Salah satu hal dari sepakbola yang membuat saya sangat menyukainya adalah kedekatannya yang begitu intim dengan kemanusiaan. Meski ruang-gerak utamanya tidak berhubungan langsung dengan aktivitas-aktivitas kemanusiaan, sepakbola, dalam banyak kesempatan, justru memosisikan kemanusiaan sebagai sesuatu yang sangat penting, bahkan jauh lebih penting daripada dirinya sendiri. 

Katakanlah suatu hari seorang (mantan) pemain sepakbola meninggal dunia. Maka, di pertandingan-pertandingan sepakbola tak lama setelahnya, tepat sebelum kick-off, dilakukan terlebih dahulu moment of silence--selama satu menit para pemain dari kedua kesebelasan yang akan bertanding saling merangkul antarsesamanya dan mengheningkan cipta. 

Kadang aktivitas simbolik ini terasa emosional, mampu membangkitkan sisi mammalia kita, sifat afektif kita, dan kita jadi ikut bersedih dan merasa kehilangan. Moment of silence, dalam sepakbola, menarik kita (kembali) ke realitas dan menjaga kita tetap manusia.

Ambil contoh kematian Davide Astori, kapten kesebelasan Fiorentina, beberapa bulan yang lalu. Astori ditemukan meninggal dunia di kamar hotel tempat ia menginap, tak lama sebelum sisa-sisa pertandingan Liga Italia Serie A pekan itu dijadwalkan berlangsung. Fiorentina segera mengumumkan berita duka ini di laman resmi mereka, dan akibatnya: sisa-sisa pertandingan tersebut dibatalkan, ditunda ke hari yang lain; bahkan pertandingan antara Cagliari vs Genoa dibatalkan beberapa menit saja sebelum kick-off

Di pertandingan-pertandingan di liga-liga lainnya di Eropa, yang tetap dilangsungkan, moment of silence dilakukan sebagai simbol dukacita sekaligus penghormatan untuk Astori, keluarganya, juga orang-orang terdekatnya.           

Lebih dari itu, moment of silence dalam sepakbola juga dilakukan untuk tragedi-tragedi kemanusiaan lain yang, bisa dibilang, sama sekali tidak terkait dengan sepakbola. Misalnya, untuk para korban serangan teroris di London pada Juni 2017. Atau, untuk para korban serangan teroris di Paris pada November 2015. 

Dalam hal ini tradisi tersebut ditujukan juga untuk mengecam aksi-aksi tidak manusiawi itu; juga, mendesak kita untuk peduli pada nasib buruk yang dialami manusia-manusia lain di belahan-belahan dunia lain. Moment of silence, sekali lagi, menarik kita (kembali) ke realitas dan menjaga kita tetap manusia.

Nilai-Nilai Kemanusiaan sebagai Rem         

Tetapi tentu sepakbola juga memiliki sisi negatif. Dalam sebuah pertandingan derby yang mempertemukan dua klub dengan rivalitas yang tinggi, misalnya, seringkali perseteruan meruncing drastis di lapangan, dan sebagian suporter ikut terpancing emosinya, dan terucaplah kata-kata kasar-nan-menyakitkan yang ditujukan untuk menyerang dan merendahkan lawan. Ini pernah terjadi musim lalu di sepakbola Spanyol. 

Di pertandingan leg pertama Espanyol vs Barcelona di Copa del Rey, sebagian suporter Espanyol melontarkan cacian dan makian kepada Gerard Pique dan keluarganya di sepanjang pertandingan. Mereka, misalnya, mengatakan bahwa Shakira, istri Pique, adalah seorang pelacur.

Di sini fanatisme saya kira berperan besar. Para suporter Espanyol itu tentulah sangat mencintai klub yang mereka dukung, dan rasa cinta ini sanggup mendorong mereka melakukan apa pun untuk menekan lawan, meski itu jauh dari sportivitas dan nilai-nilai kemanusiaan. 

Tetapi fanatisme tentu tidak bekerja sendiri. Ia, misalnya, berjalan beriringan dengan industri sepakbola, dengan sistem kapitalis yang menggerakkan industri ini. Bagaimanapun sebuah klub sepakbola diuntungkan secara finansial dengan kuatnya fanatisme yang ada di diri para suporter mereka.

Lalu bisakah kita memisahkan keduanya, mengenyahkan fanatisme dari sepakbola? Bisa jadi tidak, sebab itu sama saja dengan mematikan sepakbola itu sendiri. 

Selain itu, ketiadaan fanatisme pun bisa mengurangi secara signifikan gairah dan magnet dari sepakbola, sesuatu yang tentunya tidak diinginkan para pecinta sepakbola. Maka yang paling mungkin kita lakukan adalah memberi batasan pada fanatisme itu. Misalnya, di ruang-ruang atau momen-momen seperti apa saja fanatisme itu dibolehkan dan dibiarkan tumbuh, dan di ruang-ruang atau momen-momen seperti apa saja ia tidak boleh ada.

Bisa juga, batasan itu kita tanam di dalam diri fanatisme itu sendiri, sebagai rem, sehingga fanatisme itu adalah fanatisme yang terkendali. Contoh: kita membiarkan fanatisme tumbuh tetapi menanamkan di dalam dirinya nilai-nilai kemanusiaan. 

Dengan begitu, meski seorang suporter mengidentifikasi dirinya sebagai pendukung fanatik klub tertentu, tidak akan ia menyelami fanatismenya itu hingga ke tahap di mana apa yang dilakukannya justru bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan, mestilah, akan diposisikannya jauh lebih tinggi daripada fanatismenya itu.

