Dalam hidupnya seseorang harus menikah, tidak boleh tidak.

Kalau tidak menikah berarti tidak laku. Seharusnya malu.

Menikah adalah ajaran agama yang sudah sepatutnya dijalani.

Membenarkan sederet kalimat yang sudah begitu akrab tersebut, jika tidak bisa dianggap klise, memang sangat mudah karena terlanjur diterima sebagai kebenaran hakiki. Apalagi dihadapkan pada kebutuhan seksual yang memang sudah tertanam sebagai naluri purba dalam diri. Tapi marilah sekali-kali kita pertanyakan: benarkah demikian?

Salah satu alasan menikah yang paling sering dilontarkan adalah demi menyempurnakan agama. Dalam sejarahnya, pemersatuan manusia merupakan tradisi yang sudah ada jauh sebelum agama terkonsepkan di atas dunia. Pemersatuan sudah diatur dalam hukum tua Mesopotamia, berabad sebelum lahirnya Nabi Ibrahim AS yang dikemudian hari didaulat sebagai bapak dari tiga agama kolosal jagat raya: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Pemersatuan individu adalah gagasan primordial saat peradaban nomaden mulai ditinggalkan. Dikarenakan manusia sudah mulai hidup menetap dan tinggal secara berkelompok, pemersatuan anggota koloni menjadi penting untuk mengolah dan mempertahankan kepemilikan lahan. 

Pemersatuan tidak terbatas antara sepasang laki-laki dan perempuan saja, sehingga tidak ada konsekuensi eksklusivitas seksual atas para pihak yang dipersatukan. Dengan demikian pemersatuan insan merupakan konsep yang muncul secara instingtif sebagai upaya manusia untuk bertahan. 

Tradisi ini yang dikemudian hari berkembang menjadi pernikahan, seiring dengan semakin kompleksnya tata kehidupan manusia. Maka konsep pernikahan bukanlah temuan absolut agama, melainkan modifikasi atas tradisi manusia yang sudah lama ada.

Pemersatuan mulai dibentuk sebagai pernikahan seperti yang kita kenal saat ini pada masa Romawi, tepatnya setelah Kaisar Constantine beralih dari paganisme menjadi penganut Kristen. Kitab Romans 13 ayat 1 dan 2 menjadi penerang bagaimana agama dan negara dikawinkan sebagai entitas yang saling membelit. 

Saat itu semua hukum dan undang-undang negara dikodifikasi atas nama agama, sehingga ikut mengokohkan tradisi pemersatuan manusia menjadi semakin ultima. Pernikahan muncul sebagai prosesi yang mesti divalidasi negara dengan izin Tuhan. Upaya itu meliputi penulisan ulang narasi agung tentang peran laki-laki sebagai penyedia dan perempuan sebagai penerima. 

Seterusnya narasi mengalami improvisasi: keperawanan menjadi parameter harga diri, monogami diglorifikasi, dan pernikahan heteroseksual dipuji-puji. Bahkan agama Abrahami paling bungsu pun ikut memoles tradisi yang sudah menjadi kristal ini menjadi semakin berseri-seri.

Intervensi negara dalam perkembangannya membuat pernikahan di-sekaligus-kan sebagai institusi politik dan ekonomi. Pengesahan pernikahan dilambangkan dengan sebentuk mas kawin yang mesti disediakan oleh orang tua pihak yang akan menikah. 

Dengan demikian orang tua mendapat limpahan hak untuk menentukan pernikahan anak-anaknya. Sementara pihak yang dinikahkan tidak punya daya upaya di bawah tekanan agama, negara, dan keinginan orang tua yang menjadi penjamin hidup mereka. 

Jadilah pernikahan sebagai alat yang dapat dikontrol untuk berbagai kepentingan, mulai dari penaklukan wilayah jajahan, pencapaian kekuasaan, hingga perebutan kekayaan.

Peradaban pada abad ke-18 kemudian bergerak ke arah industrial. Revolusi industri mulai menggeser nilai-nilai lama. Sistem kerajaan perlahan punah. Pada lembaga agama, para penganut mulai terkikis rasa percaya. Kapitalisme pada gilirannya mengambil alih tata negara. 

Ekonomi membutuhkan banyak tenaga manusia untuk terus menghasilkan harta benda. Semua orang bisa bekerja demi mendapatkan upah atas pengabdian jasa. Tingkat independensi melejit tak terkira. 

Menikah tidak lagi membutuhkan campur tangan orang tua. Mas kawin sudah bisa diupayakan sendiri, sehingga hak untuk menentukan pasangan yang hendak dinikahi mulai berangsur menjadi milik pribadi.

Hingga revolusi seksual yang dibawa oleh pergerakan kaum hippie pada tahun 1960-an mengubah semuanya. Orang beramai-ramai membongkar narasi usang dan melepaskan diri untuk berekspresi. Perang membuat mereka dikecewakan oleh negara. Agama tidak memberikan bantuan apa-apa. 

Mereka akhirnya menciptakan frasa “Perdamaian, Cinta, dan Kebebasan” yang digemakan dimana saja. Kontra-budaya tercipta. Feminisme menggelora. Seksualitas disajikan sebagai tema terbuka. Kehormatan tidak lagi bergantung kepada status vagina para wanita. 

Bersenggama dapat dilakukan atas asas saling suka dan saling menerima. Cinta dirayakan dengan gegap gempita. Bangunan pernikahan yang sudah sedemikian ajeg pada akhirnya lapuk juga digerogoti beragam gagasan pembebasan.

Sejalan dengan manifestasi dari hirarki kebutuhan manusia yang dicetuskan oleh Abraham Maslow, pernikahan hari ini sudah mulai dilihat sebagai bagian dari fase penemuan diri dan pengembangan pribadi. Pernikahan tidak lagi diburu-buru berdasarkan pertimbangan usia biologis, karena angka harapan hidup semakin tinggi dan sains medis berkembang pesat untuk memfasilitasi. 

Konsep alternatif selain menikah sudah mulai diterima untuk mereka yang ingin bersama tanpa kehilangan rasa merdeka. Sementara bagi mereka yang tidak melihat perlunya pernikahan dalam perkembangan fase hidupnya, maka prosesi itu belum akan menjadi pilihan.

Bertolak dari semangat individualitas, telah tumbuh kesadaran bahwa manusia terlahir sendiri dan akan mati pula seorang diri sehingga tidak ada keharusan untuk mengikatkan diri. Menikah tidak lagi dilihat dalam pengertian romantis bergelimang sentimentalitas, namun ditilik dengan rasionalitas penuh mengenai seberapa jauh pernikahan dapat membantu mengantarkan pada proses aktualisasi diri. Jika pada nyatanya proses itu dapat ditempuh sendiri, pernikahan bisa saja ditinggalkan sebagai tradisi yang mulai basi.