Di sebuah kota tinggal seorang laki-laki, namanya Hamdi Nasution. Ia menyewa kamar berukuran cukup lapang. Meski demikian, harga sewanya masih bisa ia jangkau. Bangunan tempat tinggal Hamdi adalah bekas rumah tua yang konon berdiri semenjak zaman Belanda tempo hari.

Selayaknya perantau lain, laki-laki bertubuh ramping asal Sumatra itu sedang bertaruh nasib. Nasib adalah dadu-dadu yang dikocok oleh tangan kekuasaan. Orang seperti Hamdi hanya bisa pasrah sambil sedikit usaha dan berharap agar hidupnya lebih baik kelak di kemudian hari. Hanya itu.

Hamdi adalah seorang pekerja keras. Biasanya ia tidur hanya 3-4 jam dalam sehari. Mentok-mentok paling beruntung cuma 6 jam waktu baginya memejamkan mata.

Selain jadi buruh di pabrik tekstil pinggir kota, separuh waktu lainnya ia gunakan untuk mengambil jam kerja malam menjadi kasir di sebuah pusat perbelanjaan, demi tambahan pundi-pundi uang.

Namun Pandemi Covid-19 membuatnya harus dirumahkan sementara. Tentu saja itu bahasa diplomatis. Dengan kata lain, Hamdi sudah kehilangan pekerjaannya. 

Pabrik itu sebenarnya tidak bangkrut, hanya saja pemiliknya tak mau ambil pusing. Roda perekonomian sedang macet. Tapi untunglah pesangon terakhirnya cukup untuk hidup barang sepekan dua pekan.

*****

Dalam satu waktu, Hamdi bisa memakai kacamata berbeda dalam memandang dunia. Pertama, baginya, dunia ini indah, karena itu sedikit memabukkan. Kedua, dunia ini kacau, carut-marut, dan serba buruk. Dua hal yang tumpang tindih itu ia terima sebagai satu kenyataan meski paradoks.

Kini di hadapannya ada layar tabung yang bekerja secara ajaib, persis berbentuk kotak. Manusia modern menamai benda itu televisi. Namun akhir-akhir ini, benda itu dibiarkan begitu saja bercokol di atas sebuah meja reot, hampir seperti barang rongsok hanya saja tampak sedikit dirawat.

Menurut sebagian orang, televisi adalah jendela dunia. Ia mengajak manusia melihat ruang yang lebih besar di luar tempat yang didiami.

Tapi, terakhir kali Hamdi menyalakan televisi dengan niat menyaksikan tayangan sepak bola, ia kapok. Bukan hiburan yang didapat, justru kenyataan pahit yang diterima. Stasiun televisi kini penuh dengan berita politik dan berita-berita soal wabah, sehingga bagi Hamdi televisi adalah dunia yang sempit, dan ia dibuat muak dan ia hampir saja rubuh.

Tak jauh dari televisi itu, ada jendela yang saban waktu sengaja Hamdi biarkan terbuka sedikit. Ketimbang menyaksikan omong kosong, akhirnya Hamdi lebih suka mengamati dunia luar yang apa adanya sambil  sesekali menundukkan wajah di muka jendela betulan. 

Dan kini, terhitung sejak pemerintah mengimbau untuk menjaga kontak fisik, Hamdi menyediakan waktu khusus untuk bermalas-malasan. Barangkali inilah saatnya mengasah kemampuan lamanya itu yang sudah terbengkalai.

Hamdi sebenarnya memang laki-laki pemalas, tapi uang dan bayangan tentang kesuksesan membuatnya jadi giat bekerja. Dan Pandemi datang sebagai masalah yang mau tidak mau harus Hamdi jalani.

****

Malas dan leyeh-leyeh tentu bukan tabiat baik, dan tidakkah hal-hal itu menjenuhkan juga. Hamdi butuh hiburan untuk mengusir kejenuhannya.

Setelah tak lagi menyalakan televisi, Hamdi beralih dan mulai menggunakan perangkat digital lebih sering. Sialnya, berita mengenai Pandemi Covid-19 selalu datang tak kenal waktu, bahkan lebih deras. 

