57424_26525.jpg
Foto: bola.kompas.com
Olahraga · 2 menit baca

Sepak Bola, Harapan, dan Campur Tangan Tuhan

Pada final Piala Dunia 2006, Fabio Groso, pemain yang ditunjuk sebagai eksekutor penentu drama adu penalti, dengan tenang mengarahkan bola ke sisi kiri kiper Perancis, Fabian Barthez. Eksekusi Groso membawa Italia juara Piala Dunia untuk yang kelima.

Bagi sebagian orang, mengeksekusi tendangan penalti dianggap sesuatu yang mudah. Tak heran, pemain yang mencetak gol lewat titik putih dianggap biasa, tak ada yang istimewa. Bahkan, mencetak gol lewat penalti dianggap ‘hanya’, yang tak memerlukan kemampuan luar biasa.

Padahal, mengeksekusi tendangan penalti tak semudah yang dibayangkan. Selain karena ketenangan, ada satu faktor penentu: keberuntungan. Nama besar tak menjamin eksekusi penalti akan berjalan sempurna. Banyak pemain besar yang gagal karena pada saat itu, ia tak dinaungi keberuntungan. Cristiano Ronaldo contohnya. Tak ada yang menyangka, jika eksekusi penaltinya dapat digagalkan kiper Iran, Alireza Beiranvand. Sekali lagi, dalam drama adu penalti, keberuntungan adalah kunci.

Sejatinya, adu penalti adalah beradu harapan untuk mendapatkan keberuntungan. Dan, keberuntungan bukanlah sesuatu yang dimiliki atau diberikan oleh manusia. Dalam keberuntungan, selalu ada campur tangan Tuhan. Maka, tak ada yang dapat menjamin bahwa tim atau pemain besar pasti mendapat keberuntungan. Karena keberutungan diberikan langsung oleh Tuhan, maka suka-suka Dia mau diberikan kepada siapa.

Sepak bola adalah bagian dari drama, termasuk adu penalti tentunya. Dalam drama, logika dan hukum sebab-akibat bukanlah tolok ukur yang utama. Banyak laga dalam sepak bola yang membuat logika manusia tak berdaya. Tim, yang secara logika harusnya memenangkan pertandingan, akhirnya harus kalah karena tak dinaungi keberuntungan. contohnya, Jerman.

Dalam drama sepak bola, selalu ada kejutan hingga akhir laga. Tak ada drama yang datar-datar saja. Laiknya drama yang dipertontonkan, sepak bola selalu membuat penikmatnya berada dalam ketidakpastian, setidaknya hingga pluit panjang dibunyikan. Percayalah, tak ada yang pasti dalam sepak bola. Sebab, satu-satunya kepastian dalam sepak bola, adalah ketidakpastian itu sendiri.

Sepak bola selalu memberi ruang  bagi siapa pun untuk berharap. Sepak bola juga memberi jaminan bahwa dalam setiap pertandingan, pasti selalu ada kemungkinan. Kemungkinan itulah yang disebut harapan. Bahwa, tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Dengan harapan dan keberuntungan yang diberikan oleh Tuhan, semuanya dapat terjadi. Kun fa Yakun.

Selain itu, sepak bola juga berbicara tentang kolektivitas permainan. Kemampuan individu memang penting. Walakin, kemampuan individu semata tak akan berpengaruh apa-apa apabila secara tim belum terbentuk kolektivitasnya. Ronaldo dan Messi adalah individu yang secara kemampuan di atas rata-rata pemain lain. Tapi lihatlah, terlalu bertumpu pada individu, akan membuat tim menjadi terbatas, dan secara otomatis tidak bebas. Pada akhirnya, di Piala Dunia, Portugal dan Argentina ibarat remahan rengginang yang ada di kaleng Khong Guan. Ada, tapi tak berarti apa-apa.

Perlu dipahami bahwa sepak bola juga mengajarkan untuk berpikir seimbang. Sepak bola tak mengajarkan untuk bersikap fatalistik; bahwa meski tim lemah tak boleh pasrah, apalagi sampai merasa sudah pasti kalah. Sepak bola juga tak mengajarkan untuk jumawa; meski dihuni pemain kelas dunia, merasa sudah pasti juara. Menyeimbangkan antara harapan dan usaha adalah ajaran inti dalam sepak bola. Dalam doktrin Teologi Islam, cara berpikir demikian adalah jalan tengah antara Qadariah dan Jabariah, yang kemudian disebut Ahlussunnah wa al-Jamaah.