Karya sastra sering kali menyajikan potongan episode yang mirip dengan kehidupan pengarangnya. Kesamaan ini adalah upaya refleksi menyelam lebih dalam di tengah anggapan uniknya kisah diri.

Karya sastra merupakan bagian karya seni yang berhubungan langsung dengan kehidupan manusia serta mendeskripsikan fenomena dan segala kompleksitasnya. Melalui karya sastra, seorang pengarang atau pensyair juga berusaha untuk mengungkapkan nilai-nilai kemanusiaan. 

Penciptaan karya sastra sering kali didorong oleh keinginan pengarang untuk menyampaikan sesuatu yang diinginkan serta dicita-citakan, sehingga karya sastra dapat menyelami fenomena kehidupan manusia. Bisa saja, pengarang turut menyelami dirinya sendiri, dan menuliskan refleksi ke dalam karyanya. Dalam hal ini, kaitan antara penciptaan karya sastra dan pengarang dapat ditinjau melalui pendekatan ekspresif dalam sastra.

Wellek dan Warren dalam buku Teori Kesusastraan bilang bahwa pendekatan ekspresif merupakan metode tertua dan paling mapan dalam studi sastra. Karya sastra adalah karya personal pengarang, baik itu karya yang berdasarkan pengalaman hidupnya maupun proses imajinasinya. 

Cakupan diri penulis dapat berupa keluarga, profesi, atau bahkan pengalaman pendidikan, walaupun di dalamnya tidak memiliki kesamaan secara utuh, sebab karya sastra tidak bisa menjelma langsung dalam wujud yang ideal. Salah satu karya sastra yang turut merefleksikan diri pengarang dalam penulisannya adalah roman Belenggu karya Armijn Pane. Ada yang sudah pernah baca?

Belenggu karya Armijn Pane merupakan roman yang terbit pada tahun 1940. Karya sastra ini disebut sebagai roman psikologis pertama, karena turut memaparkan keadaan jiwa dari masing-masing tokoh, serta diilhami teori psikoanalisisnya Sigmund Freud. 

Kisah romantisme antara Sukartono, Sumartini, dan Rohayah ini bergelut pada kehendak diri, serta menampilkan nilai-nilai yang lebih modern dan intelek dibanding karya lain yang ditulis pada tahun tersebut. 

Sumartono yang diceritakan sebagai dokter merupakan sosok laki-laki yang menginginkan istri tradisional. Hal ini tampak dari pilihan Tono yang berselingkuh dengan Rohayah, sebab menurutnya sosok istri tradisional hadir pada diri Yah, dibandingkan istrinya sendiri. 

Tokoh Tini yang merupakan istri Tono digambarkan sebagai perempuan aktivis yang bimbang atas keputusan terhadap pernikahannya dengan Tono, namun di sisi lain ia pun yang berharap dapat dicintai oleh suaminya, yang dianggap olehnya terlalu sibuk dan tidak menaruh perhatian pada Tini.

Sosok Pengarang

Coba nih, untuk tahu perbandingannya, tentu kita perlu tahu juga tentang penulisnya, dong. Armijn Pane adalah salah seorang pendiri majalah Pujangga Baru (Poedjangga Baroe) yang lahir di Muara Sipongi, Sumatra Utara, 18 Agustus 1908 dan meninggal 16 Februari 1970 di Jakarta karena pendarahan di otak. Istrinya bernama Ny. Pudjiati Yong Brot, ia juga merupakan adik kandung sastrawan Sanusi Pane. 

Armijn Pane diriwayatkan pernah mengenyam pendidikan di Holland Inlandsche (HIS) dan ELS (Tanjung Balai, Sibolga, dan Bukittinggi). Tahun 1923 ia mengikuti pendidikan kedokteran di STOVIA Jakarta, kemudian tahun 1927 memasuki pendidikan dokter di NIAS Surabaya. Karena minatnya tertumpu pada bahasa dan sastra, ia pindah ke AMS A-1 di Solo dan tamat pada tahun 1931, sebagai lulusan jurusan sastra barat.

Melansir dari web Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, sosoknya dijelaskan mencoba menggunakan bahasa sehari-hari dalam membicarakan manusia sehari-hari, dan dengan demikian karyanya secara jelas merupakan prakata bagi penulis sesudah perang. 

Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia berkomentar bahwa gaya bahasa Armijn sangat bebas dari struktur bahasa Melayu. Dalam karangan-karangannya ia lebih banyak melukiskan gerak kejiwaan tokoh-tokohnya daripada gerak lahirnya. 

Belenggu merupakan salah satu karyanya yang demikian. Ini pula yang terutama membedakan Armijn dengan para pengarang sezamannya. Beberapa orang penelaah sastra Indonesia menganggap ia sebagai pendahulu angkatan sesudah perang, paling tidak dianggap sebagai "missing link" antara para pengarang sebelum dan sesudah perang.

Refleksi dalam Karya

Sukartono atau kerap dipanggil Tono merupakan tokoh utama dalam roman Belenggu karya Armijn Pane. Ia digambarkan berselingkuh di dalam cerita, dengan sosok perempuan bernama Rohayah, pasiennya dahulu yang dipanggilnya Nyonya Eni. 

Tono dikisahkan sebagai dokter yang dahulu bersekolah di Geneeskundige Hooge School (GHS) de Batavia, sekolah kedokteran yang dahulu bernama STOVIA. Pemerintah kolonial Hindia Belanda mengubah  nama STOVIA menjadi GHS pada tahun 1927.

Waktu masih menuntut pelajaran di sekolah, Geneeskundige Hooge School di Betawi, tiada sedikit kawan-kwan dokter Sukartono yang memastikan, dia tiada akan sampai ke ujian penghabisan. (Temukan ini di halaman 23 Belenggu, ya!)

Meninjau kembali biografi Armijn Pane yang pernah bersekolah di STOVIA dan NIAS, tokoh Tono juga digambarkan demikian. Armijn yang memiliki pengalaman menempuh pendidikan kedokteran berupaya untuk merefleksikan dirinya dalam karyanya. 

Walau sama-sama menempuh pendidikan di tempat yang sama; Armijn di STOVIA, Tono di GHS yang dahulu bernama STOVIA, keduanya memiliki perbedaan pada hasil akhir. Pengarang di dunia nyata tidak meneruskan pendidikan kedokterannya dan memilih pindah ke AMS, sedangkan Tono diceritakan berhasil hingga ujian akhir, dan membuka praktik sebagai dokter.

Perjalanan tokoh Tono pada pendidikan dokter sempat diragukan oleh teman-temannya ketika di sekolah. Ia dianggap tidak mahir untuk menjadi dokter, serta dipandang terlalu menyukai seni yang membuat pendidikannya terbengkalai. 

Kesukaannya terhadap lagu turut diceritakan pada permintaannya ketika mengunjungi rumah Yah, sering kali dirinya meminta untuk diputarkan lagu milik Sri Hayati, salah satu penyanyi perempuan yang disukainya.

Kartono suka mendengarkan suara Siti Hayati. Lagunya sepadan dengan kata-katanya, tiada asal lagu saja, lagu sedih dengan kata-kata riang. (Kalau ini di halaman 58)

Tangan Kartono menggesek biola, mengalunkan dirinya dengan lagu, terlalai pikirannya, perasaannya terombak-ombak teralun-alun, mengingat-ingat. (Ini halaman 64)

Perilaku Tono yang demikian serupa jika dibandingkan dengan sosok Armijn Pane. Pengarang dijelaskan dalam biografi, memilih untuk pindah ke AMS, sekolah jurusan sastra barat, karena preferensi minatnya pada dunia bahasa dan sastra, yang merupakan bagian dari seni.

Tokoh Tono yang digambarkan memiliki preferensi pula di bidang seni turut merefleksikan diri pengarang di dunia nyata. Meskipun pada akhirnya, fokus Tono tetaplah menjadi dokter, berbeda dengan pengarang yang mengambil keputusan untuk tidak meneruskan sekolah kedokteran saat itu.

Melihat kembali pengertian dari pendekatan ekspresif, kesamaan riwayat pendidikan dan preferensi minat yang dimiliki oleh Armijn Pane dan tokoh Tono dalam cerita menjadi upaya pengarang untuk merefleksikan dirinya di dalam karya sastra yang ditulisnya. 

Beberapa perbedaan yang hadir di dalam perbandingan riwayat ini akan kembali pada pengertian bahwa karya sastra tidak bisa menjelma langsung dalam wujud yang ideal. Armijn yang menjelmakan beberapa bagian dirinya pada sosok Tono tidak dapat ditarik konklusi untuk menjelaskan bahwa Tono adalah Armijn, atau sebaliknya loh, ya!