Di tubuhku, petapa tua bermakam
dan September bermukim.
Apakah transkip waktu merangkul
atau memukul?

Kau hadir sebagai epigraf
beranjak dari riwayat lupa.
Sedangkan aku adalah bagian teka-teki
yang menggeledah tanya, memungut jawab.

Kematian; perjalanan.
Kau mengukurnya.
Aku menegurnya.

Tiba-tiba seorang penyair tertawa, terbahak-bahak.
Sajak ‘Transkip Waktu’ dengan jiwa amatir
membuatnya geli.
Kemudian, maut mengintip. Jalan perlahan.
Lantas menyanggam nafasnya.
Kau.
Aku.
Memangku puisi di gua Ibu.


Melamar Doa

Menerjemahkan wajah
mengabdi pada kiblat.
Tuhan.
Aku melamar doa.


Pulang

Pulang ke rumah
berbicara dengan nisan
Abah dan Mama.

Perjalanan sebagai tuan
yang mengisi jejak dan riwayat.
Adalah detik sebagai kawan
berlari menuju Malaikat yang di tangannya
menulis teori

            -Maut-


Puisi di Hari Miladmu

Di titik nadir dedaunan
kau berbincang khusyuk
dengan seseorang yang mengenakan reranting
sebagai pena untuk menyalin tiap manuskrip.

Dan apabila puisi menghadirkan wujud para nabi
dia mulai bersabda tentang sepasang bebatuan mulia
sedangkan kau dalam suasana meditatif
mengelaborasi pepatah bijak
tanpa permainan akrobatik kata-kata.

Adalah perahu muasal pelayaran
tanpa pengayuh, kau mengiktikadkan September
sebagai museum yang menyimpan percakapan
sewaktu di rahim Ibu dan rumah merupakan
perigi tempat kau menyaksikan kenangan
semasa kecil.

Pada bulan September
aku memainkan peran sebagai seorang petualang
mengembarai berbagai kemungkinan
buku dan kopi merupakan kawan setia
berdikari membaca tiap jelaga:

Menuntaskan dunia akademisi dan narasi resepsi
secara mandiri”

 

Kepada Rumah

Kepada rumah, tempat aku
menyisir jejalanan dengan wajah misterius
dapatkah waktu mencekal dari ujung tangga
menuju peraduan padang sunyi
di antara tepuk tangan para bocah dan masa silam
adalah bertubuh sabda, aku mendengar nyanyian
sepotong tawa Ibu sebagai bagian bisu
peradaban.


Perempuan yang Membaca Novel
di Sela-Sela Pekerjaannya

Adalah sebuah novel Animal Farm
karya George Orwel mengajak dialektik
pada suatu malam di kedai kopi.

Sebagai pemantik wacana, kau mengaduk kopi
sembari meminta puisi yang kujanjikan ditulis
pada hari lahirmu. Adalah tubuh menelurkan biografi
sebagian perjalanan tentang apa yang mesti
aku kerjakan sebelum waktu mengantarkan kebisingan
tentang gaun-gaun yang engkau pakai suatu saat pada hari minggu
namun aku hadir sebagai seorang lelaki yang
mengatakan kekalahan sebagai perjumpaan semu.

Berbicara pada seorang pencuri di suatu malam
Mengingatkan aku bagaimana caranya
Menjelajah tiap gelap dengan berbagai tiap kemungkinan
di hadapan.

Apakah Tuan berbicara tentang nyala api atau hanya sekedar
Perjalanan sebelum semua kemungkinan menjadi abu
dan punggung tempat awal september mengadu pada tubuh
adalah bagian senja dengan kecemasan, sebelum dialog purba
mengingatkan kepada perjanjian di alam rahim.

Sungguh, kau adalah perempuan yang membaca
novel di sela-sela pekerjaanmu sebelum
aku menjadikan rumah sebagai nisan


Perempuan dengan Tahi Lalat
di Sebelah Kanan Dahinya

Baca Juga: Membunuh Waktu

Tuah sajak mengajak
aku menyisir jejalanan malam ini
dari RTH Ratu Zalecha menuju Kampus Hijau
kutemukan segenap temaram bercakap dengan tiang-tiang istrik
padam bukan haluan atau hanya sekedar bagian sunyi

Para pengendara di tepian menelurkan kebisingan
sungguh ini adalah sebuah kota santri dalam ingatan
seorang mahasiswa akhir, menggambarkan perjalanan.

Dan bayang perempuan dengan tahi lalat
di sebelah kanan dahinya merupakan epigram sakral
yang melahirkan kepul asap
cangkir kopi sebagai kawan
menghujam malam, keresahan menghadapi hari esok.           

Malam membatu dalam pejam kata-kata
dan tubuh adalah jantung riwayat sebelum
sakralnya kata-kata Akad terlahir”

Dan aku masih menyisir jejalanan
dengan kerontang di setiap perempatan.
Adalah namamu sebagai spirit
ruang-ruang yang tiada memiliki perabot.


Agitasi Senja

kepada perempuan yang melahirkan puisi
di sela-sela senja

Di punggung senja, kita berbicara pada
temaram lampu-lampu kampus.

Adalah jalan seusai perjalanan mewujudkan
kata-kata sebagai bagian dari perigi tersunyi dan
bisik reranting ketika pohon tua di samping
pagar itu bernyali untuk mendongeng tentang
seorang lelaki tua yang terinspirasi dari sebuah novel
Lelaki Tua dan Laut karya Ernist Hemingway
berangkat dari ranah estetis menuju pergolakan
makna atau pada secangkir kopi tanpa peraduan pahit.

Adalah perempuan yang menyalin tiap naskah puisi
menjadi sumber manuskrip dengan bahasa langit
dan bumi mengijinkan hujan sebagai perantara
atau kita yang alpa pada sebuah panggung puisi
tempat kita pernah membaca puisi bersama dan berbincang
ihwal buku-buku sastra dan sesekali berdebat
tentang film terbaru.

Adalah namamu, penghantar perahu
mengaliri decak kagum seorang lelaki yang
menyunting naskah puisi
ketika inspirasi tentang maknawi berlarian dari ujung
daun menuju puncak dari segala puisi.

Akad berbincang pada kepastian
dan kita membatu”

 

Di Sebuah Pasar

Di sebuah pasar, tubuhmu terlempar.
Pada pukul 08.00 Wita, kita berjalan
menghampiri kereta
dan waktu
mencari detik yang meminjamkan bunyi
kepada pemotong rumput di pekarangan rumah.
Adalah muasal kelahiran
kau bergegas hadir sebelum petualang
menulis relief tentang kematian.