Hamdi seakan terjebak dan melakukan hal yang sia-sia, menutup satu pintu tapi secara bersamaan membuka pintu yang lebih besar. Mematikan televisi tapi masih menyalakan gawai.

Hamdi tak habis pikir. Dalam situasi begini, setiap menyaksikan entah langsung atau lewat berita--perkumpulan yang meski hanya berjumlah ratusan, jujur ada semacam rasa khawatir. Tetapi kekhawatiran itu seperti hanya melayang di depan kepala Hamdi, tak pernah benar-benar bisa ia genggam dan rasakan seutuhnya.

Misalnya saja, di media sosial, ia pernah menyaksikan berita mengenai ratusan masyarakat yang memadati Taman Bungkul, dan berkumpulnya warga Banten di Pantai Carita. Imbauan social distancing atau yang belakangan diubah penyebutannya oleh pemerintah menjadi physical distancing, alih-alih dimanfaatkan untuk quality time bersama keluarga di rumah, justru dipakai liburan akhir pekan di keramaian, persis seperti sedang merayakan tanggal merah di hari-hari biasa.

Seakan tak peduli jumlah manusia yang dinyatakan positif kian melonjak. Kenyataan yang beredar di lapangan: itu semua belum cukup meningkatkan kewaspadaan Hamdi atau mungkin juga orang-orang pada umumnya. Sense of alert yang diharapkan timbul dalam situasi hari ini, justru belum sepenuhnya menjejak dalam tindak laku.

Situasi yang dilihat dan dialami hari ini mengingatkan Hamdi pada bait sajak Chairil Anwar, sayangnya tak cukup tepat untuk menggambarkan realitas: "Kita terapit. Kalaupun bisa bergerak, tak lebih dari mengisar setapak.

Lebih dari setapak, bahkan orang-orang itu, bagi Hamdi, terkesan lupa kalau sedang dalam kondisi on the way gawat. Atau mungkin mereka tidak sadar bahwa dunia pernah punya riwayat pandemi lain: HIV/AIDS, Ebola, Kolera, virus Influenza A (H3N2), dan SARS.

Dan semua pandemi tak satu pun berakhir baik. Dalam arti kata lain, pandemi bisa saja muncul sewaktu-waktu, dengan rupa yang berbeda, tapi seolah manusia tak pernah mau belajar.

Hamdi tidak tahu pasti, kapan ini semua akan berakhir yang jelas angka-angka terus bertambah. Dari hari ke hari, wabah ini merenggut nyawa orang lebih banyak.

Menyadari itu, adakalanya membuat Hamdi sedikit khawatir, sesekali marah kepada pemerintah, menyalahkan diri sendiri. Efek lainnya, merasa getir hingga batuk-batuk, pilek, sakit kepala, bahkan hampir mual. Semenjak kehilangan pekerjaan, Hamdi jadi agak sulit meregulasi emosinya.

****

Setelah menekan off pada tombol televisi, Hamdi lalu berpikir itu saja tak cukup, ia butuh sesuatu yang lebih. Pengangguran dan wabah adalah kombinasi yang pas. Ia benar-benar dibuat kelimpungan.

Akhirnya Hamdi menemukan cara dan jalan yang paling logis tentu saja adalah log out dari semua akun media sosialnya, dan memastikan diri untuk tidak sering-sering bolak-balik layar peramban. Sebab selama ini, Hamdi seolah dikendalikan oleh teknologi.

Hamdi merasa jauh lebih baik. Setidaknya ia tak lagi cemas berlebihan. Beberapa pekan terakhir, ia sama sekali tak menyalakan gawai dan televisinya. Terhadap dunia maya, ia bersikap bodoh amat. Sebuah pencapaian yang patut disyukuri.

Hamdi sibuk di depan jendela, dan ia merasa tenang. Tapi agaknya waktu merenggut paksa ketenangan itu. Tak ada angin tak ada api, tiba-tiba seorang kawan berkunjung ke kamarnya.

