Ketika kita  manusia  tercipta ke dunia (lahir ke dunia).  Secara fitrah, rasa cinta sudah menjadi potensi pada diri kita manusia. Walaupun belum sepenuhnya aktual. 

Beranjak remaja atau dewasa, perlahan-lahan rasa cinta itu meng-aktual.  Aktualnya rasa cinta didorong oleh faktor di luar diri dan di dalam diri kita. 

Di luar diri misalnya, pada lawan jenis, sesama jenis, lingkungan disekitar kita dan hal-hal lainnya. Sedangkan di dalam diri yaitu sumber cinta itu sendiri.

Muncul sebuah pertanyaan. Apakah rasa suka dan rasa cinta itu sama? 

Bagi saya, rasa suka dan cinta itu berbeda. Walaupun suka merupakan gradasi cinta.
Ia merupakan gradasi terendah (terbawah) 

Berbeda dengan cinta. Cinta merupakan level tertinggi, sehingga yang mencapai itu, di katakan  manusia. Dalam istilah sufi yang telah benar-benar mengenal cinta, ia telah mengenal diri seutuhnya. 

Dalam KBBI, cinta artinya suka sekali; sayang benar. Sedangkan suka adalah keadaan senang (girang). 

Dari kedua pengertian di atas, sepertinya cinta dan suka tidak terlalu berbeda, hanya saja arti cinta bermakna lebih mendalam dari pada suka. 

Namun, yang sama pahami dari cinta taksekadar suka sekali, tetapi dalam cinta ada pengorbanan. Dalam istilah para sufi cinta merupakan pengakuan akan kesempurnaan sesuatu yang dicintai dan berusaha "menjadi" atau lebur (menyatu) dengan yang dicintai.

Nah, bagi saya dalam rasa suka ada sisi kebosanan, sedangkan dalam cinta, tidak. Mengapa?

Kecenderungan dari pada rasa suka adalah nilai inderawi, maksudnya lebih pada pandangan atau orientasi material. 

Sehingga pada rasa suka, kita dengan mudah mengganti atau menyukai sesuatu apabila sesuatu itu sudah tidak menarik. Bahasa ekonominya rasa suka cendrung pada keinginan kita. 

Misalnya, ketika kita melihat tas, atau handphone baru, padahal kita masih memiliki tas atau handphone. Namun, karena  tas atau handphone  terlihat  sudah usang dan tak menarik lagi, kita menggantinya. Begitu seterusnya, ketika ada sesuatu yang baru, kita meninggalkan yang lama. 

Begitupun ketika memiliki sesuatu, rasa suka cendrung membuat kita merasa memiliki sepenuhnya. Menganggap segala sesuatu sebagai barang kepemilikan. 

Sehingga apabila rasa suka tak dikelola atau dikontrol dengan baik, akan berdampak negatif pada diri kita. Lebih parahnya demi memenuhi rasa suka, terkadang  ada yang sampai korupsi (mencuri), merampok dan menipu. 

Berbeda dengan cinta. Cinta melihat sesuatu berdasarkan nilai rasional, bukan nilai material. 

Nilai  rasional  yang saya maksudkan dari cinta adalah kesetiaan, ketulusan, keadilan pemuliaan, pengorbanan dan juga Kesucian. 

Sehingga dalam rasa cinta ada
Penghormatan, pemuliaan , dan  juga adanya rasa keadilan dari pada sesuatu yang kita dapatkan/miliki

Misalnya istri, kalau  rasa suka yang kita pakai.  Bisa jadi, istri kita perlakukan layaknya handphone atau tas. Dengan mudah menggantinya. 

Namun, karena ukurannya cinta, apapun bentuk istri kita. Kita tetap setia, menghormat, memuliakan nya. 

Dengan demikian, apakah dengan adanya perbedaan rasa suka dan rasa cinta,  berarti kita harus menafikan rasa suka?  Tentu tidak.  Rasa suka itu perlu. Tapi harus di kelola/di kontrol sehingga mengarah kepada cinta. 

***

Ada sebuah kegelisahan yang saya rasakan ketika mendengar  kata "bercinta". Lalu di maknai kata itu sebagai berhubungan badan? 

Kata cinta pun kelihatannya terjadi penurunan pemaknaan. Kita sering mendengar kata cinta di kaitkan dengan kata "bercinta".
Sebagian orang menganggap bercinta itu sama halnya dengan berhubungan badan. 

Kenapa  kebanyakan orang lebih suka menggunakan kata "bercinta" sebagai ungkapan dari hubungan intim (badan)? 

Saya tak tahu itu, yang saya tahu kata cinta, atau rasa cinta tak mengenal lawan jenis. Rasa cinta tumbuh karena kekaguman, kepercayaan atau karena keyakinan pada hal-hal yang mengantarkan pada kebaikan.

Misalkan ketika saya mengatakan bercinta dengan Tuhan. Apakah saya berhubungan badan dengan Tuhan? Tentu tidak. Makna  kata bercinta itu abstrak, tergantung si pemakai kata itu, kalau memakai sudut pandang empirik pasti menganggap sebagai hubungan badan, tetapi kalau memakai  pendekatan rasional tentu bukan berhubungan badan fisik tetapi rohani. 

Sayangnya, kata "bercinta" itu sudah terlanjur dimaknai sebagai hubungan fisik, sehingga dalam kepala sebagian orang bercinta atau cinta, sama halnya berhubungan antar lawan jenis atau sesama jenis, dalam arti hubungan fisik. 

Padahal cinta sendiri bukanlah bentuk fisik tetapi non fisik, ia bersifat metafisik. Ia tak bisa diukur dengan ukuran-ukuran fisik.
 
Seperti ketika saya mengatakan saya mencintai Nabi Muhammad atau mencintai Yesus, apakah saya harus menikah atau bersanding dengan mereka? Tentu tidak. Cinta  yang dimaksudkan adalah meneladani, mengikuti cara atau laku hidup mereka. 

Dengan demikian,  rasa suka, rasa cinta tak bisa dipisahkan pada diri. Keduanya ada sebagai pelengkap dari kemanusiaan kita.
Dengan adanya rasa suka, kita bisa mengetahui dan memahami ada nya cinta tertinggi, yang terlepas diri ukuran-ukuran material. 

Begitu pun dengan kata "bercinta". Saya tak menyalahkan orang yang memaknai kata itu sebagai berhubung badan.
Saya hanya ingin menjelaskan bahwa  kata bercinta punya sudut pandang atau pemaknaan yang lain selain berhubungan fisik. 

Sekian.