1 tahun lalu · 609 view · 4 menit baca · Agama 77232.jpg
Ustad Fathurrahman Hasi

Sepenggal Kenangan Bersama Ustad Fathurrahman

Ketika nyantri di Pesantren pada awalnya saya tidak terlalu suka membaca buku apalagi mendiskusikan diskursus-diskursus ilmiah yang kadang tak berarti apa-apa bagi seorang santri.

Daripada diskusi ilmiah, terlentang di atas lantai kamar adalah sebuah pilihan yang lebih nyaman dan memuaskan. Daripada harus belajar menuangkan pikiran, merangkai kata-kata gombal untuk sang pacar adalah pilihan yang lebih asyik dan lebih menyenangkan.  

Di pesantren, saya juga tidak terlalu suka dengan yang namanya Bahasa Inggris. Bukan saja karena rumusan-rumusan bahasanya yang complicated, tetapi juga karena pelafalan bahasa inggris cukup sulit bagi saya yang notabene berlatarbelakang keluarga desa di ujung kampung Sukabumi sana.

Sampai di kemudian hari saya dipertemukan oleh Tuhan dengan seorang ustad bernama Fathurrahman Hasi. Ustad yang satu ini terbilang unik. Di samping ahli membaca buku-buku klasik, ia juga tak kalah jago merangkai puisi dan bermain musik.

Para santri menjulukinya dengan sebutan Con Amore, sebuah julukan yang ia sematkan kepada dirinya sendiri. Tidak begitu jelas apa makna historis-filosofis di balik nama Con Amore itu. Saya tidak pernah bertanya langsung.

Di samping sebutan Con Amore, biasanya para santri juga memanggil beliau dengan panggilan Ustad Paongs. Lagi-lagi, saya tidak tahu persis seperti apa asbabunnuzul yang menyertai perubahan dari Fathurrahman Hasi menjadi Paong’s itu. Kadang ujungnya ditambah huruf “s” pula.

Sepertinya hanya beliau dan Tuhannya yang tahu semua tentang julukan-julukan aneh itu.  

Perjumpaan saya dengan ustad asal madura yang satu ini terbilang berkesan. Sebab, dari beliaulah saya belajar untuk mencintai buku, membaca dan membentangkan wawasan, seperti yang diperintahkan dalam al-Quran.

Dari beliau juga saya belajar bahwa bahasa asing itu adalah jendela untuk membuka dunia. Darinya saya belajar ilmu sastra Arab (balaghah), dan berkat aksi-aksinya pula saya terdorong untuk belajar dan mencintai bahasa inggris, yang tadinya tidak saya sukai itu.

Ustad Paong, demikian kami biasa memanggil, dikenal sebagai kutu buku. Saya pernah mendengar dari salah seorang ustad lain di Pesantren bahwa kalau sudah membaca buku, sambil menyembulkan asap rokok, beliau ini bisa duduk sampai berjam-jam di dalam kamarnya.

Tapi cerita ini saya dapatkan sebelum beliau menikah alias masih membujang. Setelah menikah, saya yakin banget sih kalau yang beliau lakukan di kamar bukan lagi berjam-jam membaca buku, tapi melakukan “atraksi akrobatik”…. dengan si ibu (damai pak, peace. Tidak saya isi, kok. Hehe)

Saya tidak akan lupa dengan buku kecil yang pernah beliau hadiahkan kepada saya di suatu waktu. Buku itu, seingat saya, berjudul: “Nggak bisa kuliah? Belajar Otodidak donk!”. Saya lupa nama penulisnya.

Isinya berupa tuntunan untuk menjadi penulis dan otodidaktor sejati. Buku itu, seperti yang ia sampaikan, ditulis oleh temannya sendiri. Ketika mereka berdua tercatat sebagai santri al-Amien, sebuah pesanten yang juga menjadi almamater pak KH Anwar Wahdi Hasi, pimpinan dan guru besar kami.

