84354_63334.jpg
Pixaby.com
Agama · 3 menit baca

Seolah-olah Tahu Pikiran Tuhan

Jadi santri benar dan benar-benar santri itu susah sekali, apalagi jadi santri yang pener (bijak), gak segampang jadi ustaz, apalagi ustaz-ustazan dan ustaz kondangan. 

Belakangan ini saya melihat dan membaca berita ada beberapa ustaz mengatakan bahwa ijtima' ulama merupakan representasi dari keinginan tuhan untuk menjadikan calon presiden dan wakil presiden atas pasangan PUAS (Prabowo, Abdul Shomad).

Dalam benak saya, ini ulama benaran apa ulama bentukan media melalui rekayasa sosial. Soalnya belakangan ini banyak kalangan yang menyublimasi dirinya sebagai ustaz dan sebagian yang lain menganggap sebuah prestisius tersendiri, dan bangga dengan model-model ustaz seperti itu.

Sebuah realitas semu dan realitas buatan untuk memenuhi target tertentu, meskipun harus mengangkangi sendi pokok dari objek material utama, yaitu posisi diri sebagai ustaz. Orang-orang seperti itu, eh maksudnya ustaz-ustaz seperti itu, tak lagi memperhatikan transendensi dan kedalaman sebuah ajaran yang didakwakan. Justru yang ada hanyalah permukaan fungsional dari komunikasi untuk menonjolkan seni pertunjukan (performance art).

Saat saya masih di pondok untuk belajar memahami agama yang benar, kuncinya itu harus berbekal ilmu agama dasar, seperti Nahwu, Sharaf, Ushul fiqh, Ilmu tafsir Quran, dan juga sering bergulat dengan berbagai diskusi tentang keislaman, berdiskusi tentang problematika umat menurut pandangan Islam. 

Dan itu tidak cukup ditempuh 3 atau 4 tahun saja. Mondok 3 tahun ibarat masih duduk di teras pondok belum masuk ke dalam langgar untuk ngaji. 4 tahun masih naik satu tangga dari tangga sebelumnya juga belum ngaji apa-apa, hakikatnya.

Untuk sampai pada titik pemahaman agama yang benar dan final, minimal belajar 10 tahun di pondok. Begitulah kira-kira pesan kiai saya dulu. Sepuluh tahun belajar tanpa dikurangi jatah nongkrong dan ngopi bareng sama temannya, tanpa ngakses internet dan bermedia sosial. Tapi terus-menerus berhadapan dan berkutat dengan kitab dan didiskusikan bersama dengan teman santri lainnya.

Bayangkan, untuk memahami ilmu nahwu saja sulitnya minta ampun. Sedangkan ilmu nahwu adalah alat untuk sampai pada pemahaman sebuah bacaan, baik bacaan tafsir, kitab fikih, dan tasawuf. 

Mendiskusikan ilmu nahwu pun sulit untuk menemukan kepastian hukumnya. Di dalam nahwu, segala bentuk kalimat dan lafadz dijelaskan begitu detail oleh pengarangnya, seperti kitab Jami' Uddurus (Karangan: Syaikh Musthofa Al_Ghalayini).

Sekalipun semua fungsi huruf beliau jelaskan dengan detail, namun untuk mencocokkan dengan redaksi bacaan kitab itu yang sulit. Sebab jika itu salah dalam mengambil faidah dari huruf tersebut, maka pemahaman bacaan akan salah juga, dan ini berbahaya. Inilah pentingnya memahami suatu bacaan tidak hanya dari tekstualnya saja namun harus dari kontekstualnya juga.

Para santri digembleng ilmu-ilmu alat dari subuh sampai malam selama 10 tahun, tiba-tiba orang-orang yang tak pernah mengalami gemblengan ini (yang hanya sekolah umum) muncul menjadi ustaz dan ulama berbekal ayat-ayat. Dan seenaknya memberikan dakwah yang apa adanya dan dirasa cocok dengan cara berpikirnya, tanpa melihat konteksnya

Maka dari itu, diperlukan suatu pemikiran yang matang dan komprehensif, agar pemahaman yang kita berikan tidak kaku dan membelenggu pihak lain. Padahal islam tidak sedemikian itu dalam konteks pemahamannya.

Intinya, kita harus membaca melampaui teks. Sama halnya kita membaca sesuatu sebagai manusia. Paham akan realitas kehidupan manusia, dan paham sepenuhnya dengan problem manusia. Bukan justru memperkeruh suasana kemanusiaan.

Jangan sampai kita melihat sesuatu seolah-olah paham dengan pikiran Tuhan. Paham dengan maksud Tuhan. Seolah-olah mewakili tuhan, wakil Tuhan masa kini. Sehingga lupa bahwa dirinya manusia yang hina dan serba salah.

Jika hal demikian terus dikedepankan, maka tidak menutup kemungkinan pesan keagamaan yang disampaikan tidak mempunyai kekuatan daya jangkau untuk menuntun orang kepada jalan kebaikan.

Quran dipegang dan dibaca, dipahami dalam tingkat "kedirian" yang seperti tahu pikiran Tuhan. Merasa mampu menghasilkan kesimpulan dan pengertian yang kebanyakan hanya mengandalkan satu keilmuan tanpa membandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain.

Kiranya, sangat penting buat kita untuk selalu berbenah diri, menjauhkan diri dari sok tau diri, dan selalu melibatkan manusia sebagai sarana komunikasi dalam memahami ajaran agama. Sudah terasa betul, bahwa memang banyak sekali orang yang hafal Alquran tapi senangnya mengkafir-kafirkan orang lain. Ini salah satu efek memahami ajaran agama tidak melibatkan manusia.

Jangan perkenalkan Allah lewat perkataan dan perbuatanan Kita yang kasar dan buruk. Sehingga akhirnya manusia bukannya dapat mengenal Allah dalam perspektif yang suci dan mulia, melainkan malah membuat pribadi-Nya dikenal sebagai sosok yang jauh dari sifat sabar, lemah lembut dan penuh kasih... 

Mari bersama-sama kita melakukan pencarian dalam proses menuju pengenalan akan Allah secara lebih mendalam dan benar sambil membagikan pemahaman Kita tentang Allah dengan cara yang baik dan benar. Wallahu a'lam bisshowab.