Tak terasa sudah sepuluh hari aku berada disini. Ada kedamaian jiwa dan keramahan warga yang membuatku begitu betah dan nyaman. Semua terasa nyata.

Embun tipis yang selalu datang tiap pagi, hamparan gunung yang begitu megah membuatku tak henti bersyukur kepada sang pencipta. Ada keramahan warga yang menebar senyum sembari menjinjing biji-biji kopi hasil panen, ada anak-anak desa yang terus merayuku untuk bermain bersama.

Semua tak pernah ku dapatkan di kota. Aku merasa, ada sesuatu yang lebih dari sekadar Kuliah Kerja Lapangan (KKL)

Aku merasakan bagaimana seharusnya menjadi makhluk sosial yang betul-betul tak pernah ku rasakan.

Oh ya, disini aku sedang melaksanakan KKL yang bagi sebagian mahasiswa, kegiatan ini tak lebih dan tak bukan hanya sekadar penggugur kewajiban untuk bisa memakai toga.

Sampai saat ini, menurut hematku, Kuliah Kerja Lapangan tak ubahnya seperti Kuliah Kerja Liburan. Ke tempat wisata yang ada di desa dengan dalih observasi. Jalan-jalan sana sini dengan alasan mencari ide untuk program kerja. Memang tak ada yang membatasi akan hal itu. Tapi coba amati dengan seksama.

Kegiatan-kegiatan atau program kerja yang disusun pun sifatnya berskala pendek. Hanya dua bulan. Setelah itu kembali terkungkung dalam dunia kampus.

Hampir lupa. Aku Ayunda dan sekarang sedang menulis. Aku pikir, tak ada salahnya untuk menulis catatan-catatan kecil ini ditengah-tengah kesibukan KKL. Barangkali suatu saat bisa ku baca kembali.

Disini, aku satu posko bersama Fian, Fadel, Sapril juga Kiki. Fian dari Fakultas Bahasa dan Sastra sekaligus menjabat sebagai Koordinator. Fadel dan Sapril dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang olehnya sendiri mengangkat dirinya masuk dalam Bidang Keamanan. Lebih tepatnya mengamankan konsumsi. Aku dan Kiki dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Tapi, aku tak akan bahas panjang lebar tentang mereka. Bukan karena tak ingin, tapi butuh waktu khusus untuk menulis kisah tentang mereka. Atau setidaknya butuh kopi dan biskuit.

-000-

Menulis hal-hal penting sudah menjadi rutinitas wajib sebelum tidur. Kata kekasihku “Tulis saja apa yang ada dalam kepala. Menulis ide liar ibarat sebuah bentuk penghargaan kepada otak”. Selain itu, juga karena kendala jaringan. Maklum, jaringan di desa ini agak susah. Untuk sekadar SMS-an saja, harus rela pergi ke balai desa.

Alhasil, hanya jika ada kesempatan untuk sekadar bertukar kabar dengan kekasih. Tapi itu tak masalah, dia sudah paham dengan kondisi disini. Tempat KKL ku pun rekomendasi dari dia. Sebelum berangkat saja, dia memberiku (lebih tepatnya meminjamkan) buku Catatan Juang karya Fiersa Besari yang katanya untuk ku baca kala lowong.

Aku akan mengutip sedikit apa yang ada dalam buku tersebut. “Pikiran kita tidak benar-benar merdeka. Kebebasan berpendapat kita direnggut atas nama stabilitas negara. Mungkin itulah yang membuat kata ‘merdeka’ kehilangan makna” 

Dari kutipan itulah tanganku serasa ‘gatal’ untuk menuliskan apa yang aku lihat disini. Aku tidak ingin memenjarakan pikiranku. Aku ingin membiarkannya lepas dan bebas. Aku tidak ingin suaraku dibungkam. Aku ingin terus bersuara atas nama kebenaran. Setidaknya, itulah yang aku rasakan saat ini.

Walaupun sebelum KKL, aku tak pernah menduga akan mendapatkan hal yang seperti ini, namun akan sangat bersalah jika aku tak menulis dan mengabarkan hal ini kepada khalayak ramai.

“Disini sebentar lagi akan ada tambang nak”. Begitulah kira-kira penuturan warga saat aku dan beberapa teman posko mengunjungi salah satu rumah

Rupanya, cerita tentang rencana tambang yang akan dibuka di desa ini sudah sangat ramai. Menurut informasi dari warga, tambang yang akan dibuka adalah timah hitam.

Meskipun mayoritas menolak, tetapi beberapa warga turut mendukung rencana tambang tersebut dengan dalih akan meningkatkan ekonomi atau memajukan infrastruktur desa.

Warga yang menolak pun punya alasan. Salah satunya adalah dampak terhadap lingkungan yang akan sangat dirasakan oleh warga desa yang kebanyakan seorang petani.

“Kami hanya petani. Kalau tambang akan masuk disini. Sudah jelas akan berdampak pada kami. Pada rakyat kecil. Sampai kapan kami harus menderita ditanah kami sendiri” tutur salah seorang warga desa dengan mata yang berkaca-kaca

Karena rencana tambang yang akan dibuka di desa ini pula, aku sesekali datang untuk mengikuti semacam diskusi di posko penolakan tambang yang didirikan warga sebagai bentuk protes.

Dari sini pula aku kembali merenung. Sampai kapan bumi ini terus dikeruk atas nama pembangunan namun nyatanya rakyat menjadi sengsara? Sementara diseberang sana, ada manusia-manusia serakah yang menikmati dan menari tertawa diatas jerit tangis rakyat.

Kekasih, sepertinya aku perlu menceritakan ini kepadamu. Juga tentang kerinduan yang saat ini aku rasa. Kerinduan yang tiada tanding dan dingin yang sengaja menyelinap diantara balutan selimut. Seperti sengaja melengkapi sunyi dimalam ini.

Dalam hening aku berulang kali menyebut namamu. Malam ini terlalu muram. Semoga angin malam berkenan menyampaikan rindu yang belum sempat dituntaskan.

Tapi nanti. Semoga waktu lekas mempertemukan kita.

Sudah. Rasanya untuk malam ini sudah cukup.