Entah bagaimana mulanya, di tengah pandemi saat ini, jalanan kita dihiasi pemandangan warna-warni orang bersepeda. Tren musiman ini baru bersemi kembali setelah pernah mekar awal dekade lalu.

Kegiatan bersepeda kelihatannya menjadi perayaan atas perasaan terbebas bagi mereka yang merasa terkurung saat harus bekerja dari rumah. Pemandangan yang bagi saya, sebagai pejalan kaki garis keras, membikin iri. Bukan karena saya tidak punya sepeda, tapi karena jarang ada yang mau diajak jalan kaki.

Berbeda nasib dengan sepeda, jalan kaki tidak pernah menjadi tren di Indonesia. Bahkan untuk sekadar menjadi kebiasaan pun masih jauh.

Universitas Stanford pernah merilis laporan yang menunjukkan orang Indonesia adalah bangsa yang paling malas jalan kaki. Jika bicara kecenderungan, kita tahu sendiri bahwa untuk beli beras di toko yang jaraknya beberapa kali lemparan sempak, naik motor lebih menjadi pilihan utama ketimbang jalan kaki atau naik sepeda.

Padahal membiasakan diri jalan kaki memberikan banyak manfaat (selain untuk kesehatan dan kebugaran jasmani pastinya). Walaupun jarak yang ditempuh bisa jadi lebih pendek dan waktu perjalanan jadi lebih panjang, ada beberapa kelebihan berjalan kaki yang sulit didapatkan dari sepedaan yang cenderung hanya jadi tren kambuhan. Mari saya jelaskan.

Saya heran mengapa sulit membiasakan orang Indonesia berjalan kaki. Padahal, berjalan kaki adalah kegiatan fisik yang paling populis, bisa dilakukan semua orang tanpa memandang kelas sosialnya. Anda hanya butuh alas kaki yang layak saja untuk berjalan kaki.

Pun jika harus membeli sepatu jalan yang bagus dan nyaman, tentu biayanya lebih murah ketimbang beli sepeda beserta printilan dan aksesori keamanannya. Belum lagi kalau Anda mudah silau dengan kesemuan gemerlap duniawi, seperti frame sepeda yang harganya bisa belasan/puluhan juta itu.

Tergantung dengan siapa Anda bergaul, sangat mungkin Anda ikut terpengaruh untuk menginginkan barang-barang mahal itu, yang jika tidak segera terpenuhi bisa membuat sulit tidur atau terbawa mimpi. Tentu tidak baik jadinya, terutama bagi kesehatan mental Anda.

Apalagi jika Anda tergolong kelas menengah yang gemar menggunakan kartu kredit untuk memanjat kelas sosial. Olahraga yang seharusnya cuma bersepeda, bisa berganti jadi olahraga jantung menunggu tagihan kartu kredit keluar. Hal yang seharusnya tidak terjadi jika Anda memilih jalan kaki.

Berjalan kaki juga berpengaruh positif pada kesehatan mental. Bagi Anda yang merasa kelelahan secara mental dengan kehidupan maupun pekerjaan, jalan kaki adalah pilihan yang sempurna dibandingkan bersepeda.

Pada dasarnya setiap aktivitas olahraga meningkatkan produksi hormon endorfin yang membantu kita melawan depresi. Berdasar pengalaman saya, berjalan kaki sepulang kantor (dengan jarak yang signifikan tentunya) membantu menyegarkan pikiran yang sumpek dengan segala urusan di kantor. Berjalan kaki juga memungkinkan Anda berkontemplasi dan mencari inspirasi, hal yang sulit dan serba salah jika dilakukan sambil bersepeda.

Bersepeda sambil berpikir (entah itu kontemplasi, mencari ide, atau bentuk-bentuk aktivitas berpikir lainnya) adalah kegiatan yang serba salah, karena untuk bersepeda dengan nyaman, kecepatan mengayuh harus diatur. Melakukannya sambil memikirkan sesuatu akan membuat laju sepeda Anda cenderung lambat. 

Kontemplasi Anda pun terancam buyar dan sia-sia karena niscaya akan ada pengendara mobil atau motor yang menglakson karena lajunya terhalang oleh Anda, yang menurut mereka sedang bersepeda sambil ngelamun. Sementara mengombinasikan aktivitas berpikir sambil melaju kencang sangat berbahaya bagi Anda dan pengendara lainnya.

Pengalaman berjalan kaki selalu memberikan Anda detil-detil baru yang ada di jalanan. Entah itu kalimat lucu corat-coretan grafiti yang baru bisa terlihat dari atas trotoar, atau seberapa tebal penghasilan anak-anak penjual tisu ketika mereka menghitungnya di atas jembatan penyeberangan, hingga bagaimana tukang cilok menyetorkan “iuran rutin” kepada oknum anggota ormas. Setiap detil yang ada di jalan akan memperkaya perspektif dan perasaan Anda, hal-hal yang akan mudah terlewatkan jika melaju dengan kendaraan bermotor atau sepeda.

Tidak hanya itu, jalan kaki adalah penopang keberlangsungan sistem transportasi umum yang sukses. Tentu supaya tidak melulu jadi jago kandang yang hanya dianggap sangar oleh dirinya sendiri, kita mesti melihat contoh di luar sana.

Negara-negara yang lebih maju seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura, misalnya, telah menjadikan transportasi umum sebagai gaya hidup bagi masyarakatnya. Mereka umumnya berangkat menuju stasiun atau terminal terdekat dengan berjalan kaki. Berpindah terminal atau koridor juga biasa dalam transportasi umum, tentu memperbanyak aktivitas jalan kaki.

Moda transportasi umum di negara-negara ini sukses karena aktivitas jalan kaki sudah menjadi kebiasaan—bahkan menjadi bagian dari budaya yang membangun peradaban mereka.

Kita bisa melihat bahwa kehidupan masyarakat Jepang tidak bisa dipisahkan dari jalan kaki. Aktivitas berjalan kaki memang membutuhkan waktu dan tenaga lebih banyak, tapi justru itulah yang membuat mereka sangat menghargai waktu dan memperlakukan waktu secara efisien. Mereka harus berangkat dari rumah tepat waktu, berjalan menuju stasiun dengan kecepatan konstan, agar tidak tertinggal kereta yang juga luar biasa on-time. Ketepatan waktu adalah salah satu kunci majunya peradaban mereka.

Sementara di sini, berjalan kaki selama setengah jam saja masih sering dianggap melelahkan dan sekadar buang-buang waktu. Mengajak teman atau keluarga untuk jalan kaki ke tempat yang tidak sampai satu kilometer saja seringkali ditanggapi keluhan dan penolakan. 

Apa boleh buat, jalan kaki sudah dihayati sebagai aktivitas yang membosankan—jauh dari kepraktisan motor yang bisa meliuk-liuk di jalanan, dan jauh pula dari kemapanan AC mobil yang dingin.