Satu hal penting yang biasanya sering terlewatkan bagi para penulis pemula adalah bagian penyuntingan (editing). Setelah mereka merampungkan seluruh gagasannya, kemudian membacanya sekali, dua kali, maka sebenarnya secara tidak sadar mereka telah melalui proses penyuntingan ini. 

Proses penyuntingan merupakan tahap yang penting agar tulisan dapat terhindar dari kesalahan yang paling mendasar, yakni ejaan dan tata bahasa. Untuk hal inilah, mungkin sangat wajar jika kemudian para penerbit, tidak terkecuali Qureta, tidak akan meloloskan tulisan yang memiliki kesalahan yang paling mendasar ini. 

Adalah Mbak Ayu Utami, sewaktu mengisi salah satu acara pelatihan menulis yang diselenggarakan oleh Qureta, pernah menyampaikan, bahwa orang yang menyunting tulisan ini ibarat orang yang sikat gigi sebelum bertemu dengan orang lain. Dengan demikian, orang yang diajak bicara pun akan merasa nyaman sebab mereka tidak merasa terganggu oleh pemandangan jigong pada gigi maupun aroma dari mulut orang yang diajaknya berbicara.

Mbak Ayu pun juga menambahkan, hendaknya seorang penulis itu sekaligus berperan sebagai editor atas tulisan-tulisannya sendiri, meskipun sebenarnya tugas ini bisa saja ia serahkan pada pihak lain, dalam hal ini yakni editor. 

Namun, kembali lagi dengan pengibaratan seseorang yang belum sikat gigi tadi. Betapa tersiksanya orang yang kita ajak berbicara, sementara kita belum membersihkan gigi kita. Dan kondisinya akan bertambah menyiksa manakala orang tersebut baru bangun tidur atau baru saja makan sesuatu yang menjejakkan bau yang menyengat hidung. 

Untuk alasan itulah, barangkali juga menjadi wajar jika Mbak Dini pun sempat memprotes dalam satu tulisannya, "Editor Bukanlah Tim Bedah Rumah" yang begitu mudahnya merombak bangunan siapa saja dengan semaunya. Meskipun barangkali tulisan juga dapat diibaratkan sebagai bangunan, setidaknya tim editor hanya berperan sebagai penghias sebagian kecil bangunannya saja dan bukan merehabnya secara keseluruhan. 

Alangkah baiknya jika seorang penulis telaten dalam menyunting tulisannya sebelum dikirimkan pada penerbit, baik itu di media cetak maupun media digital. Dan di sini pun bukan berarti saya adalah orang yang paling teliti dalam hal ini. Sama saja. Saya adalah orang yang masih dalam tahap belajar. 

Saya mencontohkan, jika ingin meniru salah satu penulis di Qureta ini yang tulisannya termasuk sangat rapi, saat ini saya merekomendasikan tulisan Pak Hamid Basyaib. Terlepas setuju atau tidak dengan pemikiran beliau, setidaknya kita akan mendapati tulisan-tulisan beliau yang tersusun dengan sangat rapi, seakan tanpa celah kesalahan sedikit pun, yang selaras dengan gagasan brilian beliau yang tertuang di dalamnya.

Dan sebenarnya, alasan saya menuliskan artikel ini adalah sebagai refleksi dan hukuman untuk diri saya sendiri akibat sebelumnya terlalu gegabah dalam mengirimkan tulisan. Setelah membaca kembali beberapa tulisan yang pernah saya kirimkan, ternyata saya masih mendapati beberapa kesalahan ejaan. Dan saya pun tidak malu untuk mengakuinya agar menjadi pembelajaran bagi saya sendiri supaya lebih cermat dalam menyusun tulisan. 

Dan bisa saja, dan bahkan sangat mungkin, pada tulisan-tulisan saya yang terdahulu juga terdapat banyak sekali kesalahan dan kejanggalan setelah saya baca sendiri maupun dibaca oleh orang lain. Maka dari itu, saya membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi siapa saja untuk mengoreksi tulisan saya, di samping saya sendiri pun juga akan mengoreksinya melalui tulisan yang lain. 

Berdasarkan ketentuan yang berlaku di Qureta ini, tulisan yang telah terbit tidak dapat diganti atau dihapus. Oleh sebab itu, saya dan seluruh penulis di laman ini pun tidak dapat mengganti dan menghapus tulisan yang telah diterbitkan. Dan satu-satunya jalan bagi para penulis manakala ingin memperbaiki tulisan atau "menghapus" gagasannya yang terdahulu adalah dengan melalui tulisannya yang lain, yang akan meluruskan tulisan sebelumnya. 