Kawannya itu punya obsesi untuk jadi wartawan. Hamdi tau karena mereka satu angkatan sewaktu sekolah menengah atas. Tapi uang tak mengizinkan kawannya itu berlabuh pada nasib yang baik. Sama halnya dengan Hamdi, kini ia bekerja jadi buruh pabrik tekstil, sebelum akhirnya mereka dihempaskan lagi oleh nasib.

Hamdi yang sedang menekuni hobi barunya di muka jendela itu kaget, tiba-tiba sudah ada kawannya disamping, dengan memperagakan gaya wartawan, sejurus kemudian ia diberondong pertanyaan, " Hamdi, dimana letak beda mudik dan pulang kampung."

Belum juga Hamdi menjawab, kawannya itu menambahi pertanyaan yang lain, " Tahun ini kau pulang kampung tidak, Ham jawab."

Ham mengernyitkan dahi, memasang raut muka tak mengenakan. Pertanda hidup kembali runyam. Ia kira kawannya itu cukup pintar menerjemahkan keadaan. Hamdi diam dan hanya itu.

"Sudah nonton berita. Ham, kau pasti tahu, kian hari pejabat-pejabat kita itu makin tidak jelas. Bagaimana menurutmu, Ham."

Hamdi mulai berpikir untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebetulnya kawannya itu paham betul atau minimal tau, Hamdi adalah orang yang begitu skeptis memandang hidup, setidaknya belakangan ini dan peristiwa politik yang bersilewaran di jagat maya berungkali menambah kekecewaannya.

"Aku lagi zikir dalam hati ini, jangan ganggu dulu, setan kau."

Nada suara Hamdi meninggi, baru kali itu ia tampak marah, barangkali kejenuhannya telah menumpuk dan sampai ke ujung ubun-ubun, setelah puasa bicara dari manusia sekian lama.

Sungguh, meski sambil marah tadinya Hamdi pikir itu jenis bercandaan yang paling standard. Sengaja ia pakai kata zikir, tapi yang tak ia sadari dan membuatnya bertanya-tanya heran, mengapa ada kata setan dibelakang kalimat.

Mendengar respon Hamdi yang seperti muntab, kawannya itu melengos begitu saja, lalu pergi tanpa pamit dan salam.

Demi menenangkan perasaan bersalahnya, sejam dua jam berlalu dari depan jendela Hamdi kemudian menelpon kawannya itu. Ini kali pertama ia menyalakan kembali gawainya. Notifikasi masuk berdesak-desakan. Ternyata kawannya itu mengirimkan pesan lumayan banyak. Baru Hamdi baca.

Di antara pesan-pesan itu, ada sebuah tautan ke YouTube, seorang wartawan perempuan dengan tatapan mata tajam menanyai pemimpin tertinggi di sebuah negara.

Aish, barangkali dari sinilah sumber pertanyaan kawannya tadi. Hamdi kemudian menelpon kawannya itu.

"Halo. Maaf tadi cuman bercanda, jangan ambil hati."

Telepon diangkat sebentar, tak lama setelah suara dari seberang selesai telepon kembali ditutup.

"Diam kau. Keparat. As*. Bajingan…."

Ucap kawan Hamdi dengan cepat, tanpa ragu dan dalam suasana hati yang tentu saja panas. Singkatnya, kawannya itu jengkel terhadap perlakuan Hamdi.

Hamdi bingung mengapa manusia jadi mudah marah karena hal-hal sepele. Tak mau ambil pusing, ia matikan kembali dan melempar dengan sembarang gawainya.

Dan melanjutkan hobi barunya : diam berjam-jam di muka jendela, sambil mengamati dunia luar. Masa-masa seperti ini, Hamdi pikir ia butuh banyak permenungan, dan harus mulai menghemat kata- kata.

Di tengah keruwetan hidup, dalam kepungan Pandemi Covid-19 begitulah cara Hamdi memperlakukan dunia.  Dan kita yang sedang membaca catatan ini, barangkali diminta untuk belajar. Belajar tentang apa pun.