Dua minggu berlalu selepas lebaran, nampaknya liburan hanya penuh dengan urusan perkuliahan hingga lupa untuk memberi waktu pada diri sendiri. Saya memutuskan untuk beranjak dari hadapan layar kotak yang berminggu-minggu ini menjadi teman hidup saya, keluar untuk mencari hiburan tipis-tipis, sendirian. Kalau bahasa kerennya sih, short get-away. 

Saya menarik tuas gas skuter putih ke arah barat, menuju ruang publik yang cukup terkenal di Kota Yogyakarta, Alun-Alun Selatan. Orang Jogja sendiri lebih akrab menyebutnya dengan Alkid, alias Alun-Alun Kidul, kidul artinya selatan. Tempat ini berupa tanah lapang luas dengan beringin kembar di tengah-tengahnya. Tempat wisata terbuka di area kota memang sangat jarang. Tidak heran apabila Alkid selalu ramai dari pagi hingga malam. Orang-orang biasanya berolahraga, mencari jajanan, atau sekadar melepas penat dengan menikmati suasana.

Sore itu cuaca benar-benar cerah dan dalam keadaan yang sangat mendukung untuk healing. Langit biru, awan putih, matahari dan angin yang bersahabat. Itulah yang saya rasakan dari semenjak di perjalanan hingga sampai tujuan. Beruntung, batin saya. Mengunjungi tempat terbuka dengan cuaca yang bersahabat tentu merupakan hal yang patut disyukuri.

Setelah kurang dari sepuluh menit, sampai lah saya di area yang sudah ramai oleh banyak orang. Saya memutuskan untuk memutari lapangan sebelum akhirnya memarkirkan motor yang saya naiki. Untuk menemukan tempat parkir cukup mudah. Sekeliling Alkid memang dipenuhi oleh kantong parkir dan penjual jajanan. Jadi, tidak perlu repot-repot mencari. Baru sampai di kawasan tersebut saja sudah banyak tukang parkir yang menjulurkan tangannya, menandakan bahwa lahan parkirnya masih bisa diisi.

Luasnya tempat tersebut membuat saya cukup kebingungan apa yang harus dilakukan terlebih dahulu. Rencana saya hari itu hanya untuk membeli jajanan, duduk di tengah rumput, menikmati senja sambil mendengarkan musik. Setelah cukup lama berhenti untuk berpikir di siku jalan, saya akhirnya memutuskan untuk membeli leker tepat di seberang saya. Deretan leker yang dipajang di kaca gerobak biru itu memang sejak tadi melambai-lambai minta dicicipi.

Lima leker coklat seharga lima ribu rupiah berhasil saya dapatkan. Makanan berbentuk lingkaran yang dilipat itu saya bawa dalam kantong plastik. Sayangnya leker tersebut sudah disajikan sejak lama sehingga sudah tidak panas lagi. Masih di deretan yang sama, saya melangkah sedikit dan menemukan telur gulung. Karena sudah lama tidak makan telur gulung, saya putuskan untuk beli. Entah sudah berapa tahun berlalu, tetapi rasanya baru kemarin saya membeli telur gulung seharga seribu tiga tusuk. Sekarang, nominal sepuluh ribu hanya mendapat sembilan tusuk.

Karena kedua tangan saya sudah penuh, saya putuskan untuk mencari tempat untuk lesehan di atas lapangan. Di atas hamparan rumput yang cukup tinggi itu sudah dipenuhi oleh orang-orang dengan kesibukannya masing-masing. Ada yang menggambar, bermain bubble, menikmati makanan, menerbangkan layangan, atau hanya duduk-duduk bercengkrama. Saya tidak tahu bahwa akhir-akhir ini sedang musim layangan. Layang yang diterbangkan memiliki bentuk-bentuk yang lucu. Salah satu yang diterbangkan berbentuk ubur-ubur berwarna biru. Hampir saya mengutuk diri sendiri karena tidak sadar bahwa ternyata layangan di zaman sekarang sudah sangat berbeda dengan versi dulu.

Netra saya berkeliling dan menemukan bahwa hampir semua orang datang tidak sendirian. Sedikit rasa malu tiba-tiba hadir, semoga tidak ada yang mencibir karena saya datang sendiri. Dan juga semoga tidak bertemu dengan orang yang saya kenal karena jujur, agak memalukan. 

Saya memutuskan untuk duduk di atas rumput yang tidak terlalu tinggi dan di permukaan yang datar. Sambil menghadap ke arah barat, matahari yang menyilaukan pun terasa teduh dan menenangkan. Mulai menggigit telur gulung satu per satu dengan penglihatan ke arah langit senja yang warnanya semakin sore semakin cantik. Sesekali melihat anak-anak yang sedang berupaya menerbangkan layangannya, sesekali juga bertemu mas mbak sales yang menawarkan sesuatu, tetapi selalu saya tolak. Maaf, saya benar-benar sedang tidak ingin diganggu.

Telur gulung tadi saya habiskan hingga minyaknya yang tersisa di dalam gelas. Tusuknya langsung saya patahkan dan sampahnya saya simpan. Sedikit miris melihat sekeliling dipenuhi oleh sampah. Meskipun tempat sampah di sini sulit tertangkap oleh mata, setidaknya tetap masih bisa dicari.

Saya mulai memakan leker yang ternyata tidak begitu manis. Angin berganti hembusan ke arah timur sehingga tiupan bubble yang dimainkan orang-orang mengarah ke wajah saya. Terkadang saya membuat kepalan di tangan kiri, dan menyambut bulatan sabun yang datang untuk dipecah. Leker yang tadi saya nikmati makin lama makin hambar, saya sedikit kecewa. Rencana untuk mendengarkan musik dari earphone yang saya siapkan urung dilakukan. Sayup-sayup terdengar alunan pengamen jalanan yang secara sukarela menyapa telinga saya.


Sembilu yang dulu

Biarlah berlalu

Bekerja bersama hati

Kita ini insan

Bukan seekor sapi


Di kesempatan lain, akankah masih datang dengan kesendirian?