"Advokasi bisa dilakukan dengan menulis, karena tulisan lebih efektif." 

Begitu kata kak Ridwan Alimuddin (Iwan), seorang pegiat literasi dari Mandar, Sulawesi Barat. Ketika menyoal perlawanan yang sebaiknya dilakukan dari Sekolah Alam, Salule'bo, Mamuju, Topoyo, Sulawesi Barat ketika "ruang" belajar mereka akan ditenggelamkan dengan pembuatan bendungan.

Menurut kak Iwan, dari perkataannya yang bisa kutangkap, ketika kita bisa membuat heboh di media sosial, pemerintah akan terkaget-kaget. Aku juga jadi terkaget-kaget, Whats Up?

Begitu pembicaraan dari kelas Inspirasi yang kuikuti semalam, 05 Juli 2020, yang bertajuk “Jejak Langkah Para Pengeja Belantara” yang menghadirkan Ridwan Alimuddin sebagai founder Nusa Pustaka, pemerhati sejarah, dan Aco Mulyadi dari fasilitator Sekolah Alam Salu Lebo sebagai narasumber.

Acara yang berlokasi di kafe Dondori, kota Majene, Sulawesi Barat sangat ramai kehadiran para “pemerhati literasi” dan dari berbagai kalangan. Mungkin saja karena e-flyer acara ini menuliskan, New Normal Edition.

Ada sekitar kurang lebih hampir 80-an orang yang menghadirinya. Apakah karena orang-orang sudah bosan di rumah, rindu ingin nongkrong-nongkrong di kafe? Seperti niat awalku datang ke kafe karena lama tidak nongki-nongki. Maka, seperti rindu, nongki-nongki harus dibayar tuntas.

Atau apakah pembicara-pembicara acara ini memang sangat luar biasa? Tentu saja, kak Ridwan Alimuddin adalah sebuah nama seorang penggerak literasi di Mandar, Sulawesi Barat dan penulis buku masalah kelautan. Aco Mulyadi, fasilitator sekolah alam, yang awalnya seorang aktivis sosial yang concern pada kasus agraria.

Atau apakah tema yang disampaikan sangat inspiratif? Tentu saja, sampai saat ini, isu literasi adalah isu yang masih sangat seksi untuk terus dibicarakan. Apalagi sangat erat kaitannya dengan masalah pendidikan yang belum banyak mendapat tempat pada orang-orang tertentu, apalagi sekolah alam yang khas dan unik.

Sekolah Alam Salu Lebo

Awalnya, aku ikut diskusi ini ketika diajak sepupu, Upy. Aku yang baru saja menyelesaikan sesuatu, “wawancara” di rumah merasa sangat capek dan bête. Ketika Upy menelepon, di waktu Azar, aku masih menimbang antara mengikuti ajakan Upy atau tidak. Upy kemudian mengirim e-flyer tentang diskusi ini, dan beberapa video dari Eagle Award Metro TV.

Aku hanya melihat e-flyer, pikirku, diskusi literasi seperti biasa. Ya, seperti biasa, literasi yang banyak dibincangkan; bagaimana membaca, bagaimana menulis, bagaimana berbahasa, bagaimana menciptakan buku, dan seperti itu, seputar itulah.

Namun, akhirnya, aku pergi. Ketika mengikuti acara dengan “sengaja” telat, duduk santai sambil mendengar puisi yang ditampilkan oleh seorang anak sekolah alam ini yang suaranya terkadang membuat merinding.

Aku kemudian memesan minuman Strawberry Ice dan pisang goreng keju. Kemudian, aku asyik dengan hapeku. Aku mengunggah status media sosial WhatsApp (WA) bahwa aku sedang kongkow di kafe Dondori, Majene.

Aku juga live, siaran langsung, baik di Instagram (IG) dan Facebook (FB) “ala-ala" jika aku sedang menginfokan kegiatanku yang kemudian dikomentari beberapa orang seperti; aku kira webinar, sanggar alam bukan sekolah alam, itu yang tumbler apa? Saat itu ada tumbler Hello Kitty pink-ku yang berisi air berwarna merah, Dolong Mandar, alias Secang.

Isi diskusi itu, pembicara, Kak Iwan mengatakan tentang awal mula mereka bersingguhan dengan dunia literasi. Pak Aco Mulyadi mengatakan ia yang banyak belajar pada peserta didiknya, anak-anak di sekolah alam, dan masih banyak sekali yang dibahas.  

