Seperti pada umumnya, organisasi adalah wadah untuk dapat mengekspresikan segala kemampuan diri dan juga sebagai proses untuk dapat mengembangkan setiap potensi pada diri individu manusia.  

Kerja-kerja organisasi mestinya terus dapat dilaksanakan dan menjadi wadah pemanusiaan. Dengan dialektika, sesama anggota organisasi akan dapat melahirkan kepribadian yang dapat bertanggung jawab pada diri sendiri dan juga orang lain.

Namun, di tengah kondisi bangsa hari ini yang masih dilanda pandemi Covid-19 tentu berakibat pula pada kerja-kerja organisasi. Ini disebabkan karena terjadinya pelarangan dari pemerintah sebagai upaya memutus penyebaran virus dengan tidak melakukan kegiatan yang mengundang banyak orang.

Sehingga hari ini banyak aktivitas pendidikan dan pekerjaan dilakukan secara daring. Seperti halnya perkuliahan mahasiswa semester ini akan dilakukan secara daring sesuai dengan imbauan pihak kampus tertentu.  

Kondisi itu pulalah menuai perhatian dan menimbulkan adanya diskusi yang dikemas dalam "Obrolan Malam" agar tetap dapat mengoptimalkan agenda-agenda organisasi. Termasuk Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Majene telah melakukan obrolan malam bersama salah satu pengurus DPP GMNI "Bung Muid" dan juga Pengurus DPD GMNI Sulbar serta kawan-kawan GMNI Majene. 

Duduk Melingkar Bersama Kawan Juang

Bersama Pengurus Cabang GMNI Majene, Pengurus DPP GMNI, Pengurus DPD GMNI Sulbar dan kader GMNI Majene dengan romantisnya melakukan diskusi pada Kamis malam, 27 Agustus 2020 yang dimulai sekitar pukul 20.30 Wita. 

Setelah beberapa bulan sebelumnya agenda organisasi sempat terbengkala akibat pandemi, tetapi malam itu dapat kembali berkumpul dengan dilaksanakannya "Obrolan Malam" bersama kawan seperjuangan.

Rindu dengan mengepalkan tangan kiri sebagai simbol perjuangan GMNI telah dibayar dengan suara gemuruh dan lantang. Merdeka, GMNI Jaya, Marhaen Menang.

Seperti kebiasaan dalam budaya mahasiswa, tentu tidak asing dengan istilah duduk melingkar. Entah itu dilakukan sebagai bentuk diskusi, rapat, ngobrol santai ataupun menyusun rencana dalam perjuangan.

Begitulah "Obrolan Malam" dilaksanakan. Berada di sebuah Gubuk sederhana, sedikit jauh dari kebisingan, serta alam pun bersahabat dengan hembusan angin secara alami masuk ditengah-tengah diskusi. Gubuk itu adalah Sekretariat GMNI Majene dan juga telah dijadikan sebagai tempat diskusi dan konsolidasi gerakan mahasiswa.

Suasana diskusi berjalan dengan beberapa ulasan disampaikan oleh para pemantik. Forum dapat hidup dengan suasana nyaman dan santai, seakan menggambarkan kembali masa-masa berkumpulnya para kader Marhaenis dengan duduk melingkar membincang arah perjuangan mahasiswa dalam menghadapi kondisi lingkungan dan masyarakat.

Berjalannya Diskusi

Pada diskusi itu mengusung tema "Optimalisasi Gerakan Dalam Menyambut Perkuliahan". Bersama pemantik Bung Muid (Sekretaris Bidang Ideologi dan Intelektual DPP GMNI), Bung Nandha (Sekretaris DPD GMNI Sulbar), Bung Bayu (Ketua DPD GMNI Sulbar) dan Bung Sugiono (Ketua DPC GMNI Majene).

Sesuai dengan tema diskusi tersebut bahwa organisasi perlu untuk tetap mampu mengoptimalkan kerja organisasi ditengah arus yang sedang melanda. Perkuliahan yang dilakukan secara daring tentu mengakibatkan banyak mahasiswa berada di kampung halaman, sehingga menimbulkan kurangnya anggota untuk melaksanakan kegiatan.

Begitu pun ketika ingin melakukan perekrutan anggota baru tentu sangat sulit untuk dilaksanakan kecuali melakukan secara daring atau merekrut untuk mahasiswa yang berdomisili di Majene saja. Padahal pada kanyataanya mayoritas mahasiswa yang ada di Majene lebih banyak mahasiswa pendatang.

Ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam obrolan itu, dan perlu menjadi pertimbangan bagi pengurus organisasi GMNI Majene ketika melaksanakan agenda ke depan.

Pertama, GMNI sebagai kader banteng sudah diajarkan untuk dapat bekerja secara maksimal baik yang dilakukan secara bersama-sama maupun sendirian.  

Kedua, di tengah kondisi yang melanda tentu kader GMNI harus mampu menyesuaikan dengan keadaan. Ide kreatif dan inovatif harus mampu mengambil peran ditengah-tengah masyarakat sebagai pejuang Marhaenis.  

Ketiga, kader GMNI Majene harus mampu menjalin hubungan kerjasama kepada instansi pemerintah, lembaga mahasiswa dan lembaga masyarakat untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang pro terhadap rakyat.

Keempat, sesama kader dan anggota GMNI Majene harus mampu untuk memperkuat tali persaudaraan sebagai pengikat, agar organisasi tetap berdiri kokoh.  Perlu motivasi pada diri kader agar memiliki rasa kepemilikan terhadap organisasi.