Hari ini aku tidak sekolah. Teman-temanku juga tidak sekolah. Ini bukan hari libur. Jelas sekarang adalah hari Selasa.

Tapi sebuah rumah di dekat sekolahku sedang punya hajat. Semua guru yang sebagian besar berasal dari desaku sendiri, pastilah tidak enak jika tidak menghadiri acara hajatan itu. Jadi, sekolah libur tanpa komando. Semua penghuni sekolah, termasuk aku memahami hal itu.

Bulan Mulud adalah bulan yang memiliki hari libur tambahan paling banyak. Peringatan keliharan Nabi yang dijunjung di desaku tidak hanya dirayakan sekali di masjid saja, melainkan hampir di semua rumah. Terutama rumah orang-orang yang dipandang mampu secara ekonomi. Termasuk juga di rumahku.

Saat libur, aku jarang menghabiskan waktu di rumah. Sungai, sawah, kebun, dan hutan adalah tempat yang jauh lebih akrab denganku dari pada rumahku sendiri. Karena ayahku pergi memenuhi undangan tetangga, akulah yang hari ini pergi ke sawah. Di sana, aku bertemu dengan teman-teman seumuranku yang sedang melakukan pekerjaan yang sama, menggantikan orangtuanya bekerja di sawah.

Setelah pekerjaan membersihkan rumput usai, kami pergi ke sungai. Aku bersama ketiga temanku telah menyiapkan pancing dan pakan yang sengaja kami bawah dari rumah. Kami biasa duduk di tepi jembatan sampai berjam-jam. Lalu pulang dengan membawa sejumlah ikan untuk dimasak.

“Jul, apa kau besok akan masuk sekolah? Bu guru selalu menanyakanmu.”

“Mungkin, Mat. Jika aku tidak sedang malas. Lagipula, jika di sekolah hanya bermain-main kita bisa melakukannya di rumah. Tidak perlu jauh-jauh ke sekolah.”

Dia Rojul, temanku. Tapi anak-anak lebih suka memanggilnya Panjul. Sudah tiga minggu dia tidak ke sekolah. Jika ditanya mengapa, jawabannya selalu sama, “aku malas jika di sekolah hanya bermain-main saja. Lagi pula sekolah kita jauh, di atas bukit.”

Memang benar apa kata Panjul. Jarak sekolah dan rumahku saja sekitar dua kilometer. Apalagi rumah Panjul yang masih harus menyeberangi sungai dan menaiki bukit. Saat Panjul sudah berkata seperti itu, aku diam tak menaggapi.

***

Sekolahku masuk pukul 08.00 dan seharusnya pulang pukul 12.00. Tapi jam pertama dan jam terakhir adalah saat-saat di mana guruku sering tidak masuk. Jadi sebenarnya, tidak ada masalah jika kami datang terlambat atau pulang lebih dulu. Kami tidak akan dihukum.

Meskipun punya kesempatan untuk berangkat dan pulang sekolah sesuka hati, teman-teman sekelasku yang duduk di kelas tiga justru selalu berangkat lebih pagi. Aku berangkat pukul 06.30 bersama dengan dua anak yang tinggal tidak jauh dari rumahku.

Kami berangkat melalui jalan setapak menuju ke puncak bukit di mana sekolah kami berada. Sepanjang jalan yang kami lalui, tidak ada perumahan. Hanya pohon sengon yang sengaja ditanam untuk dipanen kayunya beberapa tahun kemudian. Jauh di bawah lembah yang terlihat dari jalan yang kami lalui, terdapat hamparan sawah dan kebun-kebun milik warga.

Meskipun terlihat luas, tapi hamparan sawah itu terdiri dari petak-petak sawah yang sangat kecil. Setiap keluarga biasanya memiliki sawah yang hasil panennya hanya cukup untuk makan sampai waktu panen berikutnya. Sungai di timur rumahku juga kelihatan jelas dari sini.

Bagi kami yang setiap hari hidup di atas gunung, pemandangan yang demikian ini sangatlah tidak menarik. Tapi mungkin menarik bagi orang-orang kota karena setiap Minggu, aku biasa melihat anak-anak muda datang dari jauh hanya untuk berfoto di jembatan gantung. Kami orang desa justru setiap sholat jum’at berdoa supaya jembatan gantung itu segera diganti dengan jembatan permanen.

Empat puluh menit kemudian aku sampai di sekolah. Tentu masih ada waktu yang cukup banyak untuk menunggu bel masuk tiba. Aku dan teman-temanku biasa menghabiskannya dengan bermain-main di lapangan. Permainan gerobak sodor adalah permainan favorit kami bulan ini. Bulan depan mungkin akan berganti lagi, karena memang begitu biasanya. Semua ikut bermain, kecuali anak-anak yang berangkat terlambat.

Setelah lelah bermain gerobak sodor, kami duduk-dusuk di teras sekolah, menunggu bel sambil megeringkan keringat. Aku lihat jam dinding di kantor yang tampak dari tempatku duduk menunjukkan pukul 07.50. Tak lama kemudian, datanglah pak Fajar, wali murid kelas empat dengan motor bebek bututnya. Beliau memang selalu datang paling pagi. Setidaknya jika dibandingkan dengan guru-guru yang lain.

Sepuluh menit berlalu tapi bel tidak kunjung dibunyikan. Aku lihat kembali jam dinding di kantor menunjukkan pukul 08.02. Baru satu orang guru yang datang, sementara kami ada enam kelas. Aku menghela nafas, lalu aku pandangi teman-temanku. Mereka terlihat biasa saja dengan kondisi semacam ini. Sebenarnya aku pun demikian. Tapi jika ingat perkataan Panjul tempo hari, aku merasa sekolah ini sangat sia-sia.

