Malam baru sejengkal menyapa saat Biru masuk ke aula tempat diadakannya kebaktian. Jemaat yang datang pun masih satu-satu. Biru mengambil tempat duduk di sisi kanan, di barisan tiga terdepan. Memeriksa kembali apakah ia tak lupa membawa Injil. Setelah yakin, ia meletakkan tas berisi Injilnya di samping.

Biru kemudian memutar tubuhnya, pandangannya menyapu seluruh aula menikmati dekorasi khas jurusan mereka: sketsa.

Setelah menandai kursinya, Biru beranjak ke luar aula sekadar membunuh sepi. Pandangannya tunduk pada Alya, adik kelasnya yang tengah jadi panitia. Alya memang muslim tapi ia tak keberatan ikut ambil bagian sebagai panitia Natal. Ia sudah lakukan ini sejak tahun pertama kuliahnya.

Keduanya hanya saling membalas senyum. Alya larut dalam kesibukannya menyambut kedatangan jemaat, sedangkan Biru menghirup udara malam dalam diam.


***

Matanya lekat menikam sosok di atas panggung yang kadang meliuk, diam, atau berterik lantang. Ia tak habis pikir bagaimana bisa ada keindahan sebegitu besar di dekatnya. Dan ia tak pernah sadar akan hal itu. Biru awalnya hanya mengantar temannya menonton pementasan teater jadi larut dalam pikat sang artis.

Perempuan di atas panggung itu berjilbab dan hanya sendiri. Sorot lampu yang cenderung berwarna sendu hanya menyorot ia dan latar belakang berbentuk kubus sehingga terbatas ruang geraknya, fokuslah mata melihat penampilannya. Ialah sang artis yang tengah bermonolog. Memaku pantat Biru hingga ia tak bergerak.

Saat Biru datang, perempuan itu tengah mematut diri di depan cermin. Ia bercakap-cakap meminta pendapat bagaimana mempertahankan hubungan rumah tangganya. Nafasnya berat bergetar seperti bibirnya yang bergetar acap kali ia bertutur. Biru tak dapat mendefenisikan ketertarikannya. Apakah pada cerita atau perempuan pemeran: sang artis.

Tiba-tiba gelap, perempuan itu seperti hilang di tengah malam. Ada seberkas kerinduan yang dirasakan Biru.  Biru ingin terus melihat perempuan itu bermonolog, bercakap-cakap dengan bibir bergetar.

Cahaya lampu menyorot sisi lain panggung. Sesosok pria bermonolog dengan latar belakang kubus juga. Pria itu suami sang perempuan yang juga mengumbar kekalutan hatinya. Sepertinya Biru memang hanya tertarik pada cerita, bukan pada perempuan tadi. Sebab ia tetap dapat menikmati monolog meskipun sang artis kini pria.

Sang pria pun hilang, sorot lampu menampakkan perempuan itu kembali. Mengeluarkannya dari mulut kegelapan. Kelegaan dapat dirasakan Biru, ia tersenyum tipis seperti merasakan sesuatu yang dikhawatirknnya telah menguap. Jangan-jangan ia memang menyukai perempuannya, buka cerita monolognya.

***

Kidung-kidung Ilahi mengalun merdu dari aula. Perangkat-perangkat doa dimainkan demi membujuk Tuhan untuk menurunkan kebaikan hatinya ke Bumi. Menyelamatkan jika Ia diminta menyelamatkan, menyembuhkan jika Ia diminta menyembuhkan, atau menghapuskan jika Ia diminta menghapuskan. Walau terkadang Ia punya cara-Nya sendiri untuk menunda doa-doa tertentu. Menyibukkan hamba-Nya dengan satu perkara.

“Selamat Natal, Bang Biru,” Alya mengulurkan tangannya ke Biru usai kebaktian.
“Terimakasih Dik. Nanti kamu kafir kalau ngucapin selamat Natal.”
“Oh ya? Padahal Kafir dari Bahasa Arab yang artinya di luar muslim, Bang Biru itu Kafir. Berbeda pengertian dengan KBBI. Kok Abang belum pulang?”
“Pertanyaanmu bukan berarti mengusir Abang, kan?”
“Tentu tidak, janganlah berprasangka buruk. Di sini kan banyak panitia yang lagi beres-beres. Nanti Abang terganggu.”

Biru pun membantu Alya dan panitia lain berkemas malam itu. Ia merasa dekat dengan Alya, kedekatan yang tak dibuat-buat. Melakukan percakapan yang bukan hanya direspon agar tak terjadi kekosongan. Supaya tetap mewujud dialog.

Malam sudah beranjak larut saat Alya menerima tawaran Biru untuk mengantarnya pulang. Ia menerima tawaran itu sebab ia merasa dekat dengan Biru, kedekatan  yang tak dibuat-buat. Melakukan percakapan yang bukan hanya direspon agar tak terjadi kekosongan. Supaya tetap mewujud dialog.

