1 bulan lalu · 668 view · 3 min baca menit baca · Politik 89640_22207.jpg
ANTARA Foto

Sepakat dengan Rizal? Nanti Dulu

(Tanggapan untuk Rizal Mallarangeng)

Jangan dulu memuji Prabowo. Demikian pesan Rizal Mallarangeng melalui tulisannya.

Apakah perlu sepakat dengan Rizal? Nanti dulu. Bacalah dahulu tanggapan saya ini.

Sebagaimana perkembangan terkini, Prabowo akhirnya mengggugat hasil Pilpres ke Mahkamah Konstitusi (MK). Sayangnya memang dilakukan setelah huru-hara 21-22 Mei lalu. Sehingga lebih mudah menarik antipati. Prabowo dianggap sebagai dalang kerusuhan itu.

Rupanya tidak semua bersikap skeptis. Sebagian pihak mendukung Prabowo yang memilih jalur MK, terlepas dari kekacauan yang telah terjadi. Nah, terhadap orang-orang ini, Rizal menasihati bahwa jangan terburu-buru mengapresiasi.

Mengapa? Alasan Rizal dalam tulisan itu adalah bahwa tindakan Prabowo dan timnya “tidak masuk akal dan mengandung ancaman tersembunyi.”

Absurditas, karena, menurut Rizal, mereka sebenarnya sudah tahu kalau derajat posibilitas kemenangan mereka di MK adalah (hampir) nol. Sedangkan “ancaman tersembunyi” merujuk pada sikap mereka yang kokoh bahwa pemilu kali ini illegitimate.

“Tujuannya jelas. Kalau pemilu secara keseluruhan dianggap tidak sah, maka pemenangnya pun (Jokowi dan Ma’ruf Amin) harus dinyatakan tidak sah. Dengan begitu, tanpa meminta pemilu ulang, Prabowo berharap bahwa dia dan Sandi Uno yang akan ditetapkan sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2019-2024,” demikian Rizal berujar.


Sampai di sini, paparan Rizal cukup meyakinkan. Ironisnya, ia kemudian mengaku bahwa “saya tidak tahu apa yang ada di benak Prabowo dan tim hukum yang mendampinginya.”

Lalu, bagaimana faedah argumen Rizal sebelumnya? Apakah semuanya geliat diksi belaka?

Dengan begitu, Rizal jelas mengakui bahwa ia bisa keliru memahami Prabowo. Maka, terhadap kemungkinan tersebut, sekaligus dugaan skenario jahat Prabowo-Sandi yang dilemparkannya, jangan kita telan mentah-mentah. Sederhananya, kita juga perlu ragu terhadap Rizal.

Jika Rizal mengganggap tindakan Prabowo adalah delusi yang berbahaya, maka bagaimana kita sebaiknya menilai sikap Rizal mengakui sendiri kerapuhan sangkaannya tetapi begitu yakin Prabowo berbahaya?

Yang pasti, dengan melangkah ke MK, Prabowo dan timnya dituntut untuk membuktikan semua tuduhan mereka selama ini yang sudah membuat gaduh.

Rizal kemudian menyentil soal karakter Prabowo. “Dia impulsif, cepat marah, dan tidak sportif. … Dia tidak mau menerima kekalahan dengan besar hati—malah sebaliknya, dia kalap serta menuduh orang lain berbuat curang.”

Pertanyaannya, apa sebenarnya hal yang paling mengganggu dari karakter Prabowo ini? Saya kira jawabannya terletak pada sikap Prabowo yang menolak untuk cepat mengalah dan mengangkat wacana kercurangan.

Apa yang salah? Soal menolak kalah, bukankah pemilu memberi ruang pilihan tersebut dan mekanisme penyelesaian untuk itu? Lagi pula, selesainya rekapitulasi suara di tingkat nasional memang belum mengakhiri rangkaian pilpres, bukan?

Soal isu kecurangan, bukankah narasi ini terbilang masih normal selama tahapan pilpres masih berlangsung?

Menurut hemat saya, lebih baik kita mendudukkan fenomena politik yang cukup berisik ini sebagai preseden yang bersifat korektif bagi optimalisasi pemilu yang akan datang. Kita semua mengharapkan jiwa besar para elite untuk mengakui kekalahan. 

Pada saat yang sama, mari kita terus mendorong penyelenggaraan pemilu yang makin memperkecil narasai-narasi yang serupa untuk melenggang bebas. Salah satu caranya ialah dengan memperbaiki mutu pemilu agar tidak merepetisi kekurangan dan kesalahan yang sama.

Rizal melanjutkan bahwa kelemahan karakter Prabowo didukung oleh keresahan publik. Hasilnya adalah prahara pada beberapa hari yang lalu.

Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana telaah hubungan kausal antara karakter Prabowo dengan kericuhan di Jakarta itu? Ada potongan-potongan puzzle yang perlu disatukan sebelum melompat ke soal aksi di ibu kota, taksir saya.

Barangkali, ada faktor atau “variabel ketiga” yang sebaiknya kita pertimbangkan. Atau jangan-jangan upaya destabilisasi di Jakarta itu perlu dilihat beyond the election. Agar, kita tidak terjebak lagi dalam tuding-menuding “01” ke “02” atau sebaliknya.

Tidak ada salahnya kita cermat untuk tahu when to stop pushing demi kebaikan bersama.


Persoalan “karakter” juga, menurut saya, harus diminimalisasi. Cukup mudah menemukan kritik yang menyasar karakter seseorang maupun kelompok. Misalnya, Prabowo itu karakternya buruk atau Jokowi itu orangnya pengecut. Kubu sana wataknya perusak, kubu itu bengis, dan sebagainya.

Kita perlu menanggalkan dis-positional attributions. Menyimpulkan suatu perilaku politik yang tidak sesuai selera kita sebagai akibat dari tekornya daya psikologis seseorang atau kelompok. Simpulan prematur yang seperti itu justru bisa mendorong seseorang atau kelompok untuk betul-betul berlaku destruktif.

Other people’s failures are just that: other people’s failures. Nasihat dari Jason Fried dan David Heinemeier perlu kita renungkan.

Barangkali ada kekeliruan, tetapi jangan gegabah untuk mendemonisasi orang lain. Apalagi, ini politik. Nothing personal.

Saat ini, yang paling penting adalah bagaimana semua pihak bisa bertegur sapa, duduk bersama, dan berbincang mencari kebaikan bagi semua.

Saya menunggu peran lebih dari seorang Rizal Mallarangeng. Sebagai seorang tokoh, Rizal punya social capital yang memadai untuk merajut kembali soliditas anak-anak bangsa. Terlebih dari itu, Rizal bisa memberikan edukasi politik bagi generasi berikutnya agar membangun tradisi berpolitik yang senantiasa menerangi perjalanan Indonesia ke depan.

Dalam bagian akhir tulisannya, Rizal optimis: “Kemungkinan untuk berbuat baik harus tetap terbuka pada siapa saja, termasuk pada Prabowo.”

Kita patut mendukung optimisme Rizal. Bukan begitu?

Artikel Terkait