material (bongkar-pasang) membentuk bangunan lain; aku adalah aku

Berulang-ulang; aku bukanlah aku.

Pesan Koin Kepada Genggam

Aku adalah serpih—dinominakan harga yang bernilai, dibayar melalui rajah, hingga terkikis; pun kusam, lalu terkenang suaka sejarah

Aku adalah saksi—yang mengguncang sekelap mata, yang mengubah tradisionil, yang menjadi telah jadi, yang nyata lewat peradaban

Aku sungguh riil—jika telapakmu berantaraksi dengan yang lain. Aku sungguh-sungguh riil jika pecahanku tidak lepas dari wujud-wujud yang menempel

Aku hidup di antara benda mati. Aku ada, sebab kalian. Aku berjalan di sela-sela sakumu, dompetmu, atau selip-selipan rahasiamu. 

Kalau pun aku kusam, aku berarti tercemar dari kantong kemiskinan; yang tidak dirawat dalam kasih sayang dan di hampar ke tempat-tempat kotor; tercemar oleh berbagai kepentingan, atau terkontaminan dari identitas-identitas buruk

Karenanya, sudah menjadi kewajibanku untuk tidak setia kepada genggaman. Dan jika boleh menutur kepada genggam, aku ingin berkata:

"Kalaupun kau setia, pasti kau akan lupa. Entah kau lupa menaruhnya, atau aku hilang di ambil orang.."

Mengecat Usia 

Percikan di hari minggu membabar
ke dasar lengas

Kuas-kais terali patah
mematuk karat

Warna bunyi yang pudar; seperti usia yang usai

dari desir abu, dari kelopak ratu
mendominasi sebuah mendung

celoteh telah memberiku kabar
lewat kibasan kipas dan asap-lesap dibalik hutan

di situ, seekor monyet dan aku mengecat pisang dari terigu dan liur bayi

Anomi

Lihatlah searah lajur; orang mabuk sedang berkendara, meliuk lengkung tak beratur, dihantamnya balai-balai, terus-menggerus lantak berhamburan

Ketika ditanya oleh aparat, dia bilang sedang sekarat, ketika saksi mata bantu menjabat, dia bilang keparat! 

Hidup orang mabuk selalu benar. Katanya, dia tidak ingin diatur, alasannya punya aturan sendiri.  Bocah jalanan langsung menghardiknya: apakah napasmu masih teratur? 

Berbaris tak berurut, laman-laman berjejer terikat-paut. Orang mabuk viral di surat kabar, bergentayangan di rumah kediaman. Pihak keluarga mengalun tangis, saat melihat berita tragis. 

Sang Pembual

Pada coretan puisi pilu,
pada tulisan  yang menyesak tangisan.

Dan tak lagi bersuara; tak ada aku di sana, aku tak berada 

Aku telah wafat di tengah tumpukan kepercayaan yang kau hancurkan

Aku berusaha kembali; sekali lagi.
Namun sia-sialah, aku menarik napasku kembali—aku mati dengan payah.

Aku terjepit di antara kebohongan yang indah 
aku; seperti jeritan tak bersuara, 
seperti warna yang tak berwarna, seperti labirin tanpa akhir

Dengan segala kemungkinan yang baru; inilah aku, untuk aku yang tiada.

Sungguh, kebohongan menuntunmu sampai binasa!

Dalam embusan terakhir, 
semoga kau terbuntang, runyam!

Langkah Hidup Menuju Takdir

Pergi dari rumah ini dan kita akan temukan jawaban hidup lewat kota-ke-desa. Menimang-nimang kenangan masa lalu; dan kita akan mendengar suara-suara dek kapal di sana, berlayar—menangkap sebuah perjalanan masa depan

Pergi dari rumah ini dan kita akan menangis ketika dua-tubuh renta memaki-maki. Masing-masing mempertanyakan hidup, untuk apa sebenarnya mati? jiwa-jiwa diciptakan dari kesendirian yang sedari lahir kita tidak tahu, tidak mengerti bagaimana cara menghindar dari keramaian

Pergi dari rumah ini dan kita akan pergi, pergi berjalan tanpa henti. Kaki-kaki telah kandas oleh langkah tertatih—apakah kita sedang di rumah? apakah kita di luar rumah? 

Pergi dari rumah ini dan kita akan terbangun di mana hidup adalah masa depan. Lalu mengerling, seolah rumah telah tiada di benak kita. Barangkali rumah seperti aula, barangkali rumah berbentuk istana, barangkali rumah ada di hutan, barangkali rumah adalah Tuhan?

Pergi dari rumah ini dan kita akan termenung. Tercenung sendiri dari rentetan perjalanan kepala tentang rumah. Kau bertanya: 

Apa kita sudah pulang? 

Ya, kita telah berpulang kawan.