2 tahun lalu · 235 view · 5 menit baca · Budaya chow_kit_southward_2_kuala_lumpur.jpg
Chow Kit; tanah kumuh sejuta rasa

Sepotong Kisah tentang Penundaan di Tanah Chow Kit

Kisah ini sebenarnya terjadi sudah lama, mungkin enam bulan yang lalu, saya lupa. Tetapi kisah ini meninggalkan kesan dan pesan yang cukup berarti. Terkadang kebaikan tidaklah selalu baik. Adakalanya, Tuhan menghalangi kita melakukan sebuah kebaikan dengan memberikan kita peluang untuk melakukan kebaikan-kebaikan lainnya dan melupakan satu kebaikan yang awalnya sudah kita niatkan atas alasan-alasan yang hanya Dia ketahui. Ataukah benar itu perkara Tuhan? Entahlah, silahkan disimpulkan sendiri setelah menyimak kisah penuhnya.

Hari itu pagi. Saya dan Ibu pergi ke pasar tradisional Chow Kit yang terletak sekitar 5 kilometer dari apartemen tempat kami tinggal. Kami tinggal di sebuah apartemen yang cukup bagus dan relatif mahal, dengan fasilitas yang bisa dibilang mewah dan akses transportasi yang mudah; dekat dengan kereta listrik Light Rapid Transport (LRT), kereta antar wilayah Kereta Tanah Melayu (KTM), dan tempat perhentian taksi yang ada di mall sebelah apartemen kami.

Ya, kamu tidak salah baca, kami memang tinggal benar-benar di dekat sebuah mall yang dimiliki oleh Sunway, yang bisa dibandingkan dengan Ciputra atau Serpong. Kami tinggal hanya selangkah dari—jika tidak benar-benar pada—kemewahan. Lalu, mengapa kami belanja di Chow Kit?

Pada dasarnya Chow Kit adalah salah satu pinggiran kota Kuala Lumpur. Di tempat ini, barang-barang ada dan dijual dengan harga yang lebih murah dan ramah pembeli. Ramah disini bermaksud bahwa pembeli masih memiliki hak untuk menawar harga.

Satu yang penting adalah bahwa di Chow Kit, suasana jual beli begitu hidup dan manusiawi; ada interaksi di antara pembeli dan penjual, pembeli dan pembeli, dan penjual dan penjual. Semua interaksi itu bersatu dalam berbagai rasa dan emosi, mulai dari rasa kesal hingga rasa kehangatan, tidak seperti di mall-mall dimana interaksi hanya terjadi di antara pembeli dan kasir yang sibuk memindai barcode.

Selain itu, Chow Kit adalah tempat yang bagus untuk beramal. Chow Kit sebagai pinggiran kota tentu saja memiliki bagian tersendiri dalam perihal jumlah penduduk miskin bahkan pengungsi dari negara lain. Walau pinggiran kota ini merupakan salah satu tempat yang sering disisiri oleh para Rela—pasukan khas kepolisian yang bertugas untuk menangkapi warga asing ilegal—Chow Kit tetap menjadi tempat perhentian orang-orang yang nelangsa.

Maka itulah, bagi mereka yang merasa tidak nyaman dengan kemewahan yang mencekik, silahkan pergi ke Chow Kit guna mencari kemanusiaan dalam hati masing-masing. Kebetulan saya dan Ibu termasuk dari orang-orang seperti itu.

Jadi begini. Ketika suatu pagi itu saya dan Ibu sedang menuju pasar tradisional Chow Kit, kami melihat seorang ibu dan dua anaknya sedang duduk di dekat stasiun LRT dengan pakaian yang lusuh. Orang-orang berlalu lalang, sebagian dari mereka peduli kepada ibu itu dan sebagian lagi peduli kepada gawai dan jam tangan masing-masing. Alhamdulillah, Ibu masih termasuk dalam kategori orang yang peduli. Kalau saya sih, hanya sekadar mengikuti Ibu. Jadi ceritanya saya hanya figuran di kisah ini.

Ibu memberikan uang sebanyak RM10 kepada ibu itu. RM10 bukanlah uang yang sedikit. Jika dirupiahkan, bisa mencapai Rp35 ribu. Cukup untuk makan sehari (roti canai satu sekitar seringgit dua, satu untuk masing-masing mereka untuk tiga kali makan, baru habis maksimal RM18 dan minum biasanya gratis). Namun, Ibu tidak mau berhenti sampai disitu.

Bagaimana tidak, ya sesama seorang ibu namanya. Tambah lagi anak si ibu itu masih kecil-kecil, satu lelaki satu perempuan. Saya sendiri sih sempat berpikir, kalau ada yang tega sekadar melewati mereka tanpa memberi sedekah apa-apa, mereka harusnya disuruh berenang di Selat Malaka hanya dengan berbekal kue jengkol. Maka, Ibu pun bercakap-cakap dengan ibu itu.

