Mahasiswa
9 bulan lalu · 156 view · 3 min baca · Gaya Hidup 65021_79807.jpg
Agro-Fundusze

Seperti Kebelet Kencing, Menulis Itu Harus Dituntaskan

Saya pernah menanyakan pada peserta diskusi tentang pentingnya menulis dan menuntaskannya. Kebetulan yang ikut diskusi adalah mahasiswa yang pikirannya masih jernih dan tak tahu dosa senior-seniornya: cium ketiak junjungannya, jilat atau lainnya. Peserta diskusi banyak yang mengacungkan jari. "Menulis itu membuat kita kreatif," ucap salah seorang peserta setelah ditunjuk.

Saat itu saya hanya ingin tahu berapa pentingnya menulis sekaligus menuntaskannya. Dari jawaban yang sudah menyembul satu per satu itu, Ssaya menyimpulkan bahwa menulis memang harus dituntaskan, seperti kebelet kencing yang mengharuskan ke kamar toilet.

Suka baca tapi tak menulis dan dituntaskan sama saja menahan penyakit. Orang yang sudah banyak minum dan makan, ujung-ujungnya harus ke toilet dengan segara. Jika tidak, mau menahan serangan bertubi-tubi dari dalam? Begitu juga dengan menulis. Ia harus dituntaskan. Renungan harus dinarasikan dengan bentuk tulisan.

Tetapi, memang kenyataan ada banyak tulisan yang tersendat-sendat di tengah jalan meski ujungnya selesai dengan penuh keringat. Menguraikan persoalan tapi lupa jawaban atau solusi. Padahal, proses menulis dilalui dengan proses berpikir atau perenungan. Bersamaan itu pula, solusi itu muncul. Pembaru pemikiran Islam, Ahmad Wahib berpesan, tulisan harus didahului dengan renungan. Hasilnya lebih bagus.


Dari manakah renungan itu muncul? Hasil pengamatan pada lingkungan, sosial-politik dan lainnya yang tak kunjung klimaks. Pembaru pemikiran ini juga berpesan, untuk memperkaya pengalaman, maka harus keluar dari kamar. Penulis harus hadir di tengah masyarakat. Mendengarkan, mengamati, dan merasakan keinginan mereka yang sederhana. Menulis juga begitu prosesnya.

Ada banyak tokoh dengan pengembaraan panjang. Berguru pada tiap-tiap orang dengan jalan mengamati. Atau berguru pada individu yang sudah mumpuni. Al-Ghazali tak lepas dari pengembaraan. Karyanya banyak. Pikirannya yang dituangkan kita kenal hingga kini. Ibnu Khaldun, sosiolog Islam, tak mungkin memahami seluk-beluk bangsa tanpa melalui pengembaraan.

Orang sulit menulis karena ada dua faktor: pertama, karena tak suka membaca buku dan latihan dengan intens untuk menulis. Kedua, karena jarangnya mengamati.

Takkan pernah ada penulis dengan rumah yang kosong tanpa perpustakaan pribadi. Tan Malaka pernah mengatakan, bagi seseorang yang hidup dalam pikiran yang mesti disebarkan dengan pena maupun dengan mulut, perlulah pustaka yang cukup. Jika tidak suka membaca, maka sudah dipastikan tak suka menulis. Tapi, suka berkomentar.

Adalah suatu sikap pengabaian pada sekeliling yang tak boleh dilakukan jika mau menulis. Sebab, kenyataan selalu menyimpan inspirasi. MadilogĀ Tan Malaka tak dilahirkan di atas kasur. Ia lahir dari kepeduliaannya pada rakyat yang tertindas. Kaum mustadafin yang selalu dikibuli.

Hal yang terpenting adalah kemauan menulis. Jalan agak sunyi ini sering kali tanpa tepuk tangan yang ramai karena sudah disumpah jabatan. Makanya, tidak heran, dari sekian banyak yang pikirannya isinya instan enggan menoleh pada cara yang terbilang kuno ini.


Bagi yang hidup serba instan sejak dalam pikiran, maka menulis adalah haram. Buang-buang waktu. Buang-bung kuota. Royalti sedikit. Tidak cukup untuk mentraktir anak aktivis kelas elite. Tapi, sebagai tirakat memperkaya wawasan, memeka pada sosial, dan mengabadikan laku sejarah, cocok untuk kalangan yang pikiran sehatnya masih bertahan.

Ada banyak tipe tulisan untuk mempertahankan pikiran sehatnya. Kolom yang cenderung mengulas masalah atau tajam pada masalah. Atau juga artikel opini yang memaparkan masalah sekaligus solusi yang dihasilkan dari olah pikiran dan teori sebagai pisau analisisnya.

Tipe tulisan ringan yang saya sukai adalah esai. Esai yang menurut Alfan Alfian cenderung pada semacam bincang-bincang dalam bentuk tulisan. H.B Jassin juga mengatakan, susunan esai tidak teratur, tapi mengulas masalah sekitar.

Apa pun caranya menuntaskan kebelet itu, semuanya halal. Kolom, artikel, esai intinya hanya satu: mmenerjemahkan pikiran dengan bentuk tulisan, mengabadikan laku sejarah sebagai pelajaran. Oleh karenanya, menulis itu harus dituntaskan. Bagi yang rakus baca buku tapi tak menulis, ia akan ditenggelamkan sejarah.

Karena menulis adalah menuntaskan pikiran-pikiran di atas kertas, maka jalan yang ditempuh adalah menyegerakannya. Seperti kebelet kencing, menulis harus dituntaskan. Apakah menuntaskan berarti menyelesaikannya atau laku itu seperti di terminal? Sesudah berhenti, tarik lagi.


Artikel Terkait