Representasi karakter perempuan dalam game online mobile legends cenderung bersifat hypersexsual. Citra hypersexsual ini dicirikan dengan bentuk tubuh langsing, payudara menonjol dan kaki yang panjang. Sensualitas karakter perempuan tersebut terdapat pada karakter Miya (Marksman), Rafaela (Support), Freya (Fighter) dan lain sebagainya.

Mobile legend sendiri merupakan game online bergerak berjenis MOBA. Game ini diproduksi dan diterbitkan oleh Moonton. Mobile legend termasuk jenis permainan bergenre fighting (pertarungan). Dimainkan dengan tujuan untuk menghancurkan basis musuh demi melindungi basis pemain. Biasanya, caranya dengan membuat jalan setapak.

Kepopuleran itu didukung dengan dimunculkannya karakter perempuan sebagai karakter utama. Umumnya, di dalam game online bergenre fighting, karakter perempuan di desain dengan memiliki kemampuan lincah dan gesit. Ditampilkan dengan bentuk tubuh atletis namun berkesan sensual.

Sensualitas karakter perempuan tidak hanya ada dalam game mobile legend saja. Sebetulnya itu hanya sebagian dari banyaknya game online yang menghadirkan karakter perempuan dengan citra sensual. Itulah mengapa, sensualitas karakter perempuan dianggap sebagai salah satu bentuk strategi pemasaran perusahaan game online.

Hari ini, Game online merupakan produk hiburan digital yang telah menjamur di masyarakat modern. Mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua, tidak ada yang tidak mengenal game online. Bahkan, peminat terbesar game online salah satunya adalah para remaja.

Bila menengok sejarah industri game, dulu diawali dengan kemunculan konsol ATARI di tahun 1975. Lalu berkembang dalam berbagai produk konsol game seperti Playstation dari Sony, XBOX dari Microsoft dan Wii dari Nintendon. Hingga sekarang game telah berkembang menjadi game online.

Umumnya game sendiri hanya bersifat hiburan. Namun, pada perkembangannya, game menjadi media yang banyak diselipkan pemikiran berupa ideology, propaganda, cerita sejarah dan lain sebagainya. Pemikiran itu lalu disampaikan menggunakan karakter pada geme tersebut.

Dietz peneliti yang telah banyak meneliti 33 macam game di tahun 1998 menemukan kajian penting.  Bahwa dalam hasil penelitiannya tentang game, karakter perempuan di sana hanya digambarkan sebagai sosok “damsel in distress” (gadis yang perlu diselamatkan dan sebagai objek seksual).

Dalam game online sendiri penggambaran terhadap karakter perempuan berubah menjadi sangat diskriminatif, tendensius bahkan subordinatif. Itu karena karakter perempuan dijadikan sebagai penambah daya tarik terhadap peminat game online. Tergambar jelas pada penggambaran tubuh yang seksi dengan dada besar dan pakaian minim.

Visualisasi karakter perempuan dalam game online umumnya ditampilkan secara sensual karena mayoritas penikmatnya adalah laki-laki. Desain karakter perempuan dengan berbagai bentuk fisiknya cenderung difungsikan untuk kenikmatan para lelaki. Salah satunya untuk merangsang hasrat seksual mereka.

Lebih parah lagi, adanya representasi perempuan seksi dalam game online dapat imajinasi tentang citra ideal perempuan atas laki-laki. Tak jarang para penikmatnya, disini adalah laki-laki, sering mengandaikan bahwa perempuan ideal itu sama seperti karakter perempuan dalam game online.

Menurut More, penggambaran tubuh ideal perempuan (Barbie culture) berawal dari kemunculan Barbie pada tahun 1951. Barbie culture menjelaskan bagaimana Barbie hidup dengan fantasi tubuh yang sempurna. Pada perkembangannya, tubuh Barbie menjadi acuan tubuh ideal para perempuan yang diciptakan oleh media massa.

Inilah kemudian media massa ikut memberi pemahaman kepada masyarakat mengenai tubuh ideal perempuan. Bahkan, penggambaran media massa atas tubuh seksi atau perempuan cantik memenuhi standart yang tidak realistis. Hal itu membuat para penikmat game mengimajinasikan bentuk standart perempuan melalui game online.

Standart perempuan inilah kemudian membentuk kesan sensualitas sensualitas pada game online Mobile Legends. Sensualitas sendiri merupakan tataran imajinasi seksual terhadap objek yang dilihatnya. Imajinasi tersebut muncul melalui pengamatan indra terhadap tubuh orang lain.

Lebih parah lagi bahwa ada seorang laki-laki begitu menggandrungi salah satu tokoh anime. Dirinya bahkan menjadikan tokoh anime tersebut menjadi ukuran untuk mengukur seberapa cantik perempuan. Hingga dirinya membeli boneka miniature yang memiliki rupa sama dengan karakter yang ada di anime.

Sungguh telah mengakar budaya patriarki yang ada di masyarakat. Rupanya hal ini berpengaruh terhadap segala aspek kehidupan. Salah satunya berpengaruh dalam perkembangan game online. Pengaruh budaya patriarki dalam game online ini terletak pada penggambaran karakter perempuan yang begitu sensual.

Penggambaran karakter perempuan yang begitu sensual, itu bahkan telah merebak di tiap-tiap game online. Dinikmati oleh setiap pecinta game, disini adalah laki-laki sebagai kaum yang mendominasi game online. Meskipun, pada perkembangan hari ini gamer perempuan tidak kalah banyak dengan gamer laki-laki.

Menurut Febriana yang telah melakukan penelitian atas isu penggambaran tampilan tubuh perempuan pada game online. Dia menyebutkan bahwa 99, 6% karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan tubuh langsing. Sisanya dengan presentase 0,4 % ditampilkan dengan bentuk tubuh yang gemuk.

Karakter perempuan dalam game online kebanyakan memiliki tipe tubuh hourglass (jam pasir) dengan presentase 85%. Hampir pula semua karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan pinggang yang ramping dengan presentase sebesar 96%. Adapun 93% karakter perempuan dalam game online ditampilkan dengan pinggul yang besar.

Yang sering kita amati bahwa sebagian karakter perempuan selalu ditampilkan dengan ukuran payudara besar, memiliki presentase 66,7 %. Lebih banyak karakter ditampilkan dengan warna kulit putih memiliki presentase sebesar 81,5% dan 18,5% ditampilkan dengan warna kulit yang coklat.

Itulah beberapa contoh citra atas perempuan dalam game online. Salah satunya yang terdapat pada game Mobile Legends. Begitulah perempuan, di dalam arus perkembangan media game online mereka ditampilkan untuk melayani imajinasi laki-laki. Bahkan, dalam media, perempuan hanya sebatas objek pemuas untuk para laki-laki.