            “Akak ni orang mana?” tanya Ibu.

            “Saya dari Thailand, Kak. Sudah tiga bulan sini,” jawabnya.

Dia pun melanjutkan cerita bahwa ia merantau ke Malaysia karena suaminya meninggalkannya. Dia hanya pergi merantau dan mengikuti kemana kakinya membawanya dan kedua anaknya. Tidak terlalu jelas terdengar bagi saya bagian ini, karena ibu itu berbicara dengan loghat Thai yang kentalnya minta ampun dan suaranya begitu lirih.

Jadi sebenarnya saya agak kurang yakin apakah suaminya meninggalkannya setelah mereka semua merantau ke Malaysia, atau si ibu itu merantau ke Malaysia karena ditinggal suaminya di Thailand. Yang bisa saya pastikan hanyalah ibu itu menderita. Sesederhana itu.

Maka, Ibu pun memberikan tambahan uang sebanyak RM100 kepada si ibu, yang disertai dengan tangisnya. Si ibu itu lalu mengatakan bahwa ia sudah tiga hari tidak makan lantaran seluruh uang hasil meminta-minta hanya cukup untuk memberi makan kedua anaknya. Menyedihkan sekali, apalagi melihat baju mereka yang sudah lusuh, nampaknya menandakan bahwa untuk ganti baju saja mereka tidak bisa.

Maka, Ibu pun mengatakan kepada si ibu itu bahwa ia akan membawakan baju untuknya dan sejumlah uang lagi; sebuah tawaran yang sempat ditolak oleh si ibu, namun Ibu bersikeras. Ibu lalu bertanya apakah ia selalu berada disana, dan ia menjawab ya, namun hanya untuk waktu yang sebentar. Mereka ada jadwal bermain petak umpet dengan Rela dan Polisi di setiap harinya.

Memang, sepulangnya kami dari berbelanja, si ibu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Maka sesampainya di rumah, Ibu langsung menyuruh saya untuk bersamanya mengumpulkan baju-baju bekas. Mumpung di rumah kita terlalu banyak punya baju, padahal kalian—merujuk kepada saya dan adik saya—paling hanya pakai baju itu ke itu saja setiap hari, begitu kata ibu. Saya setuju, tentunya. Tapi langsung bekerja mengumpulkan baju bekas sesampainya dari pasar Chow Kit yang panas dan ramai itu sangat tidak asyik. Tapi ayolah, ini bukan tentang diri saya, ujar saya dalam hati.

Singkat cerita, keesokan harinya saya disuruh Ibu untuk pergi ke tempat si ibu itu mangkal untuk memberikan baju-baju yang sudah kami kumpulkan. Sialnya, saat itu bertepatan saya sedang diskusi online dengan dosen pembimbing skripsi saya. Lagipula jam sudah hampir menunjukkan pukul 11. Kemungkinan si ibu itu sudah tidak ada di tempat cukup besar. Alhasil saya dengan alasan ini itu yang kebetulan disetujui ibu, menunda hingga esok hari.

Saya rasa kelanjutan ceritanya sudah mudah ditebak. Keesokannya, dan keesokannya lagi, kesempatan untuk bertemu oleh si ibu itu seakan ditutup. Tetapi dalam rentang waktu itu, berbagai kesempatan berbuat baik hadir pula. Ada suatu saat ketika saya melihat sekeluarga yang nampaknya datang dari Bangladesh sedang tidur di sebuah emperan toko yang tak lagi digunakan, sedang seorang anak kecil menjajakan batere.

Saya membeli satu keping batere dengan harga RM20, sedangkan Ibu membelikan mereka makan. Lalu, baju-baju bekas yang sudah kami kumpulkan akhirnya kami berikan kepada sepasang manula buta yang sedang meminta-minta di dekat pasar Chow Kit.

Plot twist terjadi baru seminggu yang lalu, ketika kami berjalan pulang dan kembali menemukan si ibu itu tanpa masing-masing kami menyadari bahwa kami pernah saling bertemu. Ibu itu tampak jauh lebih lusuh, dan terdapat bercak-bercak merah di kulitnya yang hanya membungkus tulang. Anak-anaknya jaub lebih kurus. Saya dan Ibu baru tersadar akan si ibu itu ketika kami sampai di rumah. Kami saling berpandangan tanpa bisa berkata apa-apa. Wajah si ibu itu kembali mengapung di pikiran kami.

Baju si ibu dan anak-anaknya masih sama dengan yang mereka pakai tempo hari.