Tak berlebihan jika buku yang ia hadiahkan kepada saya itu adalah terjemahan dari karakter beliau itu sendiri. Ya, ustad yang satu ini memang otodidaktor sejati. Setahu saya ia tidak kuliah formal dengan jurusan yang jelas.

Bahkan, ada yang bilang kalau beliau sudah kuliah tapi ijazahnya hilang entah kemana. Entah riwayat ini sampai derajat sahih atau tidak. Saya tak tahu bagaimana narasi sesungguhnya.  

Tapi, meski begitu, ustad yang satu ini piawai main akting, lihai merangkai puisi, pandai berbahasa Arab, fasih berbahasa inggris, mampu membaca buku-buku keislaman klasik, lancar bermain gitar, dan yang pasti, pintar menggombal perempuan sehingga tak jarang membuat para santriwati terpukau dan jatuh hati (saya pesan satu porsi pak ya ketika pulang nanti).

Sayang, saya tidak sempat diajari ilmu terakhir yang satu ini. Andai dulu saya diajari, mungkin wanita secantik Cinta Laura pun bisa saya miliki.

Sosoknya yang mencintai buku tak pelak membuat saya terinspirasi. Bahkan, secara tidak langsung, berkat beliaulah saya bisa berkenalan dengan buku-buku Quraish Shihab yang hingga kini buku-bukunya saya bawa ke bumi para nabi.

Alkisah, suatu ketika, di dalam kelas, ia menyinggung pendapat Quraish tentang persoalan jilbab. “Saya sebenarnya tidak setuju itu dengan Quraish yang tidak mewajibkan jilbab. Jilbab itu menurut saya…bla bla bla…. Dan putra-putrinya itu kan tidak berjilbab juga…

Sejak itulah saya mulai penasaran dengan penulis buku tafsir tebal berjudul al-Mishbah ini. Sebagai santri yang masih polos, tentu saja saya bertanya-tanya dalam hati: “Mana mungkin seorang ulama besar tidak mewajibkan jilbab? Tapi kini, pertanyaan itu sudah tidak berlaku lagi.

 “Menurut saya, Quraish Shihab itu sebenarnya bukan mufassir ya. Tapi hanya Ahli Tafsir. Saya sudah membaca dan membandingkan Al-Mishbah itu dengan…bla bla bla” Tuturnya lain kali.

Saya semakin penasaran. Akhirnya, ketika hari BookFair di Jakarta tiba, saya dan teman saya pergi berdua dengan uang pinjaman dari salah seorang ustad saya. Saya borong itu buku-buku Quraish Shihab sekalipun bermodalkan uang pinjaman.

Sampai di pesantren kemudian buku-buku itu satu persatu saya telaah, saya pelajari, saya baca. Dan ternyata, pada akhirnya saya malah jatuh cinta. Seperti halnya saya mengagumi putri keduanya yang bernama Najwa.

Karena rasa jatuh cinta itulah kini saya berada di bumi yang menjadi saksi “pertengkaran” sengit antara Fir’aun dan Nabi Musa. Di negeri inilah dulu tokoh yang disinggung oleh pak Paong itu mendalami ilmu Agama.

Tanpa singgungan pak Paong mengenai Quraish Shihab itu, mungkin sampai sekarang saya masih mendaratkan kaki di bumi Indonesia. Saya ingin berterima kasih atas seluruh jasa yang pernah diberikannya. Meskipun apa yang saya ceritakan di atas mungkin sudah tidak segar lagi dalam ingatannya. 

Tak lupa saya berdoa: Semoga Tuhan membalas semua amal kebajikannya. Semoga ia—dan para guru lainnya—diberikan kesehatan, umur panjang dan keistiqamahan dalam mendidik dan mengayomi tunas bangsa di Pesantren kami tercinta. Dan semoga ia juga tak lupa dengan saya yang dulu pernah mengajaknya berdiskusi sampai larut malam di saat para santri terkapar di sudut-sudut kamarnya. 

Kairo, Saqar Quraish, 10 Juli 2017.