Di Indonesia sendiri, agaknya, fanatisme dalam sepakbola masihlah jauh dari situasi ideal tersebut. Rivalitas, salah satu buah dari fanatisme, dipelihara dan dikondisikan agar terus tumbuh dan menguat, terutama di diri para suporter, dan sayangnya seperti dibiarkan begitu dominan dan minim asupan kemanusiaan sehingga ia, pada waktu-waktu tertentu, bisa dibilang tak memiliki rem; ia menjelma menjadi fanatisme yang seakan-akan tak mungkin bisa dikendalikan. 

Contoh konkretnya adalah yang baru-baru ini terjadi: meninggalnya Haringga Sirla, seorang jakmania—suporter Persija—berusia 23 tahun, setelah dikeroyok dan dianiaya beberapa bobotoh—suporter Persib—di area parkir gerbang biru Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GLBA). Tindakan tak manusiawi ini, terjadi, sebelum pertandingan Persib vs Persija hari itu dimulai..

Sepakbola dan Kerja-Kerja Kemanusiaan

Dalam tujuh tahun terakhir, “mewarnai” rivalitas Persib dan Persija, telah jatuh tujuh korban jiwa di pihak suporter—empat orang bobotoh, tiga orang jakmania. Ini bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dicatat. 

Rivalitas dalam cabang olahraga seperti sepakbola, setinggi apa pun tensinya, mestilah tidak sampai menyebabkan hilangnya nyawa seorang suporter dari pihak mana pun, sebab rivalitas yang sesungguhnya mestilah dibarengi dengan sportivitas; dengan cara inilah sepakbola menghibur kita dan menjadi salah satu cabang olahraga paling digemari di dunia. 

Dengan meninggalnya tujuh orang suporter itu, sepakbola seolah-olah telah bertansformasi menjadi semacam ideologi dalam warnanya yang hitam-kelam; sebuah ideologi yang ketika dipadukan dengan fanatisme mampu mendorong para penganutnya menjadi manusia-manusia tanpa hati, menjadi sosok-sosok yang membiarkan diri reptil mereka, sisi agresif mereka, muncul menjadi yang dominan dan menyetir mereka, menjerumuskan mereka, merusak mereka, membuat mereka lupa bahwa menikmati sepakbola adalah sebuah aktivitas bersenang-senang, bukan bergarang-garang apalagi perang. 

Dan meninggalnya Haringga, tak pelak lagi, adalah alarm kuat bagi kita, khususnya para pelaku sepakbola di tanah air tercinta ini, bahwa masih ada sesuatu yang sangat salah dalam sistem yang menggerakkan industri sepakbola kita ini. 

Misalnya, bagaimana bisa pertandingan tersebut tetap dilangsungkan padahal seseorang di lingkungan stadion mengalami pengeroyokan dan meninggal dunia sebelum jadwal kick-off, seolah-olah pengeroyokan dan meninggalnya seseorang ini tidaklah lebih penting daripada pertandingan itu sendiri? Bandingkan, misalnya, dengan kasus meninggalnya Davide Astori tadi.

Tentu kita sepakat bahwa sesuatu semacam ini tidak boleh terjadi lagi di masa depan, seperti apa pun rivalitas yang mewarnai dua klub yang akan bertanding. Dan untuk itu, para suporter sepakbola di negeri ini—baik itu bobotoh, jakmania, ataupun yang lainnya—harus diarahkan untuk menyikapi fanatisme secara dewasa; mereka harus menyadari betul bahwa nyawa seseorang jauh lebih berharga ketimbang fanatisme dan kegembiraan yang mungkin mereka peroleh dari menyelaminya. Jauh. Jauh lebih berharga daripada itu.

Dalam hal ini menjatuhkan hukuman (penjara) kepada para bobotoh yang terlibat dalam pengeroyokan dan pembunuhan Haringga Sirla, saya kira, barulah satu dari sekian banyak hal yang mesti dilakukan untuk mewujudkan itu. Hal lainnya, misalnya, adalah memberikan hukuman bagi klub yang didukung para bobotoh itu—Persib. Bagaimanapun Persib harus dipaksa bekerja lebih keras dalam mendidik para suporternya, menanamkan nilai-nilai kemanusiaan itu ke dalam fanatisme yang kadung dominan di dalam diri mereka. 

Persib, misalnya, bisa meniru apa yang kerap dilakukan klub-klub besar di Eropa seperti Barcelona, yang secara berkala melakukan kerja-kerja kemanusiaan dan mengajak para suporternya untuk ikut serta, terlibat, minimal secara pasif—merasakan kebahagiaan yang bangkit dari kerja-kerja kemanusiaan itu. Lewat pendekatan ini dengan sendirinya mereka akan memahami bahwa kemanusiaan jauhlah lebih penting daripada sepakbola, bahwa menjadi seorang manusia yang baik dan peduli jauh lebih berarti ketimbang menjadi seorang suporter yang fanatik. 

Més que un clubLebih dari sekadar klubItulah moto klub raksasa Catalan ini. Bahkan lewat motonya saja, yang salah satunya diwujudkan lewat kerja-kerja kemanusiaan tadi, Barcelona seperti secara eksplisit menunjukkan kepada para suporternya bahwa sepakbola sungguhlah bukan segala-galanya, tidak pernah segala-galanya, dan tidak akan pernah segala-galanya.

Dan memang semestinya sepakbola bukanlah segala-galanya. Di atas sepakbola, masih ada nyawa manusia yang jauh lebih berharga. Di atas sepakbola, masih ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus kita jaga.