Menjelang Pemilu 17 April 2019 ini, isu-isu politik makin laris manis. Semua orang bicara politik, mulai dari studio televisi, hotel berbintang, lapangan kampanye hingga kedai kopi. Sayangnya ledakan informasi politik yang sampai menjangkau ruang-ruang privat ini tidak diikuti dengan peningkatan literasi politik.

Alih-alih mencerdaskan, ledakan informasi politik ini malah menjelma propaganda politik negatif sarat distorsi. Akibatnya sikap permisif bangkit, ujaran kebencian dan politik identitas marak, sampai akhirnya politik yang beradab lenyap entah ke mana. Publik dipaksa untuk memilih dua opsi: membabi-buta atau apatis? Yup, bahkan hari ini menjadi bagian dari golput pun sudah seolah-olah kejahatan di media sosial.

Keresahan ini yang agaknya mendorong Hendri Teja, penerima Penghargaan Sastra Kategori Novel Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud (2017), mengarang novel berjudul “Iblis-Iblis Capres”. Yup, dari judulnya saja sudah membikin kening kita berkerut.

Novel ini menceritakan Dantalion dan Valak yang sukses menjejaki buana fana sesudah tiga milenium berlumut di neraka gara-gara kena kutukan segel Solomon. Mereka lalu dipaksa Lucifer untuk bertanding memenangkan Jakeem Wyman dan Penrod Sigra, dua kandidat capres terkuat di Kalbusia.

“Kalbusia? Satu negeri yang sudah bisa bikin pesawat terbang, tapi tetap menyangka mobil impor lebih keren.” (hal 125)

Sampai di sini sudah terbayang betapa berat tema yang mau diusung: iblis dan politik. Ini sebenarnya dua tema yang paling malas dibaca oleh pembaca fiksi di tanah air. Tambah berat lagi soalnya novel ini berbentuk ebook dan tidak ada versi cetaknya.

Tapi toh Hendri cukup berhasil memukau saya. Jika dalam serial TAN, Hendri membuat tokoh-tokoh sejarah menjadi membumi, maka di Iblis-iblis Capres Hendri novel yang condong pada imajinasi mitologi Malaikat Jatuh. Hendri membangun semesta bernama Kalbusia di mana dimensi niskala melekat seperti selotip di atas kertas bernama buana manusia.

Tapi Hendri sama sekali tidak memunculkan, bahkan dia menolaknya, iblis-iblis berwujud mengerikan yang siap menolong politisi dengan bayaran darah orok. Tidak ada keajaiban-keajaiban yang menyebalkan dalam novel ini. Narasi dibangun secara logis dan tidak ada yang ujug-ujug.

“Tak ada yang mubazir dalam pencitaan alam semesta, begitu diktum Pasal 13 Kitab Penciptaan. Lantas mengapa Tuhan memasang sepuluh kepala di atas badanku yang kerempeng sehingga aku pasti tersungkur saat memburu musuh?... Apa yang merasuki si pelukis … Sebab ia kejatuhan inspirasi usai membaca Pseudomonarchia Daemonum? Sontoloyo!” (hal. 59) 

Iblis-iblis dalam novel ini digambarkan dalam tiga tipe. Pertama, Penghuni, yakni iblis-iblis tipe khadam yang terus membisiki manusia untuk berbuat jahat. Untuk setiap niat jahat sang Inang yang jadi nyata, iblis itu mendapatkan imbalan dosa yang bisa dipertukarkan untuk membeli secangkir kopi, ongkos taksi online atau segulung informasi dari iblis-iblis tipe kedua yang disebut Penjelajah. Iblis tipe ketiga disebut Pengawas yang mirip-mirip PNS di dunia manusia.

Upaya Dantalion—bersama kawan-kawannya yang tergabung dalam tim Wiski7, untuk memenangkan Jakeem ini yang sejatinya jadi ruh novel ini. Mereka merancang taktik di medsos, unjukrasa, menulis hoaks sampai melakukan banyak negosiasi dengan iblis-iblis politik lain. Alur perjalanan Wiski7 ini akan mengingatkan kita pada peristiwa-peristiwa politik yang bikin heboh di tanah air, termasuk Pilpres 2019 ini.

“Kenapa kami menolak? Mungkin karena hati kami adalah Acong, pernah merasakan bagaimana difitnah, diringkus, dan sekarang, dikhianati kawan sejalan (hal. 273)

Untungnya Hendri tidak melulu bicara strategi dan taktik politik yang pasti bagus buat politisi tapi bisa bikin kernyit-kernyit di sekujur dahi saya untuk memahami. Ada sisi percintaan, persahabatan bahkan kekaguman pada pihak musuh.

Berbeda dengan novel TAN yang cenderung tegas menghantam, novel ini disesaki sindiran, sarkasme atau guyon bernada satire. Terkadang semuanya tersaji secara eksplisit, tapi lebih banyak lagi yang tersirat.

“Hanya Tuhan yang Mahatahu, dan saya pesimis Dia mau berpihak pada iblis-iblis pemerintah.” (Hal 106)

Dantalion sendiri digambarkan sebagai iblis yang arogan, zadul, kurang up date dengan perkembangan zaman, tapi bisa termehek-mehek untuk urusan cinta. Ironisnya, Dantalion yang membenci kopi mampus-mampusan ini malam bermukim di sebuah coffee shop gara-gara rekening dosanya yang menipis.

Kalau rencana kita gagal, kamu bisa buka coffee shop di neraka. Aku punya kenalan Penghuni pemasok kopi-kopi terbaik dari seantero pegunungan Kalbusia.” 

“Tidak ada kopi di neraka, Bray.” 

“Nah, itu peluang bisnis yang bagus. Kamu bisa sekalian monopoli.” (hal 74)

Meskipun bergenre novel politik yang memotret situasi hari ini, Hendri cukup objektif untuk tidak menggiring kita pada pilihan politik tertentu. Alih-alih, Hendri justru mengajak kita untuk mempertanyakan realitas politik hari ini, dan menelaah apa yang tersembunyi di baliknya.

Pendeknya, novel ini mengajak kita untuk mengambil peran sebagai devil advocate sebelum memutuskan untuk pergi atau menolak pergi ke TPS pada 17 April mendatang.