PSM (Makassar) akhirnya tetap kalah. Walau di antara para suporternya melantunkan takbir berulang kali. Begitu pula dengan shalawat yang juga dilafadzkan.

Bukan berarti bahwa takbir ataupun shalawat tak memenuhi bagian untuk urusan dunia. Hanya saja, segala penghambaan atau ibadah tak sematerialistis itu. Bahwa dalam bertakbir ataupun bershalawat bukannya untuk meraih kemenangan dalam sepak bola.

Ketika itu terjadi, maka kuat-kuatan takbir dan shalawatlah yang terjadi. Bukannya adu strategi, dan permainan tidak berada di lapangan hijau. Justru keriuhan suara yang mengemuka.

Kalau saja peran takbir dan shalawat yang wujud, maka kesebelasan Saudi Arabia tidak akan kalah dengan kebobolan 5 buah gol di perhelatan Piala Dunia Sepakbola 2018, pada pertandingan pertama grup A.

Bahkan dalam piala dunia 2021, kesebelasan Arab Saudi kalah telak, 0-8 dari Jerman. Walaupun mereka telah memenangi Piala Asia sebanyak tiga kali dalam tahun 1984, 1988, dan 1996. Ketika bertemu dengan kesebelasan dari benua lain, harus mengakui kekalahan.

Ibadat dalam pandangan Nurcholish Madjid (2008) adalah merupakan institusi iman. Bukan berarti bahwa soal sepakbola terpisah sama sekali dengan iman, tetapi secara praktis permainan sepak bola bukanlah ritual yang harus diiringi dengan takbir ataupun shalawat.

Ibadat, dalam kondisi ini akan menjadi sarana pelembagaan iman. Ataupun juga merupakan bingkai. Maka, laku yang terlaksana selain pada ritual tetap saja mendapatkan pola dari pelaksanaan ibadat.

Sebuah ibadat, sepenuhnya mendapatkan tuntunan baginda Rosul. Sehingga tidak serta merta diperlukan keduanya dalam pertandingan sepak bola.

Sebagai instrument, ibadah juga akan terlihat pada permainan sepak bola. Dimana memperlakukan lawan permainan sebagai kawan bermain. Bukan sebaliknya sebagai seorang musuh.

Iman yang abstrak, kemudian ibadat yang konkret, termanifestasi pula dalam bentuk amal saleh lainnya. Dimana antara iman dan amal saleh merupakan gandingan yang seiring. Hanya saja, dalam soal hasil, maka ada hukum alam yang mengiringinya.

Dimana bagi kesebelasan yang memainkan bola dengan latihan yang kerap, begitu pula bermain secara efektif. Tentu akan meraih kemenangan. Dengan catatan bahwa kesebelasan yang menjadi kawan tandingnya tidak lebih baik.

Kalaulah kawan tandingnya lebih baik, maka tentu saja akan mengalami kekalahan. Sebagus apapun organisasi permainanan yang dijalankannya.

Dalam sepakbola bukan hanya peran seorang pemain ataupun pelatih. Tetapi ada permainan bersama antara sebelas orang dengan pendampingan seorang pelatih. Begitu pula dengan keberadaan penonton yang kerap disebut sebagai pemain tambahan.

Namun, dalam kondisi pagebluk covid-19, penonton tidak lagi berada di sisi lapangan. Sehingga pemain sepakbola akan menjalani permainan tanpa mengalami tepukan dan sorakan penonton.

Juga, kemeriahan lain yang tidak tampak. Dimana tidak lagi ada nonton bareng (nobar). Walaupun begitu, AMPG Sulawesi Selatan tetap melaksanakan nobar. Pada kesempatan berikutnya, ini menuai pro dan kontra.

Dewi Fortuna, Penentu Keberuntungan?

Salah satu istilah yang kerap wujud dimana selalu ada asosiasi atas kekalahan ataupun kemenenagan dengan Dewi Fortuna. Bahwa kemenangan ataupun kekalahan semata-mata karena keberuntungan.

Sebagai percakapan media sosial ataupun obrolan warung kopi tetap saja itu sebuah fenomena. Namun, sesungguhnya variabel sepak bola yang utama dan pertama adalah pemain sepakbola itu sendiri.

Setidaknya penjelasan Afrizal (2018) bahwa otot tungkai pemain menjadi bagian dalam permainan untuk akurasi tendangan. Sementara Rahmad (2016) menyatakan bahwa kondisi kardiovaskuler pemain sepakbola akan menjadi penentu dalam kemampuan untuk terus berlari selama permainan berlangsung.

Senada dengan Maliki, Hadi, dan Royana (2017) bahwa kondisi fisik pemainlah yang menjadi penyokong berlangsungnya permainan untuk meraih kemenangan.

Aspek lainnya adalah emosional. Dannis (2013) mengemukakan bahwa emosi dan efikasi diri akan menentukan kecermatan tendangan ke gawang. Juga disampaikan Permadi (2016) bahwa paduan antara kemampuan fisik dan control emosi akan menjadi jalinan keterampilan dalam bermain sepakbola.

Dengan pelbagai penjelasan ini, maka sesungguhnya bukanlah Dewi Fortuna yang akan turun dari langit. Tetapi Latihan, dan persiapan dalam bermain sepakbola yang akan menjadi penentu. Adapun kaitan dengan Dewi Fortuna semata-mata sebagai penjelasan yang simpel sehingga permainan yang baru saja selesai, dapat dipahami. Selanjutnya, menanti permainan yang akan datang.

Sepakbola, di antara Kesalehan

Mohamed Salah, ketika bergabung di Liverpool dipuja sebagai perwakilan muslim. Dimana ada kerinduan untuk melihat pemain sepakbola muslim yang juga bermain di tingkat global.

Begitu pula dengan Ozil yang bermain di timnas sepakbola Jerman. Dimana mendapatkan penggemar tersendiri. Bukan saja karena kemampuan bermainnya, tetapi agama yang dianutnya, yaitu Islam.

Namun, bukan itu semata. Pemain sepakbola tidak terkait dengan keagamaannya. Ketika dia sebagai seorang muslim, maka secara tidak langsung akan menjadi “duta” bagi Islam. Bahwa seorang muslim juga memiliki kemahiran sepakbola yang mendunia.

Pada Piala Dunia 2002 yang dilaksanakan di Korea Selatan dan Jepang, kemampuan kesebelasan Turki membawa kebahagiaan bagi penggemarnya. Hanya saja, tentu lagi-lagi ini berkaitan dengan kemampuan untuk bermain. Bukan karena kesalehan individual ataupun praktik keberagamaan tertentu.

Ini dapat diartikan bahwa ubudiyah tidak ditujukan untuk sebuah aktivitas, termasuk sepakbola. Melainkan ibadat hanyalah ditujukan tak lain untuk Wujud Yang Mahatinggi.

Ibadat menjadi lambang pengagungan kepada Sang Khalik. Sekaligus sebuah pernyataan untuk menerima tuntutan moral-Nya.

Dalam setiap momentum ibadat, penghayatan akan kehadiran Allah menjadi usaha terbaik bagi seorang hamba. Maka, bukanlah soal kemenangan dalam sepakbola. Tetapi ibadat diantaranya merupakan peneguhan hati dan ketenangan jiwa (Nurchlosh Madjid, 2008) untuk melandasi hidup yang sering tidak gampang.