Namun, aku kemudian tertarik dan ditarik, ketika itu tadi. Kata-kata kak Iwan di atas (di awal) bahwa perlawanan dari sekolah alam Salu Lebo ketika pemerintah ingin membuat bendungan di Salu Lebo yang bisa kita lakukan adalah dengan menulis. 

Advokasi dilakukan dengan menulis karena menulis lebih efektif. Baik lewat tulisan, status di media sosial untuk membuat “kehebohan” dan buku yang berbasis argumen dan data.

Ada Apa ini? Ada apa di Salu Lebo? Mereka ingin ditenggelamkan kampung ini dengan membuat bendungan? Astaga!

Di akhir acara, aku menyempatkan menyapa beberapa orang, seperti reuni karena lama tidak bertemu di berbagai ruang. Aku bertemu dengan banyak saudara, keluarga, dan kolega, mereka yang peduli dan pemerhati pada; pendidikan, kasus agraria, kearifan lokal, sosial budaya, seni, lingkungan, dan sebagainya.

Dan, aku banyak mengobrol dengan ponakanku, Fajrin. Aku bertanya, apa beda sanggar alam di Jogja, dan sekolah alam di Salu Lebo ini? Fajrin menjawab dengan singkat, “Cara membahasakannya saja yang beda, Tan.” (Tan di sini maksudnya tante). Intinya, mereka punya visi dan misi yang sama, anak-anak belajar dari, untuk, alam.

Fajrin yang pernah menjadi fasilitator di sana, ia cukup banyak mengetahui tentang sekolah alam ini, di antaranya; lokasi sekolah alam ini yang akan dijadikan “Bili-bili”. Bili-bili merupakan nama bendungan di Gowa, Sulawesi Selatan, yang mana menenggelamkan satu desa. Penemuan patung yang diduga dari zaman dulu.

Akses jalanan ke desa ini yang harus menyeberangi sungai, pola makan, makanan mereka yang banyak dari sayuran segar dari kebun, dan anak-anak yang belajar di sana dari agama yang beragam, Islam dan Kristen, namun mereka bersatu, dan lain sebagainya, yang membuat makin malam makin seru. Namun, untung tidak sampai tembus pagi.

Aku yang kurang mengerti tentang sekolah alam ini, karena tadi di awal tidak larut pada diskusi juga mendapat kiriman tulisan Uwe, Aco Mulyadi.Y dari Fajrin. Tulisan semacam surat yang ditulis pada Desember 2015, tentang awal mula ia “membentuk” sekolah ini.

Betapa mirisnya ia melihat tidak ada anak yang bersekolah karena di tempat itu tidak ada sekolah rakyat kemudian karena ketiadaan bangunan untuk sekolah sehingga ia pun mendirikan sekolah yang menyatu dengan alam, membersamai alam, sekolah alam yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak  di sana.

Apa yang bisa kita lakukan?

Di akhir, closing statement dari pembicara, aku mencatat pesan pak Aco Mulyadi, kita adalah pelayan, pelayan kemanusiaan. Ya, pak, kita adalah pelayan kemanusiaan, bagaimana kita memberikan yang terbaik dari diri kita sendiri dan membagikan kepada orang lain, memanusiakan manusia melalui pendidikan, bukan menjadikannya sebagai “putri duyung sungai” yang kampung halamannya akan dijadikan air.

Terakhir, mari kita selamatkan sekolah alam ini, “ruang” Salu Lebo yang akan hilang karena menjadi bendungan dengan cara kita masing-masing, menjadi superhero dengan versi kita sendiri. 

Misalnya; yang arkeolog bisa meneliti patung yang kuno yang ditemukan di sana sehingga area ini bisa tetap terjaga sebagai situs bersejarah. Sang advokat bisa melawan lewat advokasi. Para seniman bisa performance dengan menunjukkan kearifan lokal dari sekolah alam, Salu Lebo. 

Ulama-ulama yang mempunyai power spiritual, bisa menemani masyarakat ini bukan hanya sekadar doa, namun juga pendampingan, ceramah yang berisi semangat, dan ikut andil menentukan arah pendidikan yang mengarah pada kemaslahatan bersama. Yang suka menulis, menulislah tentang Sekolah ALam Salu Lebo ini agar tetap eksis.

Semoga sekolah alam ini tetap ada (amin). Aku ingin mengutip kata seorang senior di kampus dulu pada sebuah webinar yang sinergi dengan kritikan pada pembangunan. Di sini dalam konteks pembangunan bendungan ini, “Pembangunan ekonomi itu penting, tetapi pembangunan identitas, jati diri budaya yang bagian dari bangsa itu lebih penting.”