Kerinci, setelah mendengar kata Kerinci pasti akan terlintas pertanyaan dibenak seseorang apakah Kerinci itu? Dimanakah letak Kerinci itu? Kerinci adalah salah satu daerah yang terletak di provinsi Jambi di bagian paling barat, Kerinci terkenal dengan slogannya yaitu sekepal tanah dari surga. 

Kerinci memiliki sejuta keindahan alam yang dapat dinikmati, seperti tanaman teh yang terletak di Kayu Aro, gunung Kerinci yang juga merupakan gunung tertinggi di pulau Sumatra yang ketinggiannya mencapai 3.805 mdpl, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mengenai penduduk Kerinci mayoritas penduduknya memeluk agama Islam, di mana agama Islam mulai masuk ke Kerinci diperkirakan pada abad ke 14 M, melalui kontak perdagangan yang dilakukan oleh masyarakat Kerinci dengan Kerajaan Indrapura diwilayah Pesisir Sumatra Barat. 

Dengan adanya kedatangan agama Islam ke Kerinci membawa perubahan bagi penduduknya yang semula mereka masih menganut paham Animisme dan Dinamisme secara perlahan-lahan paham tersebut mulai menghilang. 

Salah satu bentuk adanya penyebaran Islam di Kerinci yaitu bangunan-bangunan kuno contohnya Masjid kuno yang ada di Lempur lebih tepatnya di Lempur Mudik.

Berkembangnya Islam di Kerinci juga tidak secara langsung membawa perubahan terhadap unsur-unsur budaya yang sudah ada sejak sebelumnya. Unsur-unsur tersebut tidaklah diubah secara keseluruhan, tetapi dimasukkan nuansa-nuansa Islam ke dalamnya artinya budaya lama tidak hilang, Islam tetap berkembang. 

Budaya tersebut dapat dicontohkan dari kesenian tradisi masyarakat Kerinci yaitu tari rangguk dan sike rabana, sike rabana berasal dari kata zikir artinya mengingat dan menyebut, menyebut nama-nama Allah atau kalimat thayyibah agar senantiasa selalu ingat kepada Allah Swt. 

Sike rabana ini merupakan sebuah pertunjukan yang dilakukan oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan. Mereka menabuh rebana sambil bernyayi atau bersenandung ria, isi dari nyanyian mereka itu tentang pujian kepada Allah Swt dan pujian kepada Nabi Muhammad Saw. 

Sedangkan tari rangguk digunakan sebagai penyiar dalam menyebarkan agama Islam, tari rangguk ini merupakan perpaduan antara gerakan dan pantun yang dinyanyikan, dan juga menceritakan tentang kehidupan sosial masyarakat. Pada zaman sekarang ini, tari rangguk masih sangat populer untuk dibawakan oleh masyarakat baik itu pada acara adat, penyambutan tamu, serta kegiatan-kegiatan budaya lainnya. 

Jadi hal ini dapat diistilahkan dengan slogan yang berasal dari Minangkabau “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” maksudnya budaya atau adat berpegang kepada aturan atau norma, aturan berpegang kepada kitab Allah.

Islam masuk ke Kerinci melalui transaksi perdagangan yang dilakukan dengan orang Sumatra Barat atau tepatnya Minangkabau. Jadi para mubaliq dari minangkabau ini sebelum memasuki Kerinci terlebih dahulu mereka pergi ke Siak (Riau) sehingga adapun orang-orang yang taat dalam melakukan ibadah dikenal dengan Siak (Syekh).

Terdapat enam orang Siak atau Syekh yang mengembangkan ajaran Islam di tanah Kerinci, yaitu Siak Jelir di Siulak, Siak Ali di Sungai Liuk, Siak Rajo di Sungai Medang, Siak Sati di Hiang, Siak Lengih di Koto Pandan, dan Siak Baribut Sati di Koto Marantih atau Tarutung.

Siak jelir dikenal dengan nama Imam Majeli berasal dari Indragiri, bermukim di Dusun Tinggi Siulak kemudian berdakwah di Siulak, Sekungkung, dan Semurup. Bentuk peninggalan beliau adalah Batu Sembahyang, batu ini dipercaya orang-orang sebagai tempat beliau melakukan Shalat di mana di batu tersebut ada bekas muka dan telapak tangan. Beliau menikah dengan Ninik Selayu dan memiliki lima orang anak perempuan. Makam beliau terletak di Koto Jeli atau Dusun Tinggi Siulak.

Siak Ali memilki nama asli Ninek Telago, bermukim di Sungai Liuk tepatnya di Koto Beringin dan berdakwah di kawasan Pesisir Bukit Sungai Penuh. Bentuk peninggalan beliau adalah batu Sorban yang juga terletak di Sungai Liuk.

Siak Rajo berdakwah di kawasan Air Hangat Timur yaitu di Kemantan, Sungai Medang, Air hangat. Beliau menikah dengan Dayang Bunga Alam dan dikaruniai lima orang anak. Beliau wafat di Talang Banio.

Siak Sakti berdakwah di Koto Jelatang tepatnya di Hiang Tinggi, Kecamatan Sitinjau Laut. Silsilah atau tuturan adat belum dijumpai sampai saat ini.

Siak Lengih berdakwah di Koto Pandan di kawasan Sungai Penuh, dan memiliki dua orang istri yaitu Gento Suri dan beliau juga memiliki keturunan. Beliau wafat di tempat bermukim atau berdakwah yaitu di Koto Pandan.

Dan yang terakhir, Siak Baribut Sati berdakwah di Koto Merantih Tinggi atau sekarang dikenal dengan Tarutung di sepanjang desa Batang Merangin. Anak beliau bermukim di wilayah Siulak diantaranya Depati Sungai Langit Gedang dan Ninek Gadih. Kemudian Ninek Gadih anak perempuan beliau menikah dengan Sijiwa yang disebut dengan Depati Marajo Tuo dan keturunannya menyebar di Siulak tepatnya di Koto Beringin dan Mukai Hilir.

Itulah tentang Ke enam Siak atau Syeikh yang menyebarkan Islam di tanah Kerinci.