Ini aku Cinderella, menjejakkan kakiku di tanah Dewata. Dengan gaun kuning yang mengembang, kumasuki istana nan megah di hadapanku. Sosok laki-laki membantuku mengangkat tas yang berisikan gaun-gaun cinderella milikku dari kereta putih yang kunaiki. Ia menuntunku menuju kamarku tanpa ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya.

Diletakkannya tasku di depan kamarku, tanpa sengaja mata kami saling bertatapan. Aku menantikan apa yang akan keluar dari bibirnya, namun tak satu kata pun yang terucap. Hatiku berdetak lebih kencang. Apa mungkin ia menyadari sesuatu tentangku?

Aku berdiri tegak, berusaha menghilangkan kegundahanku. Kusibak gaun kuning panjangku untuk menegaskan bahwa aku cinderella. Namun masih tak ada respons darinya, malahan ia hanya mengambil langkah untuk berpaling dari hadapanku.

Aneh dan dingin itulah tentangnya yang tertempel dalam benakku, mungkin juga menakutkan. Bukan perawakan yang membuat diriku takut padanya, namun ketakutan kalau-kalau ia menyadari sesuatu tentangku.

Hari pertamaku terasa tidak menyenangkan bagiku berada di tanah Dewata. Karena laki-laki itu! Ya, karenanya! Pria aneh dan dingin. Aku tidak akan pernah memalingkan mataku padanya. Cukup sekali dan tidak akan pernah lagi. Semoga saja ke depannya akan lebih baik lagi.

Hari-hari selanjutnya makin membaik, orang-orang menyukaiku! Mungkin karena gaun kuning yang kukenakan. Sangat gembira berada di sekitar orang banyak. Rasanya gaun kuning ini membuatku menjadi pusat perhatian. Namun gaun kuning ini membuatku tak nyaman makin lama aku memakainya, tapi mau bagaimana lag? Mereka menyukai gaun kuningku.

Di saat orang-orang tak berada di sekitarku, aku mengganti gaun kuningku menjadi hitam polos dan tipis. 

Sunyi.
Sepi.
Tanpa suara seorang pun. 

Namun batinku tak dapat menolak ledakan hatiku dan ruang tak dapat menepis derasnya tetes kesedihan.

Rasanya hidupku hanya terbagi dua. Gaun kuning dan gaun hitam. Gaun kuning yang memaksaku untuk meledakkan tawa dan kegembiraan. Gaun hitam bak hujan yang tak dapat dihentikan dan terus mengguyurku dengan derasnya tetes kesedihan. Itulah hidupku sebagai cinderella.

Aku ingin menghempaskan gaun kuningku dengan gaun hitam untuk dapat menutup bibirku yang lelah tersenyum lebar sepanjang hari. Namun aku juga ingin menghempaskan gaun hitamku menjadi gaun kuning karena dinginnya tetesan kesedihan yang membanjiriku.

Satu hari di tengah keramaian aku hanya terduduk dan terdiam. Pikiranku hanya terisi dengan betapa beratnya gaun kuning ini dan betapa sesaknya karet gaun yang menekan perutku. Rasanya seperti berkhayal, seseorang berdiri di depanku, entah siapa dia. Tapi yang aku rasa dengan kuat bahwa ia adalah seorang peri. Seorang peri yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan hidupku.

Diucapkannya beberapa mantra padaku. Kupejamkan mataku untuk menunggu perubahan apa yang akan terjadi padaku. Dapat kurasakan badanku menjadi ringan kembali, tidak ada rasa beratnya gaun kuning dan tidak ada rasa dingin dari gaun hitam. Ini berbeda. Rasanya ringan, nyaman dan hangat . Aku menyukai perubahan ini!

Aku membuka kedua mataku, namun alangkah terkejutnya diriku dan tidak percaya. Sungguh perubahan yang diluar dugaan. Gaun kuningku berubah menjadi gaun pembantu! Tidak mungkin! Namun anehnya tak ada rasa sedih dalam diriku karena kehilangan gaun kuningku.

Seperti bunga bermekaran di musim semi, itu yang kurasakan. Entah, mungkin ini bagian dari mantra aku merasa seperti ini. Hari-hari kulalui dengan baju pembantuku. Bahagia. Namun aku merasa ada sebagian dari diriku yang kurang namun tidak tahu apa itu.

Hari demi hari berjalan tanpa kusadari diriku dan “si aneh dan dingin” menjadi dekat. Entah mengapa. “kupikir kita dekat karena mantra yang ada padaku”. Kalimat itu ku lontarkan saat aku hanya berdua denganNya. “Tidak, aku satu-satunya manusia yang tidak dapat terkena mantra”. 

Aku menjadi heran. “Maksud kau itu kau bukan manusia, begitu?”. Tanyaku.

“Aku bukan manusia yang dapat terkena mantra dan bukan peri yang dapat mengucapkan mantra”.

Tambah bingun aku dibuatnya. “Lalu kau itu apa?”

“Aku pembawa misi mutlak dari Tuhan yang tak seorangpun dapat mengubah atau menggantikannya”. Aku mengernyitkan alisku. “kau sendiri siapa?” lanjutnya menanyaiku.

“aku? Aku… entahlah aku tidak mengetahui siapa diriku saat ini, namun aku bahagia hanya saja aku merasa ada yang sedikit menghilang ”.

Sepi. Tidak ada lagi perbincangan di antara kami.

“misi apa itu?” kucairkan suasana yang membeku dengan sebuah pertanyaan.

Aku melihatnya mengeluarkan sebuah kotak lalu membukanya. Ada sepatu kaca di dalamnya namun hanya bagian kirinya saja. “itu milik siapa?” Tanyaku.

“Bukankah kau merasa ada sebagian dari dirimu yang hilang?”

Aku bingung tapi entah instruksi dari mana, aku menundukan kepalaku dan melihat kakiku. Ada sepatu kaca di kaki sebelah kananku. Ternyata itu yang hilang, akupun tak pernah menyadarinya. Dipakaikannya sepatu itu pada kakiku yang lainnya.

“Saat ini apa kau tahu siapa dirimu?” Tanyanya padaku.

Aku tak menjawab, hanya pandangan hampa yang kulontarkan padanya.

“Kau cinderella".

“Aku? Aku Cinderella? Aku tidak cukup percaya diri untuk menyebut diriku sebagai Cinderella dengan gaun pembantu yang aku kenakan ini”.

“Bukan karena gaunmu dan tak peduli bagaimana gaunmu. Tak peduli sebagus dan semegah apapun gaunmu. Cinderella di kenal karena sepatu kaca yang dikenakannya”.

“Kini sepatu itu lengkap kau kenakan. Kepercayaan dirimu telah penuh untuk menunjukan bahwa kau Cinderella”.

Apalah arti gaun kuning yang menuntunku pada gaun hitam. Baik kugunakan gaun pembantu yang membuatku terbang seperti kupu-kupu. Bukan corak yang membuat kupu-kupu menyadari siapa dirinya, karena  kedua sayapnyalah ia menyadari bahwa ia adalah kupu-kupu. Apalah arti cinderella dengan gaun nan megah tanpa sepatu kaca pada kakinya?