Sekitar pukul 08.15 bel dibunyikan oleh Pak Fajar. Tidak cukup hanya dengan bel, beliau juga berteriak-teriak agar kami cepat masuk ke kelas, “Masuk. Masuk. Ayo masuk.”

Tanpa menjawab teriakan dari Pak Fajar, kami semua langsung berlarian menuju ke kelas. Sesampai di kelas, kami berdoa. Ada yang serius berdoa, ada yang berdoa sambil becanda, ada pula yang tiduran malas di bangkunya. Setelah berdoa, kami keluar kelas lagi. Jika tidak ada guru yang masuk ke kelas kami, maka itu artinya pelajaran pertama adalah bermain.

Dari enam kelas yang ada, hanya kelas empat yang mendapatkan pelajaran di jam pertama pada hari itu. Gurunya tidak lain adalah pak Fajar. Dari depan kelasku, aku dapat melihat pak Fajar sedang menceramahi muridnya yang hanya tiga orang itu. Dua laki-laki dan satu perempuan. Sedikit memang, tapi itu lebih banyak dari pada kelas dua yang hanya berisi satu orang.

Kelasku sendiri ada lima siswa. Kelas dengan siswa paling banyak di sekolah ini. Dua anak laki-laki sedang bermain kejar-kejaran. Dua anak perempuan sedang menanam bunga di depan kelas. Dan aku sendiri, sedang berdiri memandangi mereka yang asyik bermain.

Setengah jam berlalu tanpa ada kegiatan apapun selain bermain. Dan keadaan seperti ini, dapat terjadi sepanjang hari sampai bel pulang dibunyikan atau kami pulang sendiri karena sudah lelah bermain.

Aku kemudian berjalan menuju ke parkiran motor. Melihat apakah ada guru lain yang datang selain pak Fajar. Ternyata ada empat motor lain selain milik wali kelas empat yang sedang mengajar itu. Salah satunya adalah motor milik wali kelasku, Pak Bambang. Aku lalu berbegegas menuju kantor.

Di ruang tamu yang terlihat jelas dari lapangan upacara, Pak Bambang dan tiga guru lain sedang asyik bercengkerama. Aku tahu betul, mereka seharusnya ada jadwal mengajar di jam pertama. Tapi entah mengapa tidak masuk kelas, mungkin sibuk, mungkin juga malas. Dengan berjalanan sangat hati-hati aku menghampiri mereka.

“Assalamualaikum.”

“Waalikum salam.”

“Pak Bambang hari ini masuk ke kelas, kah?”

“Oh iya, nak. Sebentar.” Jawab Pak Bambang sambil menyulut rokok yang sudah terlanjur di tangannya, lalu kembali bercengkrama dengan guru-guru yang lain.

Aku kembali ke kelas tanpa pikiran negatif apapun. Jawaban Pak Bambang tadi, aku artikan bahwa beliau akan masuk ke kelas mungkin setelah rokok yang sudah terlanjur ia sulut habis. Mungkin.

Sampai bel jam kedua berbunyi, Pak Bambang tidak kunjung masuk kelas. Bahkan sampai bel ketiga, keempat, lalu bel istirahat. Tidak ada guru yang masuk ke kelasku, kelas satu, kelas dua, kelas lima, dan juga kelas enam.

Saat bel istirahat berbunyi, semua anak berlarian. Ada yang menuju ke lapangan, ada juga yang menyerbu penjual pentol keliling yang merupakan satu-satunya pedagang di sekolahku. Aku sendiri menuju ke lapangan untuk bermain bola plastik.

Di lapangan, aku lihat lima orang guru sedang asyik bercengkerama di ruang tamu. Pak Bambang sendiri tidak berpindah tempat duduk. Tetap di posisi ketika beberapa jam yang lalu mengatakan kepadaku bahwa sebentar lagi akan masuk kelas.

Aku lihat teman-temanku tidak ada yang merisaukan hal itu. Mereka bahagia bisa bermain sepanjang waktu sekolah. Dan guru-guru itu mungkin juga bahagia bisa bercengkerama sepanjang jam kerja. Aku kembali teringat perkataan Panjul tempo hari. Dan baru pada hari itu, aku merasa sekolahku benar-benar sia-sia.

Aku tidak jadi ikut bermain. Aku kembali ke kelas untuk mengambil tas dan sepatu yang sejak jam pertama tadi aku lepas. Mulai besok, aku tidak akan pergi ke sekolah. Aku tidak takut tidak naik kelas, karena hal itu tidak mungkin terjadi padaku. Panjul saja tetap naik ke kelas lima meskipun selama di kelas empat dia hanya ikut ujian saja.

Begitu juga dengan beberapa kakak kelasku yang aku tahu mereka tidak pernah sekolah, tidak pernah ikut ulangan, tapi muncul ketika Ujian Nasional. Mereka lulus dengan nilai yang tidak jauh berbeda dari anak-anak lain yang berangkat sekolah setiap hari. Jadi, sekolah atau tidak sekolah, kami sama-sama bodoh.

Aku berjalanan keluar kelas dengan santai. Di sekolahku tidak ada satpam. Tidak ada pula guru piket yang akan mengahalangiku pulang sebelum waktunya. Tapi seorang guru yang baru saja keluar kantor menegurku.

“Mau ke mana, Mat?”

“Pulang dulu saya, Pak.”

“Oh iya, hati-hati.”

“Bapak sendiri mau ke mana?”

“Pulang juga. Mau bareng?”