Pelajar
1 minggu lalu · 54 view · 3 min baca menit baca · Agama 46345_80468.jpg

Seorang Ustaz dan Nasib Islam Kita

Seperti seorang yang sakit, yang diobati oleh orang biasa, tidak ahli dalam perihal medis, tentu bukan malah sembuh. Hasilnya justru akan lebih parah. Sakitnya bakal terus bertambah dan makin menderita. 

Untuk menyembuhkan penyakit, apa pun jenis penyakitnya, hendaknya kudu diserahkan kepada ahlinya, yaitu seorang dokter yang memang ahli dalam penyakit yang diderita pasien. Kalau asal cari orang untuk menyembukan penyakit, yakinlah penyakit itu akan bertahan lama singgah di tubuhnya. 

Demikian pula dalam perihal pemahaman agama Islam. Jika seseorang membutuhkan ajaran Islam  yang benar, tidak menyimpang, ia kudu mencari seorang ulama yang benar-benar ulama. Bukan ulama yang hanya berbekal belajar dari media sosial, apalagi berbekal dari 'katanya’. 

Kalau kita dapati ulama model beginian, sebaiknya jangan lanjutkan kajian kita. Segera tinggalkan. Kalau tetap lanjut, yakinlah pemahaman Islam kita akan lebih membelot dari jalan yang lurus. Apalagi jika ada seorang ulama yang meyakini bahwa hanya kita yang benar, yang lain salah. Tentu keyakinan seperti menuntut kita untuk tidak berpikir dua kali untuk menginggalkannya. 

Kejadian semacam ini sudah banyak meracuni sebagian orang yang mendalami Islam. Sebelum berniat mempelajari Islam, mestinya kita memilih dan menilai seorang ustaz, apakah yang ia sampaikan bertentangan dengan Islam itu sendiri atau tidak. Cara untuk mengetahui mana yang benar-benar ustaz, dan mana yang bukan, cukup mudah. 


Caranya begini, Islam adalah agama yang selalu menjunjung tinggi akan cinta dan perdamaian. Bahkan hampir semua agama seperti itu. Selain itu, Islam juga agama yang selalu memperhatikan hak-hak sesama manusia, tidak bertentangan dengam kemanusiaan, tidak pula keras terhadap sesama.

Sesuai yang dibawa Nabi Muhammad, Islam adalah rahmat bagi yang lain, bahkan rahmatnya meliputi alam semesta. Nah, jika kita melihat ada seorang ustaz yang mengaku ahli Islam, namun perilakunya tak sesuai dengan ajaran Islam yang mendamaikan itu, tentu harus kita pertanyakan, tidak lantas kita ikuti hanya karena ia pandai dalam berbicara. 

Bukankah ada sebuah hadis yang amat masyhur yang mengatakan bahwa ulama adalah pewaris nabi? Dari sini, kita memahami bahwa seorang ustaz atau ulama adalah representasi sebagai seorang pendakwah Islam.

Sebagaimana para Nabi, mestinya perbuatan dan ilmunya kudu sama sebagaimana para nabi. Kalau tidak sama, minimal mereka benar-benar mempraktikan apa yang dilakukan para nabi saat mendakwahkan ajarannya di tengah umat manusia kala itu. 

Sayangnya, di zaman sekarang, tak sedikit orang menilai seorang ustaz atau ulama hanya dengan menlihat followers Instagram-nya dan subscriber-nya di YouTube. Jika ustaz itu followers dan subscriber-nya sampai jutaan, tanpa tedeng aling-aling mereka langsung sami'na wa atha'na, mengikuti apa yang ia katakan. 

Padahal, kualitas bagus-tidaknya seorang ulama tak bisa kita tentukan lewat kuantitas pengikutnya di media sosial. Begitu pun sebaliknya, seorang ustaz yang justru pengikutnya di medsos sedikit, belum tentu kualitas keilmuannya rendah. Boleh jadi, ia lebih berkualitas ketimbang para ustaz yang pengikut di medsosnya jutaan. 

Yang jelas, untuk menentukan seorang ustaz sebagai guru dalam membimbing masalah keislaman kita, sebaiknya kita bandingkan dulu kualitas keilmuan dan akhlaknya. Caranya bisa dengan yang penulis katakan di atas, bisa juga dengan bertanya kepada teman-teman yang ilmu keislamannya kuat dan kokoh, mana ustaz yang layak diikuti dan mana yang tidak layak. 


Dengan menentukan seorang ustaz yang kualitas Islamnya tinggi, diikuti dengan akhlaknya yang sempurna, dan juga dengan ceramah yang meneduhkan, keislaman kita akan lebih dewasa dan tidak mudah menyalahkan orang lain, apalagi sampai mengafirkan. 

Itulah mengapa pentingnya mencari seorang ustaz yang berkualitas keilmuan dan akhlaknya, itu semata-mata agar keislaman kita tidak keliru. Sebagaimana seorang yang sakit, ia perlu dokter yang ahli agar penyakitnya tak tambah parah, dan tentu saja, mencegah dari kematian dini. 

Bukan apa-apa, bukan berarti kita melarang orang lain menyebarkan dakwah Islam. Sejatinya kita tidak melarang mereka, namun kita hanya berhati-hati bahwa agama Islam itu adalah cinta dan dipenuhi dengan kasih sayang. Maka jika ada orang yang mendakwahkan Islam dengan corak yang menyeramkan, keras dan terkesan menakutkan, buat apa kita mengikuti mereka?

Artikel Terkait