Alya menikmati tiap tarikan nada Biru saat berbicara, desahan nafas Biru yang menyelip di antara candanya. Alya merasa hidup, sehidup saat ia bermonolog.

Biru menanyai Alya, mengapa ia suka bermain teater. Alya dengan senang hari menjawabnya. Baginya bermain teater adalah mencari katup pengait kehidupan. Ia begitu menyukai kehidupan. Baginya kematian adalah sesuatu yang gelap. Ia tak habis pikir mengapa ada orang yang mau mati muda, lebih konyol lagi mendeklarasikan diri ingin mati muda. Bagi Alya, mati muda adalah sebuah musibah, penanda pengecut sebab takut mengambil resiko untuk hidup lebih lama. Takut berjudi apakah kelak mati sebagai anak emas Tuhan atau pembangkang.

Bagi Alya, teater adalah tempat ia bisa mengaitkan tali hidupnya. Pada teater lah ia mencoba menjajakan diri. Merancang monolog dan dialog. Baginya monolog adalah bentuk paling jujur dari manusia. Ia percaya, dan berkatnya Biru juga mengamini hal itu, monolog adalah cara manusia berbicara dengan semesta. Pun saat sesama manusia berbincang satu sama lain, berdialog satu sama lain.

Kebanyakan dari dialog antara sesama manusia bukankah hanya basa-basi? Menimbrungi pembicaraan agar terkesan menyimak. Nyatanya semua manusia larut dalam monolognya masing-masing, mencitrakan dialog-dialog: dialog imajiner.

Terkecuali bagi mereka yang merasakan daya pikat pada dialog-dialog yang dilakukan. Sebab ada kekuatan tak kasat mata yang timbul dari dialog yang benar-benar dialog. Ia muncul dan bertahan dalam senda gurau, tangis, simpati, juga pada rasa-rasa humanis lainnya. Bedanya hanya pada di kekuatan tadi. Hanya yang murni berdialog– bukan berdialog imajiner –yang bisa merasakan daya pikat dialog, sebuah kedekataan.

Mudah saja untuk membuktikannya. Penguji kedekatan adalah dialog. Mungkin saat berdialog dengan banyak orang dalam waktu yang sama akan terasa menyenangkan dan ringan. Sebab kita merasa akan selalu ada orang yang mengisi runag-ruang dimana kita tak ingin muncul di situ.

Maka saat berdua saja dan melakukan dialog. Perhatikanlah, apakah yang muncul kemudian respon-respon sekadar untuk menimpali percakapan, membuat percakapan hidup, seolah-olah ia berisi. Atau memang bukan respon-respon penimpal percakapan, bukan membuat percakapan hidup, sebab ia berisi.

Saat muncul perasaan ingin mengakhiri dialog berdua, dapat dipastikan kedekatan itu semu. Sebab beban berat yang muncul saat berdialog patutkah disebut buah kedekatan?. Terpujilah mereka yang sukses berdialog, bukan larut dalam monolog-monolg saat berdialog.

Pada poin itu Biru menimpali, menurutnya Alya tak dapat mengeneralkan manusia serempak dalam berdialog. Sebab bisa saja muncul faktor lain saat berdialog. Misalnya rasa suka yang kepada lawan berdialog hingga menumpulkan kemampuan berdialektika. Sebuah pembiaran membuka pintu ruang-ruang kosong. Sebab tak sanggup menggapai titik nyaman yang telah lenyap.

***

Menahun berlalu, Biru masih sepakat pada uji kedekatan versi Alya. Baginya kulitas kedekatan terbukti saat berdialog berdua. Ia rasakan kemantapan saat berdialog dengan Alya. Ia pun menebak dari respon yang dilontarkan Alya, dari gerak tubuh yang ditampilkan Alya, dari mimik yang dicitrakan Alya, sepertinya Alya juga rasakan kedekatan yang sama. Mewujud dalam sebuah kenyamanan.

Alya pun rasakan yang sama. Ia rasakan kemantapan saat berdialog dengan Biru. Ia pun menebak dari respon yang dilontarkan Biru, dari gerak tubuh yang ditampilkan Biru, dari mimik yang dicitrakan Biru, sepertinya Biru juga rasakan kedekatan yang sama. Mewujud dalam sebuah kenyamanan.

Bagi Biru, ia tetap tak berani beranjak lebih jauh. Seperti kemungkinan munculnya faktor lain saat berdialog yang melemahkan uji kedekatan versi Alya, rasa nyaman yang ia peluk masihlah satu faktor dari banyak faktor yang harus ia temukan pada Alya. 

Biru terus saja diam. Ia bermonolog.

Sedangkan Alya menunggu dan tak mau mengungkapkan. Ia bermonolog.