Bagi saya secara pribadi, ini tidak masalah. Sebab saya menganggap apa yang saya tulis saat ini adalah kebenaran yang sifatnya sementara, yang kemungkinan dapat saya perbaiki lagi sewaktu-waktu, seiring munculnya pemikiran dan berkembangnya pemahaman saya atas hal yang lainnya. 

Tidak masalah bagi saya jika kemudian saya dianggap sebagai penulis yang plin plan atau tidak konsisten karena berubah-ubahnya pendapat saya ini. Sebab, lagi-lagi saya menyadari bahwa saya hanyalah seorang pembelajar yang ingin terus belajar menjadi lebih benar dari keadaan sebelumnya. 

Dan keadaan ini akan terus berlangsung sampai habisnya kesempatan saya untuk belajar di dunia ini yang ditandai dengan ikatan kafan yang telah membaluti seluruh tubuh saya. 

Kembali lagi pada bahasan penyuntingan. Menyunting tak ubahnya proses untuk mempelajari pemikiran-pemikiran sendiri sehingga penulis akan benar-benar paham dengan gagasan dan imajinasi apa saja yang telah dituangkannya dalam bentuk tulisan. 

Dalam proses penelaahan atas tulisannya sendiri ini, tentu saja, waktu dan ukurannya untuk seorang penulis tidaklah menentu. Ada penulis yang memahami tulisannya setelah membacanya berkali-kali. Dan ada pula seorang penulis yang langsung memahami seluruh isi tulisannya cukup dengan membacanya sekali.

Untuk contoh penulis pertama ini, tentu saja, adalah saya sendiri. Saya mencontohkan, pada saat awal kali saya menulis di media digital personal, Wordpress, saya bahkan pernah menyunting tulisan saya hingga 30 kali. Entah, saya selalu saja menemukan kesalahan-kesalahan pada tulisan saya. Baik itu diksi atau ejaan. Jika saya sudah merasa cukup dengan tulisan saya, biasanya saya akan membagikannya pada laman lain, salah satunya di Qureta. 

Berikutnya, contoh penulis yang saya anggap langsung paham dengan seluruh isi tulisannya dan dapat merampungkannya dengan sekali ketikan ini, adalah penulis favorit saya sendiri, yakni Emha Ainun Nadjib. 

Dan saya kira kepiawaian beliau ini pun sangat beralasan. Sebab di samping beliau telah membudayakan dunia literasi ini sejak masa mudanya, beliau juga telah berprihatin menggunakan mesin ketik manual yang menuntut akurasi yang tinggi dari penulisnya. Sebab menulis dengan mesin ketik manual ini tulisan tidak bisa dihapus, kecuali dengan type-x. Sehingga mau tidak mau, si penulis harus jeli dalam menjejakkan jemarinya dan mengalirkan gagasannya. 

Saya menggunakan contoh perbandingan yang kontras ini, tentu saja, agar siapa saja mudah membandingkan mana penulis yang kelas partikelir dan mana yang tulisannya sudah sangat clear, sehingga dapat menjadi refleksi bagi siapa saja yang hendak menggelutinya. 

Dan kira-kira sampai kapan proses penyuntingan itu akan berlangsung? Jawabannya tentu saja akan sangat beragam. Namun, dalam tulisan ini saya hanya akan menyampaikan satu jawaban saja, yakni dengan mengutip pesan dari Mbak Ayu Utami, yakni manakala seorang penulis sudah terpuaskan dengan isi tulisannya. Sebab pada dasarnya, menurut Mbak Ayu, tujuan menulis adalah untuk memuaskan dua pihak, yakni penulis itu sendiri dan orang lain yang membaca tulisannya. 

Penulis merasa puas sebab mereka tidak lagi mendapati kesalahan ejaan, diksi, dan kerancuan gagasan pada tulisannya setelah melewati fase penyuntingan. Dan manakala mereka telah terpuaskan oleh karya mereka sendiri itu, maka tinggal masuk ke fase berikutnya, yakni, apakah kira-kira pembaca tulisan mereka itu juga akan merasa terpuaskan setelah selesai membaca karya mereka?