1 tahun lalu · 108 view · 4 min baca · Cerpen 76485_59696.jpg
www.entrepreneur.com

Sepak Terjang Anca Lambaka

Anca Lambaka baru saja lulus dari sebuah universitas ternama di Amerika. “Dia telah menambah nama belakangnya dengan gelar pi-ets-di,” demikian orang tuanya mengatakan kepada tetangga-tetangga mereka. 

Sementara itu, Rohiye yang hanya lulusan SD, menyebarkan informasi kepada tetangga yang lain lagi bahwa Anca Lambaka kini sudah menjadi anak yang durhaka.

“Anca sudah malu mungkin memakai nama belakangnya.”

“Ah, mana mungkin. Buktinya dia tetap mencantumkan nama belakangnya kan?”

“Bisa saja, dia menambahkan nama itu, supaya terkesan keren.”

“Kalau begitu, saya juga mau.”

“Kamu juga mau jadi anak durhaka?”

“Tidak mau!”

Demikianlah cerita mengenai Anca Lambaka telah menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk diperbincangkan orang sekampung. Hampir di semua warung kopi, para pengunjung selalu membahas mengenai sosok Anca Lambaka. 

Bahkan, Ibu Yashika istri Pak RT, ternyata ikut-ikutan warga kampung untuk membahas mengenai hal ini. Pak RT terkadang harus mencari-cari Ibu Yashika ke rumah tetangga, yang juga senang membahas tentang Anca Lambaka dan kedurhakaannya.

Akhirnya, desas-desus mengenai kedurhakaan Anca Lambaka, sampai juga di telinga Anca. Awalnya, dia sangat marah. Tetapi, setelah merenung beberapa waktu, Anca menyadari bahwa orang kampung memang tak bisa disalahkan. 

Mereka sama sekali tak mengetahui bahwa nama belakang itu adalah gelar akademik. Seseorang harus belajar dan menyelesaikan sebuah tulisan serta diuji, baru bisa memakai gelar tersebut di belakang namanya. Anca berniat untuk menyudahi desas-desus tersebut.

Kesempatan itu akhirnya datang juga. Dalam sebuah acara tahunan, Pak Karmin yang adalah tokoh yang sangat dihormati, memberikan kesempatan kepada Anca Lambaka untuk berbicara. Kesempatan itu, tidak disia-siakan oleh Anca Lambaka. 

Anca, dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana, memberikan konfirmasi akan desas-desus yang beredar di kampung mengenai dirinya. Sebagian pendengar mengerti pada saat itu juga. Tetapi, beberapa baru mengerti setelah dijelaskan berulang kali oleh mereka yang sudah cukup mengerti.

Dua bulan waktu berlalu. Desas-desus mengenai Anca Lambaka kini sudah tidak terdengar lagi. Anca Lambaka juga sudah tidak lagi tinggal di kampung. “Dia itu kuliahnya di Amerika Serikat. Sangat rugi sekali, jika dia hanya tinggal di kampung. Tidak ada pekerjaan yang baik untuknya. Dia lebih cocok di Jakarta.”

Begitulah jawaban Ayah Anca Lambaka jika ada saja orang yang menanyakan Anca Lambaka. Pak Paimin Lambaka yang adalah Ayah Anca, sebenarnya sangat senang jika ada yang bertanya mengenai anak kesayangannya itu. Biar sekalian orang-orang juga tahu kalau anaknya kuliahnya di Amerika.

Bukan Anca Lambaka jika tidak dipenuhi dengan desas-desus. Sepertinya, Anca memang diktadirkan untuk jadi bahan perbincangan orang-orang. Kali ini, bukan hanya orang sekampung yang ikut membicarakan Anca. Tetapi, orang-orang di kampung sebelah juga ternyata membahas mengenai Anca Lambaka. Beruntungnya, kali ini, desas-desus yang beredar adalah hal yang sangat baik.

“Oh itu si Anca anak Paimin?”

“Iya. Dia kini sudah jadi orang penting. Padahal Paimin hanya seorang pekerja serabutan”

“Beruntungnya Paimin punya anak seperti dia.”

“Iya. Anaknya sekarang terkenal.”

Anca memang akhirnya menjadi orang yang sukses. Dia kini menjadi orang yang sangat penting. Pencapaian yang ia dapatkan sekarang, juga tak memerlukan waktu lama. Sehingga orang kampung menyebutnya sebagai “anak ajaib.” Tak jarang, ketika ada seorang yang melahirkan, jika anaknya laki-laki, langsung diberi nama Anca. Dengan harapan, anak tersebut bisa sukses juga seperti Anca Lambaka. 

Tidak perlu menunggu waktu lama pula, rumah orang tua Anca kini menjadi seperti istana. Rumah yang dahulu terlihat kumuh. Rumah itu pula, yang menjadi rumah pertama memiliki kolam renang di kampung itu.

Pada suatu malam, keluarga Anca Lambaka mengundang semua masyarakat kampung untuk makan dan nonton bersama. Maklum, pada malam itu akan ditayangkan secara langsung di sebuah acara televisi wawancara langsung dengan Anca Lambaka. Semua warga kampung senang. Bahkan beberapa keluarga sengaja tidak memasak, karena setelah makan mereka juga membungkus lagi makanan yang ada untuk dibawa pulang.

Sesaat saat acara televisi akan dimulai, Paimin mengajak orang yang hadir pada saat itu untuk mengangkat gelas. Sebelum minum, mereka perlu meneriakan kata “untuk Anca!” Semua yang hadir pada saat itu melakukan dengan senang dan gembira. Meskipun tidak menutup kemungkinan ada juga yang hanya berpura-pura, asal bisa makan dan minum gratis.

Meleset beberapa menit, akhirnya wawancara dengan Anca Lambaka dimulai. Tetapi, Paimin akhirnya kerepotan juga menenangkan suara-suara yang ribut. Kebanyakan orang bukannya mendengar tetapi malah sibuk berkomentar. Ada yang bersiul dan bersorak kegirangan.

Ada juga yang melempar sandal jepitnya ke atas udara. Hanya Ibu Indri isteri Paimin yang duduk terharu dan menangis pelan-pelan ketika melihat anaknya di televisi. Malam itu menjadi malam yang istimewa bagi Paimin sekeluarga dan semua warga kampung. Tepat pukul 22.00 acar itu selesai. Orang-orang membubarkan diri.

Malam itu, semua orang tahu: Anca Lambaka adalah sosok yang baik dan menginspirasi.

*******

Di sebuah rumah yang juga sangat mewah di kota Jakarta, sesosok siluet seoarang lelaki perlahan terlihat bergerak menuju sebuah kamar. Lelaki tersebut hendak tidur. Dari wajahnya, lelaki tersebut terlihat lelah. Namun, lelaki tersebut tak lupa untuk berdoa sebelum tidur.

“Tuhan, ampuni dosa hamba-Mu di hari yang telah lalu dan juga di hari ini.”

Setelah berdoa, lelaki tersebut merenung sejenak. Saya hanya korupsi sedikit, jika dibandingkan dengan Madoko, saya masih belum apa-apa. Selain itu, semua hasilnya saya pakai untuk menunjang semua keluarga. 

Keheningan malam cukup menjadi saksi cerita malam itu. Di sebuah kampung. Di sebuah rumah mewah di kota Jakarta.

